SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Senin, 18 Agustus 2014

Karya 2 Dibukukan (Puisi)

Pintaku Pada Pertiwi
 Karya: Faiz Deja Ramadhan
Suatu hari di masa baru,
aku tak mengharap Indonesia menjadi baru, itu rancu.
Indonesia lama adalah jati diri,
kuno, dengan tatanan norma yang terhormat.
Aku tak inginkan Indonesia menjadi kaya,
kaya untuk dimanfaatkan negara lain,
atau bahkan
aku tak ingin Indonesia menjadi pintar,
pintar ?              
Pintar untuk membuat intrik politik, pintar membangun kebodohan bangsa.
Aku tak bicara tentang orang, aku tak bicara tentang mereka. Pemimpin.
Aku berkicau tentang semua. Tentang Indonesia yang mulai lepas dari pelukan pertiwi.
Indonesia,  pada pertiwi pernah aku memohon. Pada Tuhan dan Tuhan yang lain.
Yang maha memiliki pertiwi.
Aku ingin doaku dikabulkan,
aku mengharap ada pemimpin yang diktator wahai pertiwi.
Aku ingin pemimpin yang diktator.........
Pemimpin yang dengan kediktatorannya, berani membunuh para koruptor,
Aku ingin pemimpin yang diktator.........
Pemimpin yang dengan kediktatorannya, serakah menguasai alam Indonesia,
dan enggan membaginya dengan bangsa lain.
Aku ingin pemimpin yang diktator.........
Pemimpin yang dengan kediktatorannya mau mengambil uang rakyat,
lalu membaginya dengan rakyat,
membagi untuk pendidikan,
membagi untuk kesehatan,
membagi untuk kesejahteraan dan pembangunan,
Aku ingin pemimpin yang diktator......... wahai pertwi,
aku bicara padamu,
goyahkanlah, gemparkanlah Indonesia,
lahirkanlah diktator itu untukku, dan untuk mereka Indonesia,
dan bagi mereka-mereka koruptor, atau mafia , yang mati dengan pemimpin yang diktator.
Oh pertiwi... aku berdoa di malam saat kembang api menyala,
Saat Indonesia menghamburkan uang untuk mimpi yang masih angan-angan.
Hadirkan kediktatoran untukmu pertiwi, untuk kami Indonesia.

Puisi ini dapat dibaca pada buku Gantung Saya di Monas terbitan CV Sunrise Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar