SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Sabtu, 26 Februari 2011

Drama Bahasa Indonesia

Drama Tragedi

Suatu hari di sebuah kantor, Pak Yusuf seorang pegawai Departemen Keuangan dikunjungi oleh Ibu Dina, salah seorang direktur perusahaan televisi swasta indonesia.

Pak Yusuf : (terdengar suara ketukan di depan pintu kantor Pak Yusuf) “ Silahkan masuk !

Ibu Dina : Selamat pagi Pak Yusuf !

Pak Yusuf : Selamat pagi Ibu Dina, silahkan duduk ada yang bisa saya bantu ? (ekspresi Pak Yusuf sedikit bingung melihat kedatangan Ibu Dina)

Ibu Dina : Terima kasih Pak Yusuf, baik! Maksud kedatangan saya kemari yaitu untuk membicarakan suatu hal yang penting dengan Pak Yusuf. Apakah bapak punya waktu ?

Pak Yusuf : Tentu saja, memang ada hal penting apa Ibu Dina? Apa anda dan perusahaan anda mempunyai masalah ?

Ibu Dina : Begini Pak Yusuf,ada kendala yang membuat perusahaan saya tidak dapat beroperasi dengan baik.

Pak Yusuf : Apakah masalahnya berkaitan dengan pajak perusahaan anda?

Ibu Dina : Iya, tepat sekali! Bapak Yusuf tahu kalau perusahaan saya sudah menunggak pajak selama 3 bulan dan terancam failed.

Pak Yusuf : Ibu Dina mau perusahaan Ibu kembali aman?

Ibu Dina : Ya, kira kira begitu saya akan membayar semua denda pajak perusahaan saya, dan saya akan memberi sedikit hadiah untuk bapak agar perusahaan saya tidak failed.

Pak Yusuf : Maaf Bu, kalau untuk urusan pemberian hadiah atau pun yang lainnya saya harus menolak, karena semua itu harus sesuai dengan prosedur.”

Ibu Dina : Lebih baik bapak berfikir lagi untuk urusan itu karena yang saya berikan kepada bapak bukan jumlah yang sedikit. Bapak pun tidak perlu takut, bapak tinggal memberi surat keputusan bahwa perusahaan saya tidak terancam failed lagi, dan bapak akan menerima sejumlah uang yang banyak.

Pak Yusuf : Maaf bu, uang atau rezeki yang saya terima bukan sembarangan. Saya harus menerima uang yang halal.

Ibu Dina : Baiklah kalu begitu Pak Yusuf, jangan sampai anda menyesal dengan tawaran saya tadi dan kalau bisa anda dapat kembali memikirkannya lagi.

Setelah kejadian tersebut , Bu Dina pun meninggalkan ruangan Pak Yusuf dengan anda geram. Di pertemuan kedua yang tidak terduga, Ibu Dina dan Pak Yusuf bertemu di sebuah restoran.

Ibu Dina : Maaf Pak Yusuf, apa anda sudah mempertimbangkan pilihan yang saya berikan beberapa waktu lalu?

Pak Yusuf : Maaf Ibu Dina, keputusan saya sudah bulat untuk menolak tawaran dari Ibu Dina.”

Ibu Dina : ‘’Ya sudah Pak Yusuf, kalau memang itu keputusan anda. Jangan sampai anda menyesal di kemudian hari.’’

Suatu hari saat Pak Yusuf hendak pulang seusai bermain golf, saat dia menuju mobilnya yang ada di tempat parkir, tiba tiba Pak Yusuf diculik oleh orang suruhan Ibu Dina. Keesokan harinya saat Pak Yusuf diculik dan di sekap oleh Ibu Dina, Pak Yusuf dengan tangan terikat berusaha mengambil handhonenya lalu dia menelpon anaknya yaitu Lisa.

Pak Yusuf : ‘’Lisa, ini ayah! Tolong ayah, ayah sedang diculik sekarang kau ke jln. Dinasti no 7.’’

Lisa : ‘’Apakah ayah baik baik saja? Tenang saja ayah, aku akan segera menolong Ayah.’’

Tiba tiba telepon pun terputus, lalu tidak lama kemudian lisa pun menuju ke tempatbayahnya disekap oleh Ibu Dinadisebuah ruangan yang kosong.

Lisa : ‘’Ayah! Ayah tidak apa pa kan? Ayah baik baik saja kan?’’

Pak Yusuf : ‘’Iya nak, ayah baik baik saja. Ayo nak, lebih baik kita cepat pergi dari tempat ini.’’

Saat Pak Yusuf menuntun lisa untuk pergi dari tempat itu, tiba tiba Ibu Dina pu datang dan melayangkan pistol ke kepala Pak Yusuf. Namun seketika Lisa menarik ayahnya ke belakang dan akhirnya Lisa pun tertembak oleh pistol Ibu Dina dan akhirnya ia pun meninggal.

Setelah tragedi tersebut, menteri Keuangan menaruh rasa hormat kepada Pak Yusuf dan Lisa putrinya karena nama baik Departemen Keuangan tidak tercoreng.

