SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Jumat, 23 Januari 2015

Karya 34 Dibukukan (Cerpen)

Cerita Sore Adik
 Karya : Faiz Deja Ramadhan
                 Sore di teras rumah yang sepi, hanya aku dan adikku yang duduk sambil membuka-buka majalah yang baru dibelinya tadi di tukang loper. Adikku nampak serius membaca, membolak-balik halaman mencari gambar yang menarik atau sekedar membaca cepat, cepat bukan untuk memahaminya. Tapi sekedar membaca saja. Aku sendiri sibuk dengan ponsel pintarku yang kuanggap lebih pintar dariku, aku masih kebingungan bagaimana mengoperasikannya. Menjadi pengasuh adik di sore ini terasa menyenangkan, jarang-jarang aku dapat berduaan dengan jagoan kecil ini.
“Kak, lihat deh ini. Katanya sebentar lagi mau puasa Kak?” Sambil menunjukkan artikel di majalahnya.
“Oh iya, memang satu minggu lagi puasa Dek. Kenapa? Adik mau puasa?.”
“Tapi aku belum kuat Kak.”
“Ya kan latihan dulu Dik, kakak dulu juga seperti Adik, penasaran puasa itu seperti apa lalu kakak tanya ke mama dan di jelasin terus disuruh latihan.”
“Oh gitu, coba aku baca dulu ya Kak, nanti aku tanya kalau belum tahu.”
Aku hanya tersenyum kecil melihat adikku yang satu ini semangat belajar. Usianya baru tujuh tahun, namun kemampuannya untuk membaca sudah terbilang mumpuni. Tak memerlukan waktu lama, adikku sudah menyelesaikan artikel yang dibacanya.
“Kak, ini apa maksudnya?” Sambil menunjukkan artikel yang dia baca.
Aku pun membaca dengan perlahan berusaha memahami kalimat demi kalimat yang tertuang dalam artikel tersebut.
“Oh itu istilah saja Dik, kalau dalam Bahasa Jawa latihan puasa itu disebut Puasa Bedug yang artinya puasa dibagi menjadi dua bagian, dari waktu sahur dan berbuka pada pukul dua belas siang lalu dilanjut puasa lagi hingga waktu Maghrib, kalau sudah kuat baru puasa seharian.”
“Jadi aku bisa Puasa Bedug kak?”.
“Bisa, namun harus sungguh-sungguh. Kalau sudah kuat ya tidak boleh Puasa Bedug lagi Dek. Adek pengen puasa?”
“Iya kak, mau latihan.”
“Bagus itu, ini coba baca artikel yang baru kakak buka!”
Aku memberikan ponselku, dibacanya artikel tentang manfaat puasa yang baru saja aku buka dari salah satu mesin pencari yang pintar. Dahinya mengkerut tanda sedang berkonsentrasi, kalau seperti itu dia tak dapat diganggu lagi, adikku sibuk menaik-turunkan layar untuk membaca artikel yang mungkin menarik baginya.
“Bagus kan artikelnya?”
“Nanti dulu, Kakak nih ganggu terus.”
Aku beranjak untuk mengambil minum, barangkali adikku lelah membaca artikel sepanjang itu.
“Sudah selesai belum? Ini kakak bawain minuman dingin. Mungkin saja haus baca artikel sepanjang itu.”
“Ih kakak itu ngeledek.”
“Banyak kan manfaat dari puasa Dik?”
“Iya kak, ini juga ditulis kalau puasa itu menyehatkan. Organ pencernaan istirahat untuk bekerja, karena kasihan setiap hari bahkan setiap menit organ itu harus bekerja ya kak?”
“Iya, makanya ada bulan puasa, agar organ pencernaan kita dapat istrirahat dalam sebulan penuh tentunya akan bekerja, namun tidak terporsir seperti biasanya.”
“Mengendalikan nafsu juga ya Kak?”
“Bener itu Dik, kan kalau puasa tidak boleh makan dan minum. Jadi ya harus menahan diri agar tidak tergoda Dik. Disamping itu tidak boleh marah-marah dan nakal, harus berlatih untuk menjadi anak yang baik.”
“Aku kan enggak bandel Kak.”
“Iya enggak bandel kok, tapi sering ngebentak mama kan? Itu enggak boleh, Adik harus belajar mengendalikannya.”
“Iya-iya Kak, eh tapi ini kok ada tulisan dapat merasakan penderitaan orang yang tidak mampu Kak?”
“Benar sekali, Adik pernah lihat kan anak-anak jalanan, pemulung dan nenek-nenek yang jual jamu yang biasa mama beli?”
“Iya Kak tahu!”
“Nah, belum tentu mereka dapat makan enak setiap hari seperti kita. Atau bahkan mereka hanya makan satu kali sehari, sedangkan kita dapat makan berkali kali kan Dik? Nah Allah maunya kita dapat merasakan apa yang mereka rasakan pula. Kalau kita tidak makan atau cuma makan sekali sehari kan laper ya Dik. Makanya kita harus menghargai mereka, kalau perlu membantunya. Karena dihadapan Allah kita semua itu sama.”
“Oh iya-iya tahu aku Kak. Besok aku mau ikut puasa ah. Tar bilang sama mama.”
“Tuh mama sudah pulang.”
Adikku berlari membukakan gerbang, dia nampak semangat menyambut mamanya.
                    
                     Setelah mobil terparkir, dia langsung menunggu di depan pintu dan mencium tangan mama. Membawakan belanjaan sambil bercerita heboh. Aku hanya tersenyum dari jauh sambil melihat mamah yang juga menatapku dengan senyum penuh tanya. Rasanya adikku sudah besar sehingga ingin mengetahui segala hal. Puasa, semoga aku dan adikku dapat menjalaninya dengan sempurna sehingga kami menjadi hamba Allah SWT yang disayangi.

Cerita ini adalah salah satu kontributor pada event "Cerpen Anak Religi" oleh Raditeens Publisher.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar