Pemerataan pengunjung museum di
Yogyakarta tidak begitu seimbang. Hanya museum-museum tertentu yang ramai dikunjungi,
sedangkan museum kecil seperti Museum Purbakala Pleret jarang dikunjungi. Adanya
kartu pintar museum yaitu kartu yang dibagikan kepada pengunjung untuk dapat
mengunjungi semua museum yang ada di Yogyakarta dengan biaya administrasi pengunjung
dan mahasiswa namun gratis bagi pelajar,
diharapkan kartu tersebut membuat pemerataan pengunjung museum di Yogyakarta.
SELAMAT DATANG
SELAMAT DATANG
Jumat, 12 Juni 2015
PEDULI MUSEUM PENDIDIKAN INDONESIA
Salah satu museum baru di Yogyakarta
adalah Museum Pendidikan Indonesia, museum ini masih memiliki koleksi terbatas.
Penulis mengusulkan adanya kegiatan
menyumbangkan barang-barang yang berhubungan dengan Museum Pendidikan Indonesia
seperti sabak, grip, buku kuno, film pendidikan, dll. Pihak yang telah
menyumbang akan mendapat sebuah piagam sebagai penghargaan atas kepeduliannya
pada museum. Dengan demikian ada peran serta masyarakat dalam pengembangan
museum.
APLIKASI MUSEUM MAPS
Banyaknya museum di Yogyakarta semakin menambah keistimewaan
kota budaya ini. Namun dengan museum yang ada belum banyak masyarakat dan
wisatawan yang tahu keberadaan museum di Yogyakarta. Alangkah baiknya ada suatu
aplikasi yang menyajikan peta digital tentang museum di Yogyakarta beserta review
singkat mengenai museum, tiket, dan
fasilitasnya. Dengan demikian museum dapat mendekatkan ke pengguna gadget yang
sedang berkembang serta mempermudah mereka mengunjungi museum.
MUSEUM MASUK SEKOLAH
Langkah Barahmus DIY dan Dinas Kebudyaan dalam
program wajib kunjung museum patut diapresiasi. Program tersebut diharapkan
dapat memupuk kecintaan terhadap museum sejak dini. Namun alangkah lebih baik
kedepannya dapat dikembangkan ke dalam bentuk lain seperti museum masuk sekolah,
yaitu pendelegasian ke-30 duta museum untuk kampanye tentang museum di Yogyakarta
dan sebagai sarana pengkaderan duta museum, agar minat generasi muda terhadap
museum dan duta museum lebih tinggi .
Rabu, 15 April 2015
IDE HEBAT : PERANAN BANK SAMPAH SEBAGAI PELUANG USAHA UNTUK PENINGKATAN EKONOMI DI KOTA YOGYAKARTA
Sampah merupakan masalah lingkungan
yang paling marak ditemui dan membebani masyarakat yang hidup di dalam
lingkungan tersebut. Sampah sebenarnya limbah atau output alias keluaran yang
bersifat sisa atau sudah tidak memiliki nilai pakai lagi yang dapat berupa barang
dan dihasilkan oleh manusia atau dibuang dari barang-narang yang digunakan oleh
manusia. Sampah pada umumnya dibagi menjadi dua berdasarkan sifatnya yaitu
sampah basah dan sampah kering atau sampah organik dan sampah anorganik. Sedangkan
berdasarkan bentuknya sampah dapat berupa sampah cair dan sampah padat. Permasalahan
sampah yang kerap ditemui di masyarakat tidak hanya terjadi di beberapa kondisi
lingkungan atau wilayah. Wilayah perkotaan hingga pedesaan sekalipun bisa
terbebani dengan problematika klasik pada lingkungan ini, sampah agaknya dapat
menjadi sesuatu yang mengganggu manusia secara pribadi alias individu atau dalam masyarakat.
Di
Kota Yogyakarta sendiri menyumbang sampah sekitar 230 hingga 300 ton perhari
dan 70% dari total sampah tersebut dapat dikelola, sedangkan 30% sisanya
menjadi sampah yang masih menumpuk di Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta sebagai
penyumbang sampah terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta memang sudah mengkhawatirkan,
karena volume sampah di tempat pembuangan akhir pun dipenuhi oleh sampah dari
Kota Yogyakarta yaitu sekitar 70% dan 30% sisanya adalah sampah dari Kabupaten
Bantul dan Sleman. Kedua kabupaten tersebut menyumbang sampah yang cukup kecil
di TPA Piyungan karena memang masih memiliki daerah pedesaaan yang luas
sehingga masyarakat masih dapat membuang sampah di pekarangan dengan cara dibakar
ataupun ditimbun untuk sampah-sampah organiknya, meskipun cara tersebut juga
masih dianggap salah karena tak jarang masyarakat di pedesaan juga menimbun
sampah plastik yang tak terurai. Sangat jelas hal tersebut dapat merusak
lingkungan dan ekosistem yang ada. Beda dengan daerah kota yang tidak lagi
memiliki lahan pembuangan sampah, mereka harus menampungnya dan diambil oleh
petugas sampah untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir. Itulah penyebab Kota Yogyakarta
menyokong pasukan sampah tertinggi. Lebih parahnya lagi masyarakat kita baik
kota maupun kabupaten belum mau memilah sampah mereka sehingga menyulitkan
petugas untuk melakukan pemisahan sampah yang pada akhirnya langsung dibuang
begitu saja di TPA Piyungan, tentunya hal ini juga dapat merusak lingkungan
karena tumpukan sampah yang mengandung material anorganik tidak akan terurai di
kawasan pembuangan sampah, hal tersebut akan memicu kerusakan alam yang lebih
parah. Belum lagi ditambah ulah penduduk kota yang membuang sampah serta limbah
rumah tangga mereka ke Sungai Code maupun Sungai Winongo. Yogyakarta tinggal
menunggu waktu untuk menjadi kota darurat sampah layaknya Jakarta dan kota-kota
besar lainnya.
Pemerintah
dan pihak terkait sejatinya sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasi
permasalahan sampah, salah satunya dengan menempatkan tempat sampah organik dan
anorganik di sudut-sudut kota. Sosialisasi
juga tak henti dilakukan sebagai upaya nyata agar masyarakat dapat memilah
sampah sehingga memudahkan Pemkot untuk melakukan pengelolaan selanjutnya.
Namun usaha tersebut terkesan belum maksimal karena dari sekian banyak sampah
baru 60%. Kita masih memiliki 40% sampah yang masih mengotori kota ini maupun
tempat pembuangan akhir. Perlu adanya upaya untuk meningkatkan kesadaran dan
partisipasi masyarakat luas untuk melakukan pengelolaan sampah secara mandiri.
Pada
tahun 2013, pemerintah kota telah mencanangkan pembentukan bank sampah di
setiap rukun warga dan hasilnya adalah 60% sampah dapat dikelola dengan baik.
Karena dari program yang ada baru sekitar 300 RW dari 600 RW yang menerapkan
sistem bank sampah. Bukan tidak mungkin jika bank sampah diturunkan hingga tingkat Rukun Tetangga maka partisipasi
masyarakat akan jauh lebih tinggi karena mereka diberi kewenangan untuk
mengelola sampahnya sendiri dengan lebih maksimal. Dengan kata lain strategi
dan eksekusi yang dilakukan adalah membuat suatu jaringan bank sampah yang
terintegrasi dengan baik dari tingkat bawah yaitu RT kemudian dari RT akan
memasok ke tingkat RW. Dari tingkat RW inilah sampah akan diambil oleh petugas
bank sampah di tingkat kelurahan yang kemudian dipasok ke pengelolaan akhir
yaitu tingkat kecamatan. Di tingkat kecamatan inilah sampah akan dikelola
sebagaimana mestinya. Pemkot hanya tinggal menyediakan modal untuk memberikan
sokongan alat pengelolaan sampah bagi kecamatan seperti halnya alat pengolahan
kompos yang dapat digunakan untuk mengelola sampah organik oleh warga untuk membuat pupuk kompos sehingga hasilnya
pupuk tersebut dapat dijual ke pasaran, itulah salah satu ide bisnis yang baik
serta dengan melengkapi truk pengangkut sampahnya. Sedangkan sampah
anorganiknya akan dijual ke tengkulak agar diolah menjadi barang daur ulang
atau dapat didaur ulang sendiri oleh warga dan dipisahkan sendiri ketika
sampah-sampah tersebut masih berada di RT atau RW. Sampah Daur ulang dapat
menjadi peluang usaha yang sungguh besar jikalau kelompok seperti ibu-ibu PKK
mampu mendaur ulang tersebut menjadi bahan berguna kembali seperti pembuatan
payung, tas, topi, dompet, tempat pensil dan sebagainya dari sampah anorganik
seperti plastik-plastik kemasan deterjen, makanan, minuman dan lain-lain.