Menteri Keuangan : ‘’Kami dari Departemen Keuangan turut beduka cita terhadap kematian Nona Lisa bin Yusuf yang telah membela nama baik Departemen Keuangan dan rasa terima kasih yang sebesar besarnya kepada Pak Yusuf dan putrinya. Perlu kita ketahui kalau Nona Lisa bin Yusuf juga seorang pahlawan muda.’’

Pak Yusuf : ‘’ Terima kasih atas perhatian bapak ibu sekalian yang bisa saya katakan adalah bahwa saya bangga dengan putri saya.’’

Sementara Itu Ibu Dina dipenjara selama 15 tahun atas hukuman pembunuhan yang Ia lakukan.

Jumat, 18 Februari 2011

The Artikel from Me

Internet Sehat Kaya Manfaat

Internet atau akronim dari interconnected-networking adalah rangkaian komputer yang terhubung oleh beberapa rangkaian. Sejak mulai diciptakannya hingga saat ini Internet memiliki satu tujuan yaitu rangkaian komputer yang membantu memudahkan pekerjaan manusia untuk mencari data atau informasi dan transfer data, serta koneksi ke seluruh dunia. Hingga kini banyak orang bilang “segala sesuatu pasti ada di Internet”.

Macam –macam kegunaan Internet sangat banyak untuk mencari data atau informasi kita bisa mencarinya ke segala situs dari seluruh dunia lewat search engine. Transfer data kepada seluruh orang di dunia bisa dilakukan lewat e-mail dan ada juga situs jejaring sosial yang membuat kita melakukan kontak dengan orang-orang di seluruh dunia.

Selain itu ada juga blog, yang digunakan untuk banyak kepentingan seperti bisnis, sosial, pendidikan dll. Banyak pengusaha yang menjual barang dagangannya lewat blog, para cendikiawan yang menaruh artikel-artikelnya di blog, dan sastrawan yang mempublikasikan karya-karyanya di blog. Biasanya para pengguna blog disebut blogger.

Namun segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki dua dampak yaitu dampak positif dan dampak negatif. Begitu pula dengan Internet di era globalisasi yang terjadi sekarang banyak masyarakat yang tidak menyadari dampak negatif Internet bahkan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan.

Sebaiknya kita merubah pandangan atas dampak negatif teknologi yang mungkin biasa teman, atau bahkan kita sendiri lakukan seperti penggunaan situs-situs pornografi, bertengkar di jejarng sosial dan bahkan sampai menghina seseorang atau suatu kelompok juga kalangan tertentu. Ini semua kita hindari dengan melakukan perilaku “Internet Sehat, Kaya Manfaat”.

Faktor pendorong untuk menjalankan perilaku Internet sehat:

1. Segala usaha akan membuahkan hasil yang baik jika dikerjakan dengan baik dan tidak menyimpang dari nilai dan norma masyarakat. Internet sehat membuat penggunannya menyelesaikan pekerjaan dengan baik tanpa perilaku menyimpang.

2. Karakter yang baik akan muncul secara cepat kepada orang yang berperilaku Internet sehat dan tidak menyimpang begitu pula sebaliknya.

Manfaat menjalani perilaku Internet sehat:

1. Tidak terjerumus ke dalam dosa.

2. Mempermudah dan mempercepat hasil pekerjaan yang kita lakukan.

3. Memberi image baik kepada pengguna Internet yang tidak menyimpang.

4. Memiliki banyak teman dari seluruh dunia lewat jejaring sosial dan menjadi akrab

5. Memiliki wawasan yang luas.

6. Berekspresi secara baik dan cukup bukan berlebihan di dunia maya.

7. Mempublikasikan karya-karya , ide terbaik yang pernah kita ciptakan.

8. Berkompetisi secara internasional lewat inovasi yang kita lakukan dan kita publikasikan seperti karya-karya di blog.

9. Hidup damai , tentram tanpa rasa gelisah.

10. Dan sebagainya.

Banyak sekali manfaat yang kita miliki jika kita menjalani perilaku hidup Internet sehat karena Internet sehat itu kaya sekali akan manfaatnya seperti yang disebutkan di atas. Sudah terbayangkan jika kita melakukan perilaku Internet menyimpang, kerugian yang kita dapat juga akan banyak sekali dan membuat hidup kita menjadi tidak tenang dan gelisah.

Cara menjalani perilaku Internet sehat:

1. Menyadari kalau kita melakukan penyimpangan di Internet berarti berdosa

2. Mulai menumbuhkan rasa keingin tahuan yang tinggi terhadap dunia luar terutama di bidang pendidikan.

3. Tidak menjerumuskan diri lewat situs pornografi.

4. Tidak menghina teman di jejaring sosial. Jika kesal akan teman di jejaring sosial lebih baik menahan diri untuk tidak emosi setidaknya jika kesal jangan di umbar di dunia maya.

