SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Jumat, 23 Januari 2015

Karya 33 Dibukukan (Cerpen)

Tentang Duka
Faiz Deja Ramadhan

Kehidupan manusia di planet bumi ini tak luput dari tujuan dan arti kehidupan yang telah dirangkai oleh Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Sejatinya Allah menciptakan kehidupan manusia melalui tahapan-tahapan dan proses-proses yang cukup panjang. Diawali dengan penciptaan alam semesta dimana di dalam alam semesta tersebut terdapat banyak galaksi dan gugusan bintang sementara di dalam galaksi sendiri terdapat pula tata surya yang dilengkapi sistem atau tata peredaran banyak planet dan benda-benda langit seperti komet, bintang, satelit misalnya bulan, meteor dan sebagainya. Allah pula menciptakan sebuah planet kehidupan yang khusus diperuntukan bagi ciptaan-Nya yang dikehendaki sebagai makhluk hidup di alam dimensi dunia, selain malaikat dan iblis. Mahkluk hidup itulah tumbuhan, manusia dan hewan.
Makhluk hidup yang paling sempurna adalah manusia yang diutus oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi serta sebagai pemimpin untuk menjaga ciptaan Allah lainnya di dunia. Manusia juga dibekali oleh akal dan pikiran karena sebagai makhluk sempurna tingkatan nalar manusia pasti berbeda dengan dua makhluk hidup ciptaan Allah lainnya. Akal dan pikiran manusia dibekali ke dalam ruh setiap insan agar dapat memberikan manfaat kepada semua makhluk ciptaan Allah dan manfaat dalam melesetarikan alam semesta serta manfaat hakiki sebagai seorang hamba terhadap Penciptanya yaitu beribadah kepada Allah.
Selain akal dan pikiran manusia juga memiliki kalbu atau perasaan sehingga dia mampu menyeimbangkan ibadahnya kepada sesama makhluk dan kepada Allah. Namun di dalam segala proses pasti akan ada akhir kecuali dunia akhirat yang kekal atau abadi. Kehidupan manusia pun dapat sewaktu-waktu kembali kepada Sang Khaliq sebagai Maha Pencipta yaitu Allah, dengan bantuan Izrail yang bertugas sebagai malaikat pencabut nyawa, Allah tidak akan pernah sulit mengambil ruh kita untuk kembali di sisi terdekat-Nya. Allah memanggil hambanya atas dasar ketentuan yang telah Dia buat dan tergariskan dalam takdir-Nya di Lauhul Mahfuzh sejak alam semesta ini belum diciptakan, dapat dikatakan semacam skenario besar, panjang dan detail untuk semua hamba-Nya. Setidaknya itulah pelajaran yang aku dapatkan ketika hari itu, hari tentang duka menyelimuti keluarga besarku, hari yang benar-benar baru aku pahami saat aku dewasa.
Hari itu merupakan pelajaran baru bagiku, ketika aku melihat Desi kecil yang mungkin masih begitu belia untuk mengingat kejadian itu. Setahu dia hanya kumpulan orang yang penuh riuh di halaman. Saat itu tangis pecah menyambut Bapak Desi yang diantar ambulan. Badannya sudah putih berbalut kafan, aku menangis tersedu di bawah pohon pisang yang tumbuh rimbun di halaman.
Tak aku sangka, keluarga juga berpikir semacam itu. Baru saja kemarin paman masih mengayunkan cangkulnya di sawah, tepat pukul tiga sore tenaganya tak lagi kuat menumpu badannya di bawah matahari yang mulai condong. Panas seharian membuat kehilangan banyak daya. Dia ditemukan tergeletak di pematang yang hijau. Saat itu pula rumah sakit tak mampu menolong nyawanya. Rasa sedih bercampur amarah saat pihak rumah sakit tidak memperbolehkan keluarga melihat tubuh paman di ruang pemeriksaan hanya karena jam malam telah larut, padahal saat itu kondisinya kritis. Masih ingat betul saat budhe marah-marah ke petugas rumah sakit.
“Kami hanya mau lihat kondisi adik kami, dia sedang kritis. Apa Bapak tidak iba? Bagaimana kalau bapak ada di posisi kami?” Ujar Budhe.
Petugas hanya diam dan tak mengizinkan masuk hingga dokter memberitahu kalau nyawa paman sudah tak tertolong lagi. Sontak amarah tak terbendung lagi, bercampur duka yang mendalam, caci maki lancar keluar dari mulut budhe.