Pengelolaan daur ulang dengan pemisahan Bank Sampah ini dapat diteledani dari
berbagai contoh yang telah dilakukan di daerah-daerah lain sehingga warga Kota
Yogyakarta di tingkat RT dapat menekuninya. Dari sinilah dengan ide bisnis
berbasis lingkungan seperti ini, tingkat kecamatan akan memperoleh uang dan
keuntungan yang kemudian menjadi saldo bagi bank-bank sampah di bawahnya.
Jaringan ini memiliki sistem yang sama seperti koperasi sebagai sokoguru
perekonomian Indonesia. Dengan demikian pengelolaan sampah yang melibatkan
masyarakat ikut serta didalamnya sebagai solusi terbaik pemerintah kota untuk
menanggulangi permasalahan sampah serta menjadikan solusi sebagai ide bisnis
yang dapat diterapkan untuk memandirikan masyarakat. Sekarang sampah bukan
hanya menjadi sesuatu yang tidak bernilai melainkan barang bernilai ekonomis dapat
menjadi peluang usaha dan dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan ekonomi
warga dari tingkatan paling rendah. Hal ini juga sebagai upaya melestarikan
lingkungan serta meminimalkan bermuaranya volume sampah yang terlalu banyak ke
tempat pembuangan akhir maupun saluran air seperti sungai dan selokan. Dalam
hal ini jika bank sampah di tingkat RT dapat berjalan dan mengurangi volume
sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, pemerintah kota juga dapat
menghemat biaya sebesar 2,2 Milyar dana yang diperlukan untuk membayar
retribusi sampah di Piyungan. Dengan begitu akan banyak keuntungan yang
dirasakan banyak pihak dari adanya solusi permasalahan sampah di lingkungan
kota Yogyakarta yaitu berupa bank sampah ini dimulai dari kebersihan yang
dinikmati masyarakat, adanya peluang usaha yang dapat berjalan dan menjadi saldo
pemasukan bagi anggaran di kecamatan-kecamatan dan mempermudah pengelolaan
sampah serta manajemen Tempat Pembuangan Akhir (TPA) oleh Pemerintah Kota (Pemkot).
Minggu, 15 Februari 2015
Karya 42 (Cerpen) Dibukukan
DIA ( yang tak sempurna )
Karya : Faiz Deja Ramadhan
Memiliki
pengharapan yang pasti jika kesusahan akan segera hilang.
Jabur
37:9-11
Pagi
menjelang, matahari masih memancarkan sinarnya dengan redup. Dinginnya kota
jogja terasa menusuk masuk ke sela-sela tebalnya selimut. Danu, terbangun dari
tidurnya. Melipat selimut dan membereskan kamar tidur. Mukanya dibasuh
menggunakan air dingin, tak lupa dia mengucapkan syukur kepada Tuhan yang
memiliki jiwanya, hari ini masih diperbolehkan melihat dunia. Dengan kaki kecil
yang tak sempurna, Danu mengayuh sepeda menelusuri gang-gang sempit di Kotagede,
rutinitas di pagi hari. Kayuhan sepedanya tak lancar, bahkan Dia harus
memegangi kemudi hanya dengan satu tangan kirinya. Danu terlahir dengan fisik
tak sempurna sejak empat puluh tahun yang lalu. Masa kecilnya tak sebahagia
anak-anak yang lain. Darah keluarga Danu memaksanya harus memiliki kondisi
fisik seperti sekarang. Saudaranya tak memiliki penglihatan yang sempurna sejak
lahir, begitu pula dengan Danu. Namun Dia tak seberuntung dengan abang dan
adiknya, kaki Danu memiliki kelainan, begitu pula dengan tangan kanannya yang
tumbuh tak sempurna.
Dengan
pelan tapi pasti dikayuhnya sepeda yang selalu menemani selama ini. Danu
menambil dagangan di loper koran yang sudah menjadi langganannya. Setiap hari Dia
menjajakan koran di kios kecil beserta rokok dan minuman kemasan. Lumayan
laris, banyak dari pembelinya adalah orang-orang yang sedang menunggu keluarga
mereka di Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Kotagede. Kondisinya yang tidak seperti
kebanyakan orang tak pernah menyurutkan semangat untuk meraih rupiah dengan
cara yang mulia. Berbagai informasi Dia salurkan ke setiap pembaca. Berkat kegigihannya
itu, Danu tak pernah menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Kesendiriannya
selama empat puluh tahun ini tak pernah membuat hidup sepi, masih ada Tuhan
yang selalu menemani baginya. Keluarga yang lain memang memiliki pekerjaan yang
lebih mapan dari pada Danu, tapi Dia tak pernah berkecil hati melihat keluarga
yang lain lebih enak. Selalu sabar merupakan prinsip dan harga mati.
Hari
minggu, berarti Dia harus menutup kiosnya lebih cepat. Danu tak pernah lupa
menyempatkan waktu berdoa ke rumah Tuhan setiap hari minggu. Menyampaikan keluh
kesah dan meminta berkah untuk hidup yang tak dapat diprediksi. Setelah dari
gereja, barulah kios kecil yang menjadi usaha stu-satunya dibuka kembali. Bagi
kebanyakan orang usahanya hanya sebuah kios koran. Kecil, dengan keuntungan tak
seberapa. Tapi ada makna dibalik minimnya untung yang Dia dapat.
“
Saya tak pernah melihat untung, semua yang saya dapat adalah karunia Tuhan dan
akan kembali pada Tuhan.” Kata Danu dengan bersahaja.
Tak
jarang orang dapat tabah seperti Dia, bahkan dengan kondisinya yang seperti
itu. Usahanya mulia dari pada mereka yang sempurna dan pintar tapi hanya
membodohi orang banyak, atau mereka yang kuat secara fisik tapi meminta belas
kasihan orang lain. Usahanya lebih sempurna dari pada fisiknya. Orang memandang
dia sebelah mata, bahkan teman bermainnya waktu kecil. Pendidikan ditamatkan
dengan bully setiap harinya, namun
kegigihan sudah tergambar. Tak terlalu mencolok disisi pelajaran, namun dia
termasuk pemeluk yang teguh. Mengerti firman Tuhan dengan jelas, bahkan dia
juga menjadi pengajar yang baik.
Saat
siang sudah tergelincir, Danu kembali menutup kios kecilnya. Tak banyak
dagangan yang diambil di hari minggu. Sudah disesuaikan dengan kondisi kios
yang buka tidak seharian penuh. Setelah pagi berdoa kepada Tuhan, sekarang
giliran Dia harus membagi ilmu yang dipunyai kepada anak-anak yang masih lugu.
Di gereja yang sama Danu menjadi pengajar bagi anak-anak di sekolah minggu.
Sekedar mengajarkan firman dan melatih paduan suara, melantunkan pujian untuk
Tuhan yang memberi nafas. Ini adalah sebuah pengabdian, wujud rasa syukurnya
pada Sang Pencipta.
“
Pendidikan yang baik bukan dilihat dari nilai dan status sarjananya, namun
seperti apa kita dapat membagi ilmu yang kita punya kepada orang lain, dan
menjadikan ilmu itu menjadi berguna”, bagiku.
Baginya
memberikan pengajaran tentang ilmu agama lebih bermanfaat dari pada membagi
aljabar yang tak pernah dipergunakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Danu memang tak sepandai orang lain, namun kegigihan dan pengetahuan tentang
agama membuat Dia disegani anak-anak yang diajarnya. Pengabdiannya kepada
Tuhan.
“
Mas Danu itu pintar, apalagi kalu dia sedang membaca doa dan firman. Dengan
mata yang tak sempurna, dengan kaki yang susah berjalan dan menulis dengan
tangan kirinya, Dia adalah sosok sempurna untuk menggambarkan kegigihan dan
kesuksesan untuk mensyukuri setiap kondisi hidupnya”, ujar Nindya yang pernah
menjadi muridnya di sekolah minggu.