5. Selektif melakukan browsing situs di Internet.

6. Menjaga image terhadap diri sendiri sebaik mungkin di dunia maya.

7. Pergunakan Internet dengan tujuan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Itu semua penjelasan tentang perilaku Internet sehat yang kaya manfaat. Bagaimana, apa sekarang kita masih mau berperilaku Internet menyimpang ? Sudah tidak ada alasan lagi untuk menyalahgunakan Internet. Karena “Internet Sehat, Kaya Manfaat.”

Rabu, 02 Februari 2011

Cerpen 3

Sifana Musofi
Karya: Faiz Deja Ramadhan

Sifana Musofi lahir di Lhokseumawe, 28 Oktober 1988. Kini umurnya 22 tahun, Ia lahir dari keluarga sederhana, pasangan orang tua yaitu Bapak Haji Ahmad Musofi dan Ibu Annisa Arvan. Sejak kecil Ia dirawat dan dididik oleh kedua orang tuanya dengan ilmu agama yang kuat, Islam bagi keluarganya merupakan suatu hal yang wajib dan tidak boleh ditinggalkan.

Dari kecil Sifana biasa hidup mandiri, tekun dan rajin. Ia tidak pernah dimanjakan oleh kedua orang tuanya meskipun begitu seluruh kebutuhan Sifana pun dipenuhi dengan baik. Ayah Sifana bekerja sebagai Pegawai Negeri di Kantor Urusan Agama di Lhokseumawe dan Ibunya bekerja sebagai guru di salah satu Taman Pendidikan Al-Qur’an.

Sifana tidak pernah manja kepada kedua orang tuanya saat belia karena setiap hari Sifana pergi sekolah dan pulang saat sore hari. Hingga malam hari Ia baru bertemu kedua orang tua dan kakaknya, Ardi yang bekerja sebagai koki di restoran khas makanan Aceh.

Saat berumur 22 tahun setelah Ia menyelesaikan pendidikan tingginya dan mendapat gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I) di salah satu Perguruan Tinggi Islam Negeri di Aceh. Orang tuanya meminta agar Ia segera menikah. Dan setelah Ia bertemu orang yang diyakini adalah jodohnya Raden Bagus Soerito, yaitu temannya yang berbeda kampus dan fakultas karena Bagus adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi yang kampusnya dekat dengan kampus Sifana.

Setelah bertemu secara tidak sengaja dan berkenalan sampai mengetahui lebih banyak antara Sifana dan Bagus, kini Sifana pun tahu kalau Bagus ialah seorang putra keluarga besar berdarah biru yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Aceh walaupun semua keluarganya berada di Yogyakarta.

Saat Sifana dan Bagus lulus dan keduanya di wisuda Bagus berjanji Ia akan pulang dahulu ke Yogyakarta selama tiga bulan dan akan kembali lagi ke Aceh untuk melamar Sifana bersama keluarganya. Sifana pun memegang janji Bagus selama satu bulan pertama Ia menunggu Bagus sambil bekerja sebagai guru di Madrasah Tsanawiyah.

Suatu hari dimana sudah tepat tiga bulan Bagus pergi meninggalkan Sifana namun Ia kini belum datang kembali untuk menepati janjinya kepada Sifana. Ayah Sifana menghampiri Sifana di serambi depan rumahnya dan melihat Sifana sedang bersedih.
“Ada apa dengan mu Sifana ?” Tanya Ayah.
“Tidak ada apa-apa Ayah.” Jawab Sifana.
“Kalau tidak ada apa-apa mengapa kamu menangis?” Tanya Ayah kembali.
“Saya sedang menunggu Mas Bagus.” Jawab Sifana.
“Jika hatimu yakin kalau dia akan datang kembali pada mu, tegarkanlah hatimu.” Jelas Ayah.
“Sifana tidak akan pernah melupakan Mas Bagus, Sifana tahu betul dia orang yang tidak munafik.” Ujar Sifana.
Lalu Ayah Sifana meninggalkan Sifana yang tetap diam terpaku sambil sedikit meteskan air mata.
Keesokan harinya Sifana terkejut ketika membuka pintu untuk tamu yang datang ke rumahnya, yang ternyata adalah Bagus dan kedua orang tua serta adiknya yang bernama Lili. Setelah membalas salam, Sifana menyambut Bagus dengan sangat gembira.
“Mas Bagus ! Aku tahu kamu pasti akan datang.” Ujar Sifana dengan wajah gembiranya.
“Pasti aku datang terima kasih telah menungguku, maaf telat ini karena suatu keterlambatan transportasi, yang jelas aku menepati janjiku.” Jelas Bagus.
“Iya Saya maafkan dan terima kasih telah menepati janji Mas. Mari silahkan masuk semua!” Ajak Sifana.
Setelah itu Ayah dan Ibu Sifana pun menyambut keluarga Bagus dengan senang.
Kemudian dimulai lah acara Bagus melamar Sifana. Dan acara itu berlangsung dengan penuh kebahagiaan serta penerimaan lamaran oleh Sifana kepada Bagus sepertinya kedua keluarga mereka sangat akrab saat pertemuan itu.