“Bagaimana kalau seperti ini kejadiannya, Bapak tidak mengijinkan kami masuk. Sekarang adik kami sudah tak terselamatkan. Kami tidak pernah melihat dia bernafas untuk yang terakhir kalinya Pak. Apa Bapak dapat menghidupkan kembali. Peraturan ya peraturan, tapi kalau seperti ini kejadiannya bagaimana?”
Penjaga rumah sakit hanya diam, tak sepatah kata dapat dia balas.
Keluarga hanya berlinang tangis kini, melihat jasad sudah berbungkus kain putih dalam peti mati yang sederhana. Warga berkumpul tanda duka. Mengerumuni, berkumpul di rumah duka. Aku masih melihat Desi dengan asyik bermain, tertawa, bahkan tak mengerti duka itu. Ibunya bersandar di tembok yang bisu, menangis tersedu tanpa air mata. Kantung air matanya sudah pecah menganak sungai hingga tangisnya kering dan pilu. Tangannya masih juga meraba perutnya yang besar karena kandungannya sudah memasuki tengah masa kandungan. Anak perempuan yang di kandungnya tak akan dapat merasakan kasih sayang seorang bapak. Dua anak yang yatim.
Pukul dua jasad itu dimakamkan tepat di pemakamam yang letaknya di belakang rumah. Memudahkan jika ingin menjenguknya. Masih ada tangis, aku juga tak paham benar apa yang terjadi sebenarnya. Masih SD waktu itu, setahuku dia adalah sosok yang selalu membahagiakanku sebagai keponakannya, memberikan hadiah saat kenaikan kelas dengan prestasi bagus.
Mereka yang penuh duka masih mengerumuni pusara tak tega meninggalkan dia sendiri dikubur tanah, ditanya para malaikat. Semua harus terjadi, ketegaran sering diuji dengan hal semacam ini, duka hanya di awal saja.
“Bapak kemana?” Tanya Desi kecil yang tak berdosa.
“Bapak lagi pergi, besok kalau sudah gede pasti tau bapak kemana.”
Mungkin dalam benak Desi, dia akan menunggu hingga dewasa tiba, mengetahui kemana bapaknya pergi. Ke surga. Dia masih menjalani harinya dengan riang layaknya anak-anak lain, istri paman yang sedang mengandung selalu menghibur dengan menjaga kandungannya. Orang tuanya mendampingi dan memberi semangat untuk berjuang menjadi single mother, begitu juga kami. Melupakannya itu tidak mungkin, tapi mengingatnya telah pergi hanya membuat kesedihan, anggap saja dia masih bersama, mengawasi dan menjaga dari dunia yang lain.
Aku selalu ke makamnya begitu juga dengan Desi dan yang lainnya, memberikan bunga dan mendoakannya, menunjukkan raport kenaikan kelasku yang sempurna. Menjadi yatim dan single mother tak membuat patah semangat istri dan anak-anak paman, kami hidup dan dia juga hidup di dunia yang abadi.
Hingga anak keduanya, Rama melihat dunia dan kehadirannya masih selalu dirasakan menemani di sisi kami, itu yang membuat ketegaran masih kuat saat ditinggal pergi. Ketegaran kami tak dapat diungkap atau digambarkan, tangisan telah mengkristal menjadi bara yang menyemangati hidup kami untuk menatap masa depan, tanpanya, dengannya yang jauh. Kami bersedih atas apa yang tak perlu kami tangisi, tapi Allah mengatakan tentang sebuah kebijaksanaan, manusia yang bijak tak akan menangisi mereka yang mati atau yang hidup, tapi mereka yang selalu menengadah dan membaca syukur, merendahkan diri atas apa yang Allah ujikan sehingga manusia mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi hanyalah karena Allah dan semata-mata atas kehendak-Nya.
            Seperti kutipan ayat suci yang telah difirmankan oleh Allah Subhana Wa Taala dalam Al-Qur’an sebagai kitab bagi para hamba-Nya yaitu : “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un” (انا لله وانا اليه راجعون) yang merupakan potongan dari ayat Al-Quran, dari Surah Al-Baqarah, ayat 156. Dengan isi penuh ayat tersebut adalah:
الذين اذا اصابتهم مصيبة قالوا انا لله وانا اليه راجعون
"(Yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali."

Cerita ini adalah salah satu kontributor pada event cerpen "Semua Karena Allah" oleh Ar Rahman Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar