SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Jumat, 23 Januari 2015

Karya 33 Dibukukan (Cerpen)

Tentang Duka
Faiz Deja Ramadhan

Kehidupan manusia di planet bumi ini tak luput dari tujuan dan arti kehidupan yang telah dirangkai oleh Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Sejatinya Allah menciptakan kehidupan manusia melalui tahapan-tahapan dan proses-proses yang cukup panjang. Diawali dengan penciptaan alam semesta dimana di dalam alam semesta tersebut terdapat banyak galaksi dan gugusan bintang sementara di dalam galaksi sendiri terdapat pula tata surya yang dilengkapi sistem atau tata peredaran banyak planet dan benda-benda langit seperti komet, bintang, satelit misalnya bulan, meteor dan sebagainya. Allah pula menciptakan sebuah planet kehidupan yang khusus diperuntukan bagi ciptaan-Nya yang dikehendaki sebagai makhluk hidup di alam dimensi dunia, selain malaikat dan iblis. Mahkluk hidup itulah tumbuhan, manusia dan hewan.
Makhluk hidup yang paling sempurna adalah manusia yang diutus oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi serta sebagai pemimpin untuk menjaga ciptaan Allah lainnya di dunia. Manusia juga dibekali oleh akal dan pikiran karena sebagai makhluk sempurna tingkatan nalar manusia pasti berbeda dengan dua makhluk hidup ciptaan Allah lainnya. Akal dan pikiran manusia dibekali ke dalam ruh setiap insan agar dapat memberikan manfaat kepada semua makhluk ciptaan Allah dan manfaat dalam melesetarikan alam semesta serta manfaat hakiki sebagai seorang hamba terhadap Penciptanya yaitu beribadah kepada Allah.
Selain akal dan pikiran manusia juga memiliki kalbu atau perasaan sehingga dia mampu menyeimbangkan ibadahnya kepada sesama makhluk dan kepada Allah. Namun di dalam segala proses pasti akan ada akhir kecuali dunia akhirat yang kekal atau abadi. Kehidupan manusia pun dapat sewaktu-waktu kembali kepada Sang Khaliq sebagai Maha Pencipta yaitu Allah, dengan bantuan Izrail yang bertugas sebagai malaikat pencabut nyawa, Allah tidak akan pernah sulit mengambil ruh kita untuk kembali di sisi terdekat-Nya. Allah memanggil hambanya atas dasar ketentuan yang telah Dia buat dan tergariskan dalam takdir-Nya di Lauhul Mahfuzh sejak alam semesta ini belum diciptakan, dapat dikatakan semacam skenario besar, panjang dan detail untuk semua hamba-Nya. Setidaknya itulah pelajaran yang aku dapatkan ketika hari itu, hari tentang duka menyelimuti keluarga besarku, hari yang benar-benar baru aku pahami saat aku dewasa.
Hari itu merupakan pelajaran baru bagiku, ketika aku melihat Desi kecil yang mungkin masih begitu belia untuk mengingat kejadian itu. Setahu dia hanya kumpulan orang yang penuh riuh di halaman. Saat itu tangis pecah menyambut Bapak Desi yang diantar ambulan. Badannya sudah putih berbalut kafan, aku menangis tersedu di bawah pohon pisang yang tumbuh rimbun di halaman.
Tak aku sangka, keluarga juga berpikir semacam itu. Baru saja kemarin paman masih mengayunkan cangkulnya di sawah, tepat pukul tiga sore tenaganya tak lagi kuat menumpu badannya di bawah matahari yang mulai condong. Panas seharian membuat kehilangan banyak daya. Dia ditemukan tergeletak di pematang yang hijau. Saat itu pula rumah sakit tak mampu menolong nyawanya. Rasa sedih bercampur amarah saat pihak rumah sakit tidak memperbolehkan keluarga melihat tubuh paman di ruang pemeriksaan hanya karena jam malam telah larut, padahal saat itu kondisinya kritis. Masih ingat betul saat budhe marah-marah ke petugas rumah sakit.
“Kami hanya mau lihat kondisi adik kami, dia sedang kritis. Apa Bapak tidak iba? Bagaimana kalau bapak ada di posisi kami?” Ujar Budhe.
Petugas hanya diam dan tak mengizinkan masuk hingga dokter memberitahu kalau nyawa paman sudah tak tertolong lagi. Sontak amarah tak terbendung lagi, bercampur duka yang mendalam, caci maki lancar keluar dari mulut budhe.