Satu bulan setelah acara lamaran Bagus dan Sifana berlangsung, mereka berdua menikah dengan acara yang dimeriahkan oleh kedua adat mereka yang berbeda yaitu Jawa dan Aceh. Saat akan dirias Sifana diperintah untuk calon Ibu mertuanya untuk melepas jilbabnya dan memakai sanggul namun Sifana agak keberatan dan menolak itu semua karena menurutnya jilbab adalah perias di kepalanya yang paling indah dan juga menutup aurat yaitu rambutnya. Akhirnya Ibu mertuanya pun mengalah walaupun agak berat hati karena harus meninggalkan kebudayaan leluhurnya yaitu menikah menggunakan sanggul pada menantu perempuannya.

Di acara pernikahan Bagus dan Sifana yang berlangsung sakral nampak Bagus yang tampan menggunakan dua baju adat bergiliran yaitu adat Jawa dan Aceh begitu pula dengan Sifana yang cantik dengan dua kebaya dan dua jilbab yang berbeda dan elok.

Setelah Bagus dan Sifana menikah mereka berdua tinggal sementara selama dua minggu di rumah keluarga Sifana. Kemudian Sifana pun pindah bersama Bagus ke Yogyakarta dan berpamit dengan ayahnya juga berjanji menjadi istri yang solehah terhadap suami dan anak-anaknya.

Di Yogyakarta Sifana dan Bagus hidup sebagai sepasang suami istri yang bahagia bersama keluarga Bagus. Keluarga mereka terlihat harmonis, damai dan lebih religious setelah datangya Sifana di keluarga Bagus yang terkenal.

Namun suatu hari Sifana merasakan bahwa keluarga Bagus terlalu bergantung pada adat istiadat Jawa di setiap keadaan sehingga pendidikan agama atau ajaran Islam yang mereka amalkan tidak lebih dari lima rukun Islam, dan Sunah-sunah Rasulullah yang tidak melekat dalam kehidupan keluarga mereka.

Di tahun baru Hijriyah atau 1 Muharam Keluarga Bagus biasa melaksanakan ritual adat Jawa yaitu membuat makanan berupa ketan ditabur kelapa parut dan memandikan keris yang dipajang di dinding rumah juga bagi para laki-laki mandi di tengah malam didalam kolam yang dingin bertabur bunga tujuh rupa. Saat tengah malam Bagus terbangun dan Sifana pun melihat Bagus terbangun dari tidurnya.
“Ada apa Mas ? Bangun tengah malam begini. Apa Mas mimpi buruk atau ada hal yang harus Mas kerjakan ?” Tanya Sifana ikut terbangun setelah Bagus terbangun.
“Sifana ini kan malam 1 Suro, aku harus melakukan ritual yang biasa keluargaku lakukan.” Jawab Bagus.
“Tapi Mas ini kan tengah malam, apa Mas tidak takut kalau nanti Mas sakit atau masuk angin ?” Tanya Sifana lagi.
“Tidak, Insya Allah Mas akan baik-baik saja.” Jawab Bagus.
“Ini kan bukan suatu kewajiban Mas, toh ini hanya ritual adat yang tidak disunahkan Rasulullah. Lebih baik Mas cari saja kegiatan positif yang lain seperti Shalat Malam atau membaca Al-Qur’an.” Jelas Sifana.
“Sudah kamu tidak usah khawatir. Saya yakin saya bisa menjalani ritual ini dengan baik.” Ujar Bagus.
Akhirnya Sifana pun mengalah dan berharap supaya Bagus dibukakan pintu hatinya agar lebih mengutamakan sunah Rasulullah dari pada ritual adat istiadat.

Hari – hari terus berlalu dan adat istiadat keluarga Bagus terus digunakan setiap ada hari peringatan maupun hari raya besar agama Islam. Sifana pun memikirkan bagaimana caranya agar keluarga Bagus tidak mengarah kegiatan yang memusyrikan Allah dan lebih memprioritaskan ajaran agama bukan adat dari leluhur yang kurang bermanfaat.
Saat Sifana hamil, dan kandungannya berusia 7 bulan, keluarga Bagus pun mengadakan ritual yang memandikan Sifana dengan air suci namun awalnya Sifana menolak karena menganggap ini semua tidak ada manfaatnya. Tapi keluarga Bagus mengatakan manfaat ritual ini adalah melestarikan budaya leluhur dan adat istiadat Jawa yang hampir punah. Akhirnya Sifana pun mengalah lagi dengan tetap melakukan ritual itu.

Sifana melahirkan putri pertama yang bernama Dania. Sifana dan Bagus sangat senang dan bangga memiliki seorang putri, Dania karena Dania sangat cerdas, rajin dan aktif bahkan saat umur 1 tahun Dania telah bisa berbicara walaupun hanya sekedar ocehan anak balita. Oleh karena itu Bagus dan Sifana merawat Dania dengan sepenuh hati.