Hidupnya
penuh dengan kekurangan, tapi hati dan jiwanya penuh dengan kelebihan. Dia
gigih dan mau berbagi. Danu, tak pernah memandang fisiknya sebagai penghambat.
Memang tak seorangpun wanita yang menerima fisiknya, namun kesendiriannya
adalah jalan yang harus ditempuh. Usahanya tak dapat disejajarkan dari usaha
yang memiliki omset tinggi, tapi semangat dibalik usahanya tak jarang ditemukan
dalam kehidupan orang lain, belum juga kebaikannya membagi ilmu. Seharusnya
kita iri melihat kehidupannya yang penuh dengan kekurangan namun penuh inspirasi.
Sore
dilalui dengan sepeda yang masih saja dikayuh dengan pelan, menelusuri jalan
yang sama, sempit dibalik bangunan tua yang eksotik.
Kotagede menjadi saksi hidupnya, saat matahi menutup matanya, Danu menutup hari
dengan senyum penuh makna. Malam menjelang adalah surga untuk mengistirahatkan
raga yang tak memiliki kekuatan penuh. Mengumpulkan tenaga lagi, untuk esok
hari yang masih panjang, menjalankan usaha, menyapa pelanggan, menyapa dunia
yang bersahabat.
Baginya,
“ Tuhan akan mengusap air mata setiap hambanya, tak kan ada lagi kematian,
kesusahan, dan kesakitan” Wahyu 21:23,4.
Cerita ini dapat dibacva dalam Buku " Perjalanan Hidup Sang Difabel" Penerbit AE Publishing.
Jumat, 30 Januari 2015
Karya 39, 40, 41 (Artikel) Dipublikasikan
Candi Sukuh, Peninggalan Sejarah Bercorak Suku Maya
See more at: http://www.siperubahan.com/read/705/Candi-Sukuh-Peninggalan-Sejarah-Bercorak-Suku-Maya
Jika kita mengingat berita-berita populer di tahun 2012, nama Suku Maya seakan menjadi topik paling ramai di berbagai media. Ramalannya tentang hari kiamat menjadi ketakutan tersendiri. Di balik ramalan tersebut sebenarnya terdapat peninggalan yang bernilai tinggi, termasuk candi yang berada jauh di Benua Amerika. Bentuknya yang unik membedakan Candi Suku Maya dengan candi-candi di belahan dunia lain, seperti India dan Indonesia. -
See more at: http://www.siperubahan.com/read/705/Candi-Sukuh-Peninggalan-Sejarah-Bercorak-Suku-Maya
SOLO, RIWAYATMU KINI
Solo. Bagi pecinta jalan-jalan dan pebisnis, mungkin kota budaya sekelas Solo sudah tidak asing lagi di telinga. Kota yang merombak habis tatanannya pada masa kepemimpinan Jokowi ini semakin cantik dan mengokohkan dirinya sebagai kota budaya berbasis modern. Tak salah memang jika kota ini menganggap dirinya sebagai Spirit Of Java. Mengingat budaya yang masih terasa kental dapat berbaur dengan modernisasi dan pembangunan yang berbau multikulturalisme.
see more at : http://palingindonesia.com/solo-riwayatmu-kini/
BABUKUNG, RITUAL KEMATIAN DARI TANAH BORNEO
Indonesia begitu luas dengan pulau-pulaunya, keadaan geografis tersebut juga menyebabkan ragam budaya yang semakin banyak karena hubungan satu dengan yang lainnya terkendala jarak dan waktu pada jaman dahulu. Banyak daerah memiliki kebudayaan unik yang terilhami dari alam dan kepercayaan mereka.
Salah satu kebudu\ayaan yang hanya ada di indonesia dan dapat dinikmati sampai saat ini adalah upacara Bukung atau sering juga disebut Babukung. Bagi masyarakat Dayak Kaharingan atau sebagian besar Dayak yang tinggal di pulau Kalimantan, hal tersebut tentunya bukan sesuatu yang aneh, namun bagi masyarakat Indonesia secara luas tentu akan menjadi hal baru yang dapat dinikmati serta dipelajari, pengalaman ini penulis dapatkan dari cerita teman yang melihat langsung upacara tersebut beberapa waktu lalu saat dia harus tinggal di pedalaman Kalimantan tengah.
Langganan:
Postingan (Atom)