“Bagaimana kalau seperti ini kejadiannya, Bapak tidak mengijinkan kami masuk. Sekarang adik kami sudah tak terselamatkan. Kami tidak pernah melihat dia bernafas untuk yang terakhir kalinya Pak. Apa Bapak dapat menghidupkan kembali. Peraturan ya peraturan, tapi kalau seperti ini kejadiannya bagaimana?”
Penjaga rumah sakit hanya diam, tak sepatah kata dapat dia balas.
Keluarga hanya berlinang tangis kini, melihat jasad sudah berbungkus kain putih dalam peti mati yang sederhana. Warga berkumpul tanda duka. Mengerumuni, berkumpul di rumah duka. Aku masih melihat Desi dengan asyik bermain, tertawa, bahkan tak mengerti duka itu. Ibunya bersandar di tembok yang bisu, menangis tersedu tanpa air mata. Kantung air matanya sudah pecah menganak sungai hingga tangisnya kering dan pilu. Tangannya masih juga meraba perutnya yang besar karena kandungannya sudah memasuki tengah masa kandungan. Anak perempuan yang di kandungnya tak akan dapat merasakan kasih sayang seorang bapak. Dua anak yang yatim.
Pukul dua jasad itu dimakamkan tepat di pemakamam yang letaknya di belakang rumah. Memudahkan jika ingin menjenguknya. Masih ada tangis, aku juga tak paham benar apa yang terjadi sebenarnya. Masih SD waktu itu, setahuku dia adalah sosok yang selalu membahagiakanku sebagai keponakannya, memberikan hadiah saat kenaikan kelas dengan prestasi bagus.
Mereka yang penuh duka masih mengerumuni pusara tak tega meninggalkan dia sendiri dikubur tanah, ditanya para malaikat. Semua harus terjadi, ketegaran sering diuji dengan hal semacam ini, duka hanya di awal saja.
“Bapak kemana?” Tanya Desi kecil yang tak berdosa.
“Bapak lagi pergi, besok kalau sudah gede pasti tau bapak kemana.”
Mungkin dalam benak Desi, dia akan menunggu hingga dewasa tiba, mengetahui kemana bapaknya pergi. Ke surga. Dia masih menjalani harinya dengan riang layaknya anak-anak lain, istri paman yang sedang mengandung selalu menghibur dengan menjaga kandungannya. Orang tuanya mendampingi dan memberi semangat untuk berjuang menjadi single mother, begitu juga kami. Melupakannya itu tidak mungkin, tapi mengingatnya telah pergi hanya membuat kesedihan, anggap saja dia masih bersama, mengawasi dan menjaga dari dunia yang lain.
Aku selalu ke makamnya begitu juga dengan Desi dan yang lainnya, memberikan bunga dan mendoakannya, menunjukkan raport kenaikan kelasku yang sempurna. Menjadi yatim dan single mother tak membuat patah semangat istri dan anak-anak paman, kami hidup dan dia juga hidup di dunia yang abadi.
Hingga anak keduanya, Rama melihat dunia dan kehadirannya masih selalu dirasakan menemani di sisi kami, itu yang membuat ketegaran masih kuat saat ditinggal pergi. Ketegaran kami tak dapat diungkap atau digambarkan, tangisan telah mengkristal menjadi bara yang menyemangati hidup kami untuk menatap masa depan, tanpanya, dengannya yang jauh. Kami bersedih atas apa yang tak perlu kami tangisi, tapi Allah mengatakan tentang sebuah kebijaksanaan, manusia yang bijak tak akan menangisi mereka yang mati atau yang hidup, tapi mereka yang selalu menengadah dan membaca syukur, merendahkan diri atas apa yang Allah ujikan sehingga manusia mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi hanyalah karena Allah dan semata-mata atas kehendak-Nya.
            Seperti kutipan ayat suci yang telah difirmankan oleh Allah Subhana Wa Taala dalam Al-Qur’an sebagai kitab bagi para hamba-Nya yaitu : “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un” (انا لله وانا اليه راجعون) yang merupakan potongan dari ayat Al-Quran, dari Surah Al-Baqarah, ayat 156. Dengan isi penuh ayat tersebut adalah:
الذين اذا اصابتهم مصيبة قالوا انا لله وانا اليه راجعون
"(Yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali."