Saat berumur 1 tahun juga Dania diajari berjalan oleh kedua orang tuanya namun Nenek Dania atau Ibunya Bagus menginginkan Dania melaksanakan ritual Tedak Sinten atau Turun Tanah dimana Dania kaki diinjakan ke atas tanah dan diajari berjalan. Namun Sifana menolak ritual ini karena menurut Sifana ada waktunya Dania untuk bisa berjalan dan tak perlu mempercayai ritual adat untuk membuat Dania bisa berjalan dan ritual ini perlu dihadiri banyak orang sementara Sifana memikirkan biaya acara ritual ini yang tidak sedikit karena walaupun Bagus keluarga yang kaya namun mereka saat ini sedang kekurangan uang setelah biaya persalinan Sifana. Akhirnya dengan keterpaksaan Ibu mertua Sifana pun mengusahakan acara ritual itu tetap dijalankan dan dengan berat hati Sifana pun membantu Ibu mertuanya mengadakan acara ritual itu.

Di waktu yang membuat Keluarga Besar Bagus berkabung yaitu dimana ayah Bagus yang meninggal karena penyakit jantung, Sifana sangat berduka melihat Bapak Mertuanya yang sudah tiada dan suaminya yang sedang bersedih kehilangan ayahnya. Sifana berharap ujian ini semua mengubah sifat asli keluarga besar Bagus yang selalu berpedoman pada adat istiadat warisan leluhur atau nenek moyang. Namun harapan Sifana itu sirna setelah mengetahui saat tujuh hari sudah kematian Bapak Mertuanya, dan kini Ibu Mertuanya ingin mengadakan acara Tahlilan walaupun keadaan ekonomi keluarganya sedang kekurangan karena pendapatan keluarga Bagus sekarang hanya dari gaji yang Bagus terima.

Terjadi pertentangan antar Sifana dan Ibu Mertuanya saat keluarga mereka akan mengadakan acara Tahlilan untuk ayahnya Bagus.
“Ibu tahu kan kalau keluarga kita sedang krisis keuangan jadi sebaiknya Ibu tidak usah terlalu memaksakan acara ini.” Ujar Sifana.
“Tidak ini acara yang harus diadakan karena keluarga kita keluarga terhormat.” Ucap Ibu.
“Tapi Ibu harusnya mengerti karena acara ini butuh banyak biaya. Dan kegiatan seoerti ini pun tidak diperintahkan agama, jadi tidak ada hukum yang mengaturnya.” Jelas Sifana.
“Sudah kamu tidak usah banyak omong, kalau kamu memang tidak mau membantu Ibu biar Ibu mengurus acara Tahlilan ini sendiri. Dan meminta uang kepada Bagus.” Bentak Ibu.
Lalu Ibunya mertua Sifana pun meninggalkannya dengan penuh rasa marah dan kesal.

Setelah pertentangan itu terjadi tiba-tiba adik perempuan Bagus, Lili datang menghampiri Sifana yang bersedih atas perilaku Ibu Mertuanya.
“Kak Sifana maafkan Ibu ya ! Saya juga heran kenapa Ibu itu selalu mementingkan budaya leluhur daripada perintah agamanya sendiri.” Ujar Lili.
“Tak apa Li, Kakak berharap semoga Ibu segera dibukakan pintu hatinya.” Harap Sifana.
“Saya bingung ! Menurut Kakak apa yang harus kita lakukan agar Ibu tidak selalu mementingkan kegiatan adat atau budaya dari pada agamanya sendiri ?” Tanya Lili.
“Lili walaupun hidup yang kita miliki seperti kehidupan religi dalam berbudaya tapi bukan seharusnya kita lebih mementingkan budaya karena bagaimana pun juga budaya itu harus diiringi dengan nilai-nilai religi bukan religi yang dipengaruhi budaya. Sebab perintah Tuhan harus kita jalankan kalau tidak dosa, bukan wasiat leluhur yang kita utamakan, meski tidak semua budaya atau acara adat dari warisan leluhur itu jelek namun sebaiknya kita menjalankan yang bermanfaat saja seperti memberikan makan orang miskin dan itu kalau kita mampu atau tanpa terpaksa. Namun budaya warisan leluhur yang tidak bermanfaat serta mempengaruhi nilai agama sebaiknya kita tidak memaksakan untuk menjalankan kalu perlu dihindari saja agar kita tidak menjadi musyrik.” Jelas Sifana.
“Oh begitu ya Kak !” Jawab Lili.
“Kini Ibu sadar kalau Ibu seharusnya patuh terhadap agama Ibu bukan memprioritaskan budaya leluhur.” Ujar Ibu Mertua Sifana yang tiba-tiba datang.
“Aku juga baru sadar kalau keluarga kita seharusnya menjalankan perintah agama dengan baik bukan wasiat para leluhur yang bisa saja membuat musyrik keluarga ini” Ujar Bagus yang juga tiba-tiba datang.
Ternyata Bagus dan Ibunya mendengar penjelasan Sifana terhadap Lili tadi dan kini

Keluarga Bagus pun sadar kalau tidak salah jika mereka menjalankan budaya leluhur namun seharusnya mereka selektif untuk melakukan budaya yang diperbolehkan agama sama yang tidak, budaya leluhur yang bermanfaat dan dianjurkan agama sama budaya yang tidak bermanfaat bahkan bisa mengandung kemusyrikan.

