SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Minggu, 27 Juni 2010

CESIMA 's Drama (COSSTU Production)




Tumbuhkan Nasionalisme dengan Semangat Belajar

Di suatu sore saat Ucok, Euis dan Entong sedang dalam perjalanan menuju rumah Tejo untuk mengajak bermain. Akan tetapi mereka sudah bertemu Tejo lebih dulu di tengah perjalanan. Ucok pun langsung memanggil Tejo.

Ucok : "Bah itu dia si Tole Kencur ! Le kemari kau ! Ikut tak bermain bersama kami ? "
Tejo : "Woy ! Woh Ucok toh tentu aku ikut cok !" (datang menghampiri Ucok).

Lalu mereka pun duduk dan bermain bersama. Hingga tiba-tiba seseorang anak laki-laki berpakaian rapi dan membawa buku datang menghampiri mereka.

Euis : "Eleuh, eleuh ! Saha eta euy kasep pisan ?"
Entong : "Siape lo ? "
Aldy : "Hallo kenalkan, nama saya Aldy. Saya murid CESIMA school. "
Tejo : "Ooh, pantes toh ! Wong liat bajune apik."
Ucok : "Hey, Kau anak penjabat pasti. Teman-teman awas nanti kita ditangkap !"
Aldy : "Hey tunggu ! Justru aku ingin berteman dengan kalian."
Entong : "Ah boong lu mana mau orang kayak lu bertemen sama kite-kite."
Euis : " Tah iya bener, mana mau orang seperti kamu berteman sama orang seperti kami."
Aldy : "Tidak, aku serius ingin berteman dengan kalian."
Entong : " Kayaknya lo anak baek-baek deh. Mau gak lo ngajarin kite baca ama nulis."
Euis : "Tah eueuh bener kang Aldy. Hayu atuh ajari kita baca sama nulis."
Ucok : " Bah, betul juga itu. Ucok mau bisa baca sama nulis biar bisa mengusir penjajah-penjajah bau peda itu."
Tejo : "Iyo, Aku mesake karo mak'ku."
Aldy : "Iya, ayo aku siap kok !"
Euis : "Tapi dimana atuh ya, supaya kita teu kanyahoan ku para penjajah ?"
Ucok : " Bah, itu sih gampang Euis kita belajar di pojok lorong bawah tanah itu saja tak mungkin ada yang tahu kita disana. Cemana ?"
Entong : "Ide bagus tuh tapi lu bener kan gak boong ame kite-kite?'
Aldy : "Tidaklah, aku ingin berteman dengan kalian."
Euis : "Iya eueuh, geus lah, kalem weh akang kasep, nuhun ya."

Aldy pun pamit pulang begitu juga dengan Ucok dan teman-temannya yang pulang dengan perasaan tidak sabar menunngu hari esok.

Keesokan harinya di lorong bawah tanah Ucok dan teman-teman menunggu Aldy dan Tejo yang belum datang untuk belajar bersama.

Ucok : "Bah liat guru kita datang mak, jadilah kita belajar."
Euis : "Hush, gandeng akang, ini teh tempat rahasia."
Entong : "Et dah bukan guru kita entu mah, kompeni sssstttt !"

Lalu lewatlah dua orang penjajah tanpa melihat mereka bertiga.

Ucok : "Alamak, kemana guru kita ini lama kali dia?"
Entong : "Ape ditembak penjajah ya?"
Euis : "Hush, tong asal ngomong atuh."

Lalu Aldy dan Tejo pun datang.

Aldy : "Teman-teman maaf ya saya telat !"
Ucok : "Sungguh tak lama boy ! Karena semangat belajar ku datang menunggu satu tahun pun terasa satu detik. Hey, kau kencur kau mau jadi tukang kencur seperti mak mu apa? Belum apa-apa kau sudah terlambat. Payah kali lah kau !"
Entong : " Et dah Jawa."
Ucok : "Sungguh aku senang sekali karena aku bisa belajar. Terima kasih Aldy kau memang temanku."

Lalu mereka pun mulai belajar. Dan ini merupakan hari pertama mereka belajar. Ucok senang sekali bisa belajar karena impiannya bisa terwujudkan yaitu mengusir para penjajah.