Cerita ini adalah salah satu kontributor pada event cerpen "Semua Karena Allah" oleh Ar Rahman Press.

Karya 32 Dibukukan (Cermin)

Pak Parno
Karya : Faiz Deja Ramadhan

Matahari begitu terik di ubun ubun, aspal yang lekam memantulkan sinarnya membuat keringat bercucuran. Lelaki tua mengayuh becaknya dengan nafas panjang, ibu-ibu yang lebih tua duduk di depan dengan bakul penuh dagangan. Sudah kebayang betapa beratnya ayunan pedal becak itu. Kota Jogja tidak begitu bersahabat saat kemarau tiba bagi abang becak, apalagi saat ini menarik becak bukanlah mata pencaharian yang diunggulkan. Jasanya tak lagi banyak dicari orang, mereka kalah dengan bus trans Jogja atau angkutan yang lebih cepat dan murah. Parno nampak masih setia dengan becak tua warisan mertuanya. Dia hanya meneruskan usaha mertuanya yang telah meninggal, karena memang tahun 1987 becak masih menjadi primadona. Setelah Parno terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja, dia memutuskan mengambil alih becak tersebut demi menghidupi istri dan kedua anaknya.
Suparno tidak pernah mendapat restu dari orang tuanya, karena menikahi Marsinah seorang gadis miskin yang lebih miskin darinya, namun cinta mempersatukan mereka hingga keduanya dikaruniai dua orang anak, Pargiyanto yang besar dan Riyan yang lebih kecil. Keluarga ini nampak bahagia meski dalam pikiran mereka kemelut selalu ada. Konflik rumah tangga sering muncul antara keduanya, Parno yang hanya lulusan SD tak cukup memiliki keterampilan untuk bekerja di sektor yang lebih tinggi, paling jauh menjadi buruh bangunan. Keputusan hebat dibuat oleh kedua pasangan itu, Marsinah sang istri memilih pergi merantau demi masa depan kedua anaknya, ketika inilah pengorbanan masing-masing terbagi. Marsinah sebagai pengumpul pundi-pundi untuk sekolah kedua anaknya agar tak hanya tamat SD seperti kedua orang tuanya. Sedangkan Parno yang lebih lemah dalam keterampilan harus mengurus anak dan memberi makan keduanya.
Anak-anak Parno semakin tumbuh dewasa dan menjadi sosok pendiam dengan jalan pikiran masing-masing, mereka mandiri dan bertindak hati-hati seperti bapaknya. Keduanya adalah sosok cinta damai karena memang ajaran dari bapaknya yang selalu tenang dan keluarga harmonis meski banyak kekurangan. Parno bukan sekedar bapak yang baik untuk anak-anak, namun dia adalah bapak yang tak kenal lelah merawat anaknya seorang diri kala hidupnya susah. Berkah bagi Parno adalah ketika Tuhan menyelamatkan nyawanya dari musibah gempa bumi yang melanda Jogja tahun 2006 lalu, saat yang lain masih terlelap, berkat kerajinannya dia sudah memasak di dapur, alhasil banyak korban berjatuhan karena tertimpa reruntuhan rumah, sedangkan Parno masih dapat menyelamatkan diri karena dia telah terjaga.
Tahun 2009 istrinya pulang ke tanah air setelah sekian lama berpisah. Salah satu anaknya sudah menjadi pegawai negeri di jajaran angkatan udara, sedangkan si kecil sudah bekerja di sebuah toko retail yang besar di Indonesia. Ini salah satu gambaran dari jerih payah seorang bapak yang berjuang sendiri, seorang laki-laki yang mengesampingkan ego dan mau berbagi dengan istri dalam berbagai hal, tak pernah mengeluh, membentak, bahkan meluapkan emosi yang membuat keluarga merasa tidak nyaman, perjuangannya ada karena dia tahu kalau suatu saat kebahagiaan akan datang dalam keluarga kecilnya.
Sampai kisah dari temanku ini aku tulis, Pak Parno masih menjadi bapak yang baik, tak pernah ada masalah dalam keluarganya. Namun dia tak lagi mengayuh becak, tetapi menjadi tukang bangunan yang turut membangun negeri. Tidak hanya membangun karakter anak-anak dan keluarga kecilnya yang bahagia meski serba kekurangan.

Cerita ini adalah salah satu kontributor pada "Catatan Cinta untuk Ayah" oleh Fp. Bidadari Bercadar Pelangi dan Penerbit Asrifa.