Benar kata Sifana di kehidupan seharusnya budaya dipengaruhi religi bukan religi yang dipengaruhi budaya, walaupun religi menjadi urusan masing-masing pribadi manusia dan budaya dilakukan bersama serta hidup ini dijalankan seperti kehidupan religi dalam berbudaya.

Puisi 2

Religi mengarahkan Budaya
Karya: Faiz Deja Ramadhan

Religi ialah penunjuk arah
Kehidupan manusia
Budaya ialah penabur indah
Kehidupan dunia

Dua hal yang beriringan
Tanpa saling mendahului
Berjalan seirama
Demi tercipta damai

Manusia salah bertindak
Melupakan Religi segera
Kehidupan pun menjadi acak
Membuat Religi bukan pengarah Budaya

Sadar wahai kawan
Buang jauh pikiran
Budaya diprioritaskan
Padahal Religi penuntun kehidupan

Religi mengarahkan Budaya
Manusia harus menjalankan seirama
Demi kehidupan dijauhi bahaya
Selamat dunia akhirat di surga

Jumat, 14 Januari 2011

Senin, 10 Januari 2011

Students In the Train


Happiness in Purwakarta

Di suatu sekolah terdapatlah delapan orang anak yang awalnya mereka tidak saling mengenal namun akhirnya menjadi sekelompok sahabat yang amat dikagumi. Kelompok itu bernama Student In the Train (SIT). Delapan orang anak itu memiliki perbedaan sifat, lima dari mereka merupakan teman satu alumni. Namun setelah mereka berada dikelas yang berbeda- beda mereka berlima menjadi dapat tiga orang teman baru dari kelas yang berbeda pula.

Kedelapan orang itu dipertemukan di suatu tempat yaitu Stasiun Kereta Api karena mereka semua akan naik kereta api yang sama untuk pulang dari sekolah ke rumah pada sore hari. Maka disebutlah grup ini Student in the Train. Delapan orang anak Student In the Train adalah:
1. Angga Maulana (Angga) si besar yang kekanak-kanakan
2. Desfrilia Ondo Debora Tampubolon (Frili) si manja yang feminim.
3. Entri Aprilia (Entri) si kecil yang sabar.
4. Fadhilah Octavia Ningsih (Fadil) si rajin yang autis.
5. Faiz Deja Ramadhan (Faiz) si oke yang keras kepala.
6. Ghani Wicaksono (Ghani) si langsing yang bawel.
7. Rizqi Juliana (Eki) si Hi-Tech yang LoLa.
8. Raden Taufik Pangesta Aditama (Ka Taufik) si Senior yang gak modal.
Pertemuan mereka pertama kali cukup mengesankan, persahabatan mereka sangat baik hingga akhirnya menemui lika-liku, topan – badai, suka-duka persahatan. Apa saja yang akan terjadi pada grup Student In the Train dan persahabatan mereka ? Apakah mereka akan tetap utuh selamanya ? Perjalanan panjang dimulai sekarang.

Awal Pertemuan Di Stasiun Kereta Api

Lima orang teman satu alumni sedang duduk di serambi stasiun menunggu kereta api yang akan datang, mereka berlima adalah: Frili, Angga, Ghani, Entri dan Fadil. Lalu datanglah Faiz bersama teman SD nya dan juga teman satu sekolah nya sekarang. Mereka pun saling bertemu di serambi stasiun sampai salah satu dari mereka berlima yang duduk menyapa kepada dua orang yang baru datang karena mereka anggap mereka siswa satu sekolah dan bernasib sama pulang naik kereta ke rumah.
Angga menyapa Faiz dan Tanto : “Hai, kalian ! Pulang naik kereta juga nih ?”
Tanto menjawab : “ Haha, iya nih !”
Faiz bertanya : “Biasanya kalian berenam mana teman kalian satu lagi ? “ sambil melirikkan mata mencari teman sekaligus tetangganya Eki.
Angga menjawab: “ Oh si Eki ! Iya Dia lagi gak masuk hari ini katanya sakit .”
Lalu Faiz pun hanya mengangguk dan tiba–tiba terlihatlah dari kejauhan dua orang senior dari sekolah mereka datang menghampiri mereka.
Salah seorang senior bernama Moja langsung menghampiri tujuh orang juniornya lebih dulu dan kemudian berkata :
“Anak Smansa kan ? Ngapain pada ngumpul di sini ? Mau nongkrong ya? “
Angga pun menjawab : “Mau nunggu kereta lah. Ini kan stasiun.”
Seorang senior lainnya bernama Taufik menghampiri temannya Moja dan kemudian berkata:
“Oh sama dong Kakak juga mau naik kereta? “
Angga pun bingung lalu bertanya : “ Jadi Kakak tuh, Kakak kelas kita ?”
Taufik dan Moja menjawab bersama: “Oh iya !”
Angga berkata : “Oh aku kira alumni sekolah ku hahahaha !”
Semuanya pun tertawa lalu mereka saling bercerita sambil menunggu kereta datang hingga akhirnya kereta yang mereka semua tunggu datang. Mereka pun merasa senang mendapat banyak teman baru bahkan tidak hanya teman satu angkatan yang naik kereta , kakak kelas mereka pun juga.