Setelah mereka belajar cukup lama. Aldy berpamit pulang kepada teman-temannya.

Aldy : "Teman-teman rasanya belajarnya cukup sampai disini. Besok kalau ada bendera biru di pohon berarti kita dapat bertemu kembali jika tidak berarti kita tidak dapat bertemu."
Ucok : " Ya sudah selamat tinggal."
Aldy : "Selamat tinggal !"

Lalu mereka pun pulang kecuali Ucok dan Euis.

Ucok : "Euis, kau jangan pulang dulu lah." (mengagetkan Euis).
Euis : "Kenapa?"
Ucok : "Ucok punya sesuatu buat Euis."
Euis : "Iih si Akang mah sok bikin Euis deg-degan wae."

Lalu Ucok pun memberikan bunga kepada Euis.

Euis : "Nuhun nya Akang !"

Setelah Euis memegang bunga itu, lalu Ia melempar bunga itu.

Euis : "Iih akang geuleuh eta aya hileud na. "
Ucok : "Aduh yang benar saja Euis, mana mungkin abang Ucok seperti itu."
Euis : "Piraku Euis ngabohong mah, tah hileud sagede jengkol." (pergi meninggalkan Ucok).
Ucok : "Euis, Euis, aduh Euis ! " (memanggil Euis).

Ucok pun duduk termangu.

Keesokan harinya di lorong bawah tanah saat Ucok dan teman-teman melihat bendera di pohon.

Ucok : "Alamak, liat lah ada bendera di pohon, Ucok belajar lagi mak. Hore !"
Entong : "Et dah Ucok, emang lu pikir lu doang yang mau belajar. Kan kita belajar rame-rame."
Tejo : "Wes lah sakarep mu ayo kita belajar !"
Aldy : "Hey tunggu !" (Saat dia datang dan menghampiri Ucok dan teman-teman).
Euis : "Eh Kang Aldy."

Lalu mereka pun duduk di ruang bawah tanah yang gelap itu dan mereka belajar seperti kemarin.

Aldy : "Oh ya, teman-teman bagaimana kalau besok kalian main ke rumah ku ?"
Euis : "Ah, iraha Euis ngiring atuh nya ?"
Entong : "Ya udeh sekarang kita pulang aja yuk ! Besok jangan lupa siapain makanan yang banyak ye !"
Ucok : "Bah bagaimana kau ini, sopan kali kau, masa yang menyiapkan tuan rumah. Tapi menyiapkan yang banyak ya dy."
Aldy : " Iya Oke nanti aku siapkan!"
Tejo : "Opo mau tak bawain kencur ?"
Ucok : "Hei kau kencur ! Kencur saja lah hidup mu dikit-dikit kencur, kau mau guru kita bau tak sedap seperti mu apa ?"
Tejo, Entong & Aldy : "Ya sudah kita pulang ya !"
Ucok : "Hey neng Euis kenapa kau masih disini ?"
Euis : "Iya, Euis mau disini saja belajar sama Akang."
Ucok : "Jangan lah Euis nanti ketahuan penjajah dan mak mu mencari-cari lah."
Euis : "Gak mau, Euis mah sekali mau disini sama akang, tetap disini."
Ucok : "Alamak banyak omong kali lah kau. Sudah pulang sana."

Ucok pun berpindah tempat duduk dan menjauh dari Euis.
Euis pun merasa sedih.

Keesokan harinya Ucok dan kawan-kawan pergi ke rumah Aldy. Saat mereka berada di serambi rumah Aldy mereka sangat terkagum-kagum.

Ucok : "Alamak, besar sekali rumah mu dy, kau benar-benar anak pejabat pasti."
Euis : "Nya eueuh atuh kang, piraku ari ngabohong mah."
Tejo : "Kapan aku punya rumah sebesar ini yo?"
Entong : "Entar aje kalo lo dah punya pabrik kencur."
Aldy : "Hey teman-teman. Ayo masuk !"
Euis : "Tah si akang Euis suka pisan sama akang eh maksudnya sama rumah akang."
Ucok : "Bah, nanti kalau Ucok sudah besar, Ucok belikan rumah sebesar ini untuk Eneng Euis nya Ucok."
Euis : " Eleuh amin atuh kang."
Entong : "Hey, et dah berisik lu pada !"
Aldy : "Hey, oh ya ! Kalian tahu gak tari Jaipong dari Jawa Barat?"
Euis : "Tah eueuh, mak teh pernah bilang tapi Euis gak tau tarinya kaya gimana?"
Ucok : "Memangnya siapa yang bisa menari ?"
Aldy : "Kakak saya bisa Cok, kamu mau lihat ?"
Tejo : "Cepet aku arep delo !"
Kakak Aldy pun datang.