Karya 31 Dibukukan (Cerpen)

MOVE ON?
Karya : Faiz Deja Ramadhan

“Move on, perpindahan dari satu kondisi ke dalam kondisi yang baru.” Itu kalau menurutku. Kata tersebut serasa menjadi trend saat ini bersama dengan jajaran kata lainnya seperti galau, alay, hingga cabe-cabean. Move on bagi sebagian orang adalah hal yang menakutkan, bagiku juga. “Ya kali aja, lama dan nyaman dengan sesuatu yang dulu harus dilepas lalu berpindah ke yang lain.” Aku mengalami hal tersebut, bukan masalah cinta karena seumur hidup aku hanya memiliki cinta sejati untuk ibuku saja, dan apapun yang mengatas namakan cinta juga pasti akan berpisah karena itu adalah hal wajar. Semua orang harus move on karena cinta. Tapi aku tak pernah terjebak akan hal itu, cintaku setelah ibu adalah Kala (sebutan sayang), tanpa dia aku tidak akan move on. Itu komitmen.
Aku lebih susah move on dari masa kanak-kanak ke masa remaja dan dewasa. Aku masih seperti anak-anak hingga umurku yang sekarang. Jika teman-teman sibuk memikirkan tabungan untuk hari depan, aku justru sibuk memikirkan tabungan untuk bermain-main. Menjelajah tempat-tempat indah. Aku tak memikirkan sama sekali tentang menikah, tentang anak, bahkan ketika orang yang aku cintai, ibuku memohon untuk memikirkan hal itu. Bagiku duniaku masih begitu nyaman, seperti anak-anak yang suka dengan permen manis atau berlarian di halaman luas dengan teman-temannya. Aku suka boneka seperti halnya anak-anak, lelaki mana yang suka akan boneka sepertiku? Aku juga suka film kartun ketika remaja lain yang menganggap telah dewasa pergi ke bioskop demi film cinta atau laga. Dunia mereka serasa berbeda dengan duniaku yang masih seperti anak-anak, belum lagi mainan yang aku kumpulkan dari hadiah salah satu paket fast food. Stiker hadiah snack sarapan, hingga botol-botol parfum bergambar kartun. Mungkin banyak orang bilang aku tolol dan gagal move on ke fase remaja lalu dewasa, namun bagiku tak peduli namanya hidupku gagal atau tidak setiap hari adalah kegembiraan layaknya anak-anak.

Cerita ini adalah salah satu kontributor pada event "Gagal Move On" oleh Goresan Pena Publishing.

Selasa, 16 Desember 2014

Mahasiswa UGM Juara Runner Up 1 – Asean Stock Challenge 2014

Setelah 3 minggu bertanding dalam memperebutkan peringkat juara pada kompetisi perdagangan saham regional, ASEAN Stock Challenge 2014 yang diselenggarakan CIMB Niaga, akhirnya pada Rabu, 3 Desember 2014 Tim Ekonomi Mahasiswa yang berasal dari Universitas Gadjah Mada mendapatkan peringkat kedua atau juara Runner Up 1 di tingkat regional Indonesia.
ASEAN Stock Challenge CIMB yang telah memasuki tahun kelima merupakan kompetisi perdagangan saham regional yang diselenggarakan setiap tahun agar mahasiswa-mahasiswa dari Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand dan Kamboja memperoleh pengetahuan dan pengalaman pada perdagangan lintas batas di empat bursa saham utama ASEAN. Hal ini dilakukan dengan cara membeli dan menjual saham di dunia nyata serta melakukan online trading sepenuhnya sebagai simulasi.
Selain itu ASEAN Stock Challenge CIMB juga dimaksudkan agar memberikan banyak ilmu baru dan pengetahuan besar kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memahami industri pasar modal, yang sampai saat ini baru dipahami kurang dari 5% dari total masyarakat Indonesia. Dengan adanya kompetisi dan para juara kompetisi ini, CIMB Niaga berharap mahasiswa mampu menyebarkan pengetahuan tentang industri keuangan pasar modal dan saham kepada seluruh penduduk Indonesia lainnya, terlebih lagi ASEAN Economy Community (AEC) telah bersiap menciptakan suasana perekonomian baru di seluruh negara anggota ASEAN mulai tahun 2015.
Tim Ekonomi Mahasiswa ini memiliki anggota yang berasal dari berbagai jurusan di UGM antara lain Ratna Utami dari Manajemen Hutan, Faiz Deja dari Geofisika, dan Afil Devita dari Ekonomi Perbankan-Sekolah Vokasi dan ketua tim yang telah berpengalaman dan terjun langsung sebagai investor dalam industri pasar modal yaitu Fuad Azhar dari Teknik Fisika, Fakultas Teknik. Tim ini dibimbing oleh Bapak Nazrul Effendy, Ph.D., Dosen Teknik Fisika, Fakultas Teknik UGM. (FDR)