Hingga akhirnya mereka pun sering sekali pulang bersama naik kereta dan menjadi teman yang semakin akrab perlu diketahui Kang Moja adalah teman Kang Taufik yang hanya suka mengantarkan Ka Taufik ke stasiun katanya sih dia cuma suka aja lihat kereta lewat sore hari di statsiun. Dan yang awalnya lima orang kini menjadi Sembilan orang teman bareng naik kereta tapi belum membentuk sebuah grup, mereka semua adalah : Angga, Frili, Fadil, Faiz, Ghani, Entri, Eki, Tanto, Ka Taufik. Dan grup ini pun lahir di Facebook yang diberi nama oleh Frili yaitu: “Student In the Train.”

Pada hari Jum’at sore entah tanggal berapa tepatnya. Ka Taufik dan Faiz akan pulang bersama naik kereta mereka pikir banyak anak-anak juga yang naik kereta di Stasiun sore itu. Namun di perjalanan menuju stasiun mereka hanya bertemu Entri dan Ghani ternyata mereka juga mau pulang naik kereta. Tapi saat mereka berempat jalan tiba-tiba hujan turun dan membasahi seluruh tubuh mereka. Mereka pun berteduh sebentar tapi mereka pikir percuma karena sudah basah semua, sampai akhirnya mereka pun melepas sepatu mereka dan berjalan telanjang kaki hingga ke stasiun. Karena mereka tidak mau sepatu mereka basah.

Kejadian ini tidak membuat mereka sedih tapi justru mereka senang mereka hanya berkata “Kita berempatlah Pecinta Kereta Sejati karena sampai hujan begini kita masih membelakan diri untuk naik kereta.” Mereka pun tersenyum sampai mereka pulang dengan selamat ke rumah dengan naik kereta.

Awal Keakraban

Saat itu mereka semua pulang dari sekolah yang bertemu di Stasiun Kereta Api Cikampek. Angga, Fadil, Frili, Entri, Ghani pulang naik kereta bersama Yoga yang merupakan teman satu SMP mereka juga. Sedangkan Ka Taufik , Faiz dan Tanto pulang naik Angkot. Saat mereka bertemu :
“Pulang naik kereta ya gak ngajak nih.” Ujar Faiz.
“Kenapa gak ke stasiun?” Sanggah Frili.
“Kalian mau pada kemana ?” Tanya Ka Taufik.
“Mau ke rumah Angga, mau ikut gak Ka, Faiz ?” Tanya Entri.
“Ayo!” Seru Faiz.
“Kakak gak bisa sekarang, kapan-kapan aja ya.” Ucap Ka Taufik.
“Ya udah Kak gak apa-apa.” Jawab Faiz.
Lau Tanto juga tidak ikut kerumah Angga. Hanya tujuh orang yaitu: Eki, Frili, Ghani, Angga, Faiz, Fadil, dan Entri dan Yoga tanpa Kak Taufik.

Dirumah Angga mereka belajar bersama, nonton film dan yang terakhir berfoto ria tak disangka mereka bertujuh narsis. Tapi Yoga tidak mau ikut berfoto ria.

Konflik Pertama

Hari itu sore yang panas sekali saat semua anggota Student In the Train pulang sekolah dan berjalan menuju stasiun. Terlihat Tanto dan Faiz jalan lebih dulu dari pada yang lain tapi disana tidak ada Ka Taufik. Saat mereka mendengar suara kereta mereka berlari terburu-buru untuk bisa mendapatkan kereta itu, hingga mereka lelah dan nafas mereka tak kuat. Dan akhirnya yang bisa sempat naik ke kereta itu hanyalah Faiz dan Tanto sedangkan enam orang yang lain tertinggal.

Beberapa hari kemudian saat ada hari libur sekolah Frili mengajak teman-teman SIT untuk kerumah dan belajar bersama namun Faiz tidak bisa datang karena tidak ada kendaraan.
Tapi saat Faiz, Frili, Angga online di Facebook tiba-tiba Angga menshare sebuah foto yang lucu, unik, tapi bikin malu yaitu foto Faiz dan mantan pacarnya yang merupakan teman SMP mereka ironisnya foto itu editan dan di sebarkan ke banyak teman di sekolah mereka. Memang lagi ingin iseng mereka.