Ucok : "Alamak, ternyata kakak mu cantik sekali, pintar kali dia memikat hati orang."
Euis : "Ih, itu mah biasa atuh Kang, Euis juga bisa. Cantik kan mana dia sama Euis ?"
Ucok : "Tetap lebih cantik kau lah, manis."
Tejo : "Ayune jangan bertengkar saja !"
Entong : "Et dah kalau gini carany hilang dah laper aye."

Kakak Euis pun menari Jaipong.
Dari kejauhan terdengarlah suara ayah Aldy bersama dua orang tamunya dari Belanda.

Ayah Aldy : "Come On Sir, She is my daughter !"
Aldy : "Gawat teman-teman ada teman ayahku dari Belanda. Untuk menyelamatkan diri sebaiknya kalian pulang sekarang !"
Euis : "Hayu buru atuh !"

Keesokan harinya mereka pun pergi untuk melihat bendera biru di pohon.

Entong : "Heh pada liat tuh, gak ada bendera di pohon !"
Tejo : "Jangan-jangan kemarin dia ketahuan bapaknya jadi ndak boleh ngajarin kita lagi."
Ucok : " Bah betul juga, apa kita susul saja kerumahnya?"
Euis : "Duh jangan atuh Kang, kita tunggu saja sampai besok upami isukan masih teu aya keneh baru kita susul ke rumah Kang Aldy."
Ucok : "Terima kasih sekali dek kau sudah membuat abang semangat menunggu."
Tejo : " Wes lah muleh ayo !"

Tejo dan Entong pun pulang. Ucok masih terlihat murung.

Euis : "Udah lah Kang tong dipikiran wae engke bisi stres. Upami isukan kang Aldy teu datang deui kita samperin tah kerumahnya."

Ucok pun tersenyum. Ucok dan Euis pun pulang.

Keesokan harinya dirumah Ucok. Ucok sedang merenung karena Aldy sudah dua hari tidak mengajarkannya.

Ibu Ucok : "Bah ! Kenapa kau Cok, Wajah mu tak sedap sekali dipandang?"
Ucok : "Mak sudah dua hari guru Ucok tak datang. Ucok mau bisa baca dan menulis."
Ibu Ucok : "Sudah tak usah bertingkah untuk membaca dan menulis. Kita ikuti saja jalan hidup kita."
Ucok : "Tidak Mak enak saja penjajah-penjajah itu. Aku kasihan melihat bangsaku diperlakukan seenaknya."
Ibu Ucok : "Susah juga ternyata punya anak berhati baja." (bernyanyi).
Entong, Euis dan Tejo : " Ucoooookkkk !" (memanggil dari luar rumah).
Ibu Ucok : "Ya sudah mak doakan. Sana kau pergi main dan jaga dirimu baik-baik !"
Euis : " Kang Ucok hayu atuh kita kerumah Kang Aldy !"
Ucok : "Ayo !"

Sesampainya mereka di rumah Aldy. Terlihat Aldy dan ayahnya sedang bertengkar di serambi depan.

Aldy : Pokoknya Aldy tetap mau mengajari mereka Pak !"
Ayah Aldy : "Kamu tahu tidak, bangsa kita sedang dijajah tidak semua hal yang bisa kita lakukan, kita lakukan."
Aldy : "Kalau seperti itu caranya apa bedanya bapak dengan penjajah-penjajah itu ?"
Ayah Aldy : "Ternyata itu yang mereka ajari pada kamu Aldy !"

Dari halaman rumah.

Ucok : "Bah liat itu, jahat kali bapaknya Aldy, belum tahu siapa aku dia, kalau aku bisa bela diri."
Euis : "Dih jangan akang, ulah disamperkeun nanti kanyahoeun."
Tejo : "Kalem wae, aku bawa kencur."
Entong : "Akhirnya kencur lo berguna juga gak buat badan lo bau aja."