Publikasi lain ada di:

GamaSEC, Kompetisi Social Entrepreneurship Nasional oleh BEM KM UGM

Setelah menghadapi tahap seleksi proposal online sembilan tim finalis Gadjah Mada Social Entrepreneurship Challenge (GamaSEC) akan melakukan serangkaian acara camp selama tiga hari di Kota Yogyakarta yang dimulai pada hari Sabtu 22 November 2014. Sembilan tim finalis tersebut merupakan wakil dari masing-masing universitas di seluruh Indonesia yang beranggotakan tiga orang pada setiap tim. Sembilan perwakilan universitas yang menjadi finalis tersebut berasal dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Negeri Ar-Rainy Aceh, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Jenderal Soedirman, dan 2 tim perwakilan dari Institut Pertanian Bogor.
Rangkaian acara pertama yang dijalani sembilan finalis tersebut adalah Seminar Nasional bertemakan “The Era Of Entrepreneurship” yang menghadirkan para pembicara yaitu Bapak Yoyok Heri Wahyono (Owner Warung SS), Rizal Fakhrudin (Indonesia Medika), Shiro Ngampus dan dimoderatori oleh Birul Qodriyah (Mapres UGM) serta dilengkapi sambutan dari Direktorat Kemahasiswaan UGM dan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diwakili Kepala Disperindagkop DIY. Tidak hanya itu rangkaian acara lainnya seperti presentasi penyisihan untuk empat besar, Fieldtrip, Visit Village, Coaching, Jogja Fun Race, presentasi final 4 besar, hingga Gala Dinner dijalani peserta dengan sangat antusias dari hari pertama hingga hari ketiga.
GamaSEC yang telah menjadi kompetisi tahun ketiga, yang diselenggarakan oleh Kementreian Kewirausahaan/Ekonomi Mahasiswa BEM KM UGM dari mulai tahun 2012 hingga 2014, akhirnya mengumumkan juara GamaSEC tahun 2014 saat Gala Dinner berlangsung. Dimana anugerah juara pertama diberikan kepada Tim UIN Ar-Rainy Aceh, juara kedua kepada Tim Universitas Airlangga dan juara ketiga serta keempat dianugerahkan kepada Tim Universitas Brawijaya dan Institut Pertanian Bogor.
Rangkaian acara GamaSEC camp selama tiga hari ini dilakukan dengan tujuan agar kompetisi nasional ini dapat dimaknai tidak hanya sebagai kompetisi belaka. Namun sebuah ajang untuk memperdalam arti dari sebuah kegiatan social entrepreneurhsip. Di mana definisi social entrepreneurship sendiri merupakan bisnis yang tidak hanya memikirkan keuntungan untuk pengusahanya itu sendiri, melainkan dapat memberikan nilai lebih kepada masyarakat sekitar dengan memberdayakannya dan masyarakat tersebut mendapat keuntungannya pula.
“Kata memberdayakan mengartikan dari yg tidak berdaya, menjadi berdaya. Ini merupakan bisnis yang win-win solution.” Kata Ganjar, Mahasiswa Teknik Nuklir UGM sebagai ketua panitia GamaSEC 2014.
(F.Deja.R)

Publikasi lain ada di :

Jumat, 31 Oktober 2014

Menulis Buku ? Why Not !