Hingga Faiz marah besar dan konflik saling menghina di Facebook pun terjadi sampai akhirnya mantan Faiz juga memohon kepada Frili untuk menghapus foto itu. Dan lama-kelamaan mereka pun berdamai dengan sendirinya.

Purwakarta tanpa Frili

Waktu itu sekitar 3 hari setelah Natal, bagi raport sekolah mereka dan sepulang bagi raport mereka berencana menonton film Sang Pemimpi di sebuah bioskop namun saat mereka berdelapan sampai di bioskop itu ternyata bioskop itu tutup. Ya sangat mengesalkan mereka semua.

Akhirnya mereka memutuskan untuk berkunjung ke rumah Ka Taufik di Purwakarta tetangga kota mereka. Namun frili tidak bisa ikut karena harus menghadiri perayaan Natal lalu mereka semua pun naik kereta menuju Purwakarta yang melewati daerah rumah mereka yaitu Cikampek, teman-teman yang lain pun cukup kecewa karena mereka semua tidak bisa lengkap ke Purwakarta yaitu tanpa Frili.

Di Purwakrta mereka dihidangi makanan yang nikmat di rumah Ka Taufik oleh Ibu Ka Taufik. Setelah makan mereka pun berkunjung ke Situ Buleud sebuah situ yang dulunya merupakan tempat pemandian badak, namun saat Belanda menjajah Indonesia tempat itu dijadikan sebuah bendungan.

Sambil berjalan-jalan, bercengkrama, dan berfoto ria di Situ Buleud sambil mereka juga mengenal kota Purwakarta maklumlah ini kota terdekat yang bersebelahan dengan kota mereka bagaimana pun juga mereka ke sini disebut pergi keluar kota.

Setelah sore tiba mereka pulang menggunakan transportasi publik yaitu angkot, walau lelah namun mereka senang karena bisa berjalan-jalan setelah bagi rapot.

Konflik Kedua

Waktu itu di jejaring sosial Facebook heboh akan sesuatu hal yang lucu yaitu dimana Ka Taufik mengirimkan permintaan kekerabatan kepada Fadhilah bukan sebagai Adik perempuan namun sebagai Ayah. Dan setelah Angga melihat itu Ia tertawa terbahak-bahak hingga heboh dan mengirim pesan dinding yang berisi kelucuannya terhadap kecerobohan Ka Taufik ke Fadhilah . Fadhilah berpikir Angga tertawa terlalu berlebihan hingga semua orang melihat pesan dindingnya.

Maka Ia pun marah dan menjauhi Angga hingga beberapa hari, sampai Faiz dan ka Taufik meminta Angga meminta maaf kepada Fadhilah karena biar bagaimanapun konflik itu harus segera diselesaikan karena Student In the Train menjadi lebih berantakan dan terbelah setelah kehebohan di Facebook itu.

Setelah lebih dari seminggu Fadhilah diam tanpa kata kepada Angga dan Student In the Train selalu pulang sekolah dengan terpisah antara kelompok pembela Fadhilah dan kelompok Angga, hingga Angga berpikir kalau Fadhilah itu tidak marah tapi hanya dihasut yang lain dan segala usaha mediasi lewat Faiz dilakukan dengan memberi penjelasan tentang Angga kepada Fadhilah. Akhirnya Angga pun meminta maaf kepada Fadhilah dan kehidupan berjalan normal kembali.

PURWAKARTA 2

Dua pekan setelah konflik Angga dan Fadhilah terjadi akhirnya kini Student In the Train menjalani persahabatn dengan lebih baik lagi.

Sabtu tanggal 20 Maret 2010, S.I.T memutuskan untuk jalan-jalan lagi ke Purwakarta dan kini semua ikut dengan lengkap tanpa terkecuali. Mereka bertujuh naik kereta ke Purwakarta setelah pulang sekolah seperti waktu itu dan Ka Taufik pulang sendiri dengan sepeda motornya agar bisa lebih cepat sampai di rumah dan mempersiapkan segala sesuatu untuk tamunya yaitu para adik kelasnya.

Setelah sampai di Purwakarta mereka menuju rumah Ka Taufik dan langsung disuguhi hidangan yang nikmat mereka yang datang agak tidak enak hati kepada Ka Taufik karena belum lama ini mereka bertamu dan sekarang sudah bertamu lagi.

Setelah makan dan sholat mereka semua jalan-jalan ke alun-alun Purwakarta yang begitu indah tempatnya sambil berfoto ria mereka pun mengungkapakan kesenangan yang tiada tara disana. Setelah puas menikmati indahnya alun-alun Purwakarta dan mampir sebntar untuk kedua kalinya ke Situ Buleud mereka pun pulang dengan perasaan bahagia.

Semua foto mereka pun dibuat sebuah video klip foto yang berjudul “Happinness in Purwakarta” dengan soundtrack lagu “Kepompong dari Sindentosca” yang menggambarkan keindahan persahabatn mereka berdelapan dalam grup Student In the Train.