Ucok pun menghampiri Aldy dan ayahnya.

Ayah Aldy : "Oh ini anak yang sok mau belajar."
Ucok : "Hei kau , aku mau belajar, bangsa ku sedang dijajah !"
Ayah Aldy : "Dasar kampung miskin, tahu apa kau soal bangsa !"
Ucok : "Ucok mau bisa baca, Ucok mau bisa nulis, Ucok tak sampai hati melihat Tejo bau kencur dan Mak ku diperlakuakan tak selayaknya."

Lalu Ayah Aldy pun mengambil senapan yang ada di dekatnya.

Aldy : "Jangan Pak !"

Euis, Entong dan Tejo menghampiri Ucok.

Euis : "Kang hayu atuh kita pulang weh !"
Tejo : "Wes lah muleh ayo !"
Entong : "Tejo lempar kencur mu !"
Tejo : "Iyo se se tak kodok saku ku dulu."
Entong : " Jo entaran aje !"
Ucok : "Hei temanku jangan lah kalian takut untuk terus belajar demi kemerdekaan bangsa kita. Kalau kalian benar-benar temanku teruskanlah perjuangan ku !"
Ayah Aldy : "Jangan sok jadi pahlawan kamu, memang kamu berani apa?"
Ucok : "Aku berani mati, tembak saja aku kalau berani. Tembak, tembak !"

Ayah Aldy pun menembak Ucok.
Ibu Ucok pun datang dan menampar serta mendorong ayah Aldy sampai jatuh.

Entong, Euis, Tejo dan Ibu Ucok pun berteriak : "Ucoooooooooooooooookkk !"
Entong : "Dasar jahat lu maen tembak-tembak sembarangan. Lu yang pantes mati tahu."
Ucok : "Hey kalau kalian semua temanku teruskanlah perjuanganku. Terutama kau kencur walaupun kau bau tak sedap seperti kencur tapi aku yakin kau bisa berjuang demi bangsa kita."
Tejo : "Ucok jangan mati dulu. Sampeyan belum lihat aku punya kebun kencur."
Ucok : "Dan kau Euis jangan lah kau menangis terus. Maju terus kawan-kawan !"

Aldy pun mengampiri Ucok yang terbaring tapi Ayah Aldy menariknya untuk pergi.

Ucok pun meninggal dunia.

Ibu Ucok pun pergi menjauh dan menangis tetapi Tejo menenangkannya dan mengantarnya ke depan jenazah Ucok yang terbaring.

Walaupun Ucok telah meninggal, Euis, Entong dan Tejo tetap semangat untuk belajar.
Lima Belas tahun kemudian mereka bertiga pun berhasil menjadi orang yang sukses.

Rakyat Indonesia : "Tejo, Tejo, Tejo, Tejo, Tejo, Tejo, Tejo, Tejo, Tejo !" (bersorak-sorai).
Euis dan Entong : "Kencur, Kencur, Kencur !" (bersorak-sorai).
Protokol : "Marilah kita sambut presiden baru Republik Indonesia ! Tejo Soeroto !"

Tejo pun melambai kan tangan lalu berpidato.

Tejo : "Assalamualaikum, Terimakasih dan banyak sekali rasa senang karena saya bisa terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia. Ingatlah untuk tetap terus belajar dalam keadaan apapun. Dan untuk teman -teman saya Entong, Euis dan Almarhum Ucok, Kencur berhasil memiliki perkebunan kencur. Merdeka, Merdeka !"

--------------------------------------------TAMAT--------------------------------------------

Para Pemain & Pendukung
Ucok : M. Fadhilis S.
Euis : Annisa M.
Tejo : Faiz Deja R.
Entong : Dimas A.W.
Aldy : Aldy D.N.
Ayah Aldy : Sabran J.
Ibu Ucok : Andika F.R.
Kakak Aldy : Linna M.
Penjajah & Tamu : M. Rizky & Yuda A.
Siswa - siswi kelas X RSBI 5 (CESIMA).
Beserta pembimbing kelas XI RSBI 1 (COSSTU).