Menulis, setiap orang dapat melakukan itu. Tapi menjadi penulis adalah impian yang susah untuk digapai, latihan tidak cukup satu dua kali, bahkan sepanjang hidup adalah latihan untuk menjadi penulis yang baik. Impianku sedari kecil adalah menjadi penulis yang terkenal, tidak harus seperti JK Rowling atau sastrawan Indonesia yang melegenda. Aku hanya ingin memiliki buku yang berguna dan menginspirasi bagi banyak orang. Aku mulai aktif menulis sejak akan masuk ke perguruan tinggi, tugas yang begitu padat menjadikanku berlatih kata-kata menyusun laporan praktikum atau esai untuk tugas.
Dari hal itulah keinginan melanjutkan mimpi mulai terbuka, aku berlatih dari lomba ke lomba. Tidak berharap banyak, mendapat sertifikat kontributor saja aku sudah sangat senang, apalagi mendapat piagam dengan tulisan juara, setidaknya tulisanku diakui orang lain lalu mereka terbitkan menjadi buku bersama. Aku memang belum memiliki buku utuh karyaku sendiri, namun beberapa buku sudah mencantumkan karyaku. Tidak apa bagiku karena aku menganggap diriku masih berlatih sampai saat ini.

Kelak mungkin aku akan menjadi penulis hebat, tentunya latihan saja tidak cukup. Aku juga harus aktif mempromosikan karyaku yang ada dalam buku bersama tersebut agar bukunya laku, bukan untuk mencari untung tapi memperkenalkan diri kepada pembaca. Setiap ada waktu aku dan teman seperjalananku selalu melakukan perjalanan menemukan tempat-tempat menarik yang nantinya dapat aku jadikan acuan ketika ada lomba tiba, sebagai latar cerita atau tema yang sering muncul dalam persyaratan lomba. Menjadi penulis itu tidak mudah bahkan aku masih jauh dari seorang penulis. Aku memiliki beberapa teman penulis yang sudah membubuhkan tulisannya di beberapa media, tapi aku masih bingung mencari jalan, kemana aku harus mengirimkan tulisanku, banyak orang yang masih bingung sepertiku. Dapat berkarya dan memiliki karya tapi tidak tahu harus diapakan, salah satunya hanya disertakan dalam lomba yang diterbitkan secara bersama, minimnya link ke penerbit sungguh menyusahkan bagi penulis pemula di luar sana termasuk aku. Iri rasanya ketika mendengar anak kecil yang sudah menerbitkan berbagai macam buku sedangkan aku yang sudah sebesar ini masih dengan mimpi-mimpi memiliki buku, mungkin beberapa caranya adalah menerbitkan buku secara indie pada penerbit ternama seperti penerbit Rasibook atau mungkin  memanfaatkan voucher yang didapat dari hadiah lomba menulis artikel atau semacamnya untuk menerbitkan buku sendiri, setelah itu melakukan pemasaran sendiri, hitung-hitung jadi wisrausahawan buku. Terdengar sedikit gila tapi tidak ada salahnya untuk dicoba, semoga dalam lomba yang akan datang aku mendapatkan kesempatan itu dan aku tidak akan berhenti mengumpulkan bukti tulisanku serta terus membuat karya. Semangat berkarya ini yang sejatinya telah aku pelajari semenjak hobi menulisku muncul, bahwa yang aku tahu Edison tidak akan pernah mampu menghasilkan karya terbesar dan terhebatnya kalau tidak melakukan percobaan gagal selama 999 kali. (FDR)

Senin, 29 September 2014

Karya 30 Dibukukan (FTS)

PERTEMUAN-PERTEMUAN DENGAN DUKA
Karya: Faiz Deja Ramadhan 

Aku sebenarnya hanya menulis dari curhat seorang teman. Riyan, teman baruku di kota pelajar yang ku anggap sebagai kakak, saat keluarga terasa jauh di kota seberang. Aku mendapat pelajaran banyak darinya, tentang kehidupan, tentang ilmu pengetahuan, dan tentang pengorbanan. Hidupnya tak begitu mulus, bahkan tidak beruntung seperti yang lainnya, namun dia tidak pernah menyerah untuk bertahan di antara kejamnya hidup. Itulah pelajaran penting darinya yang akan aku kenang sampai nanti. Dia, di balik sosoknya yang diam, banyak cerita masa lalu yang disembunyikan.
Dia sering tertegun sendiri, bahkan merasa enggan jika orang mengatakan cinta, aku hanya diam saat dia menceritakan lebih jauh. Baginya cinta adalah anugerah yang tak pernah salah. Tapi orang lain memandang cinta adalah sesuatu yang salah dalam dirinya. Suatu kisah pertama adalah cinta yang tak terungkap dengan sahabat lamanya ketika SMP, mungkin saat itu masih disebut sebagai cinta monyet. Setiap hari Riyan hanya mengirim surat-surat kecil atau puisi di dalam laci kelas atau menempel di sepeda sang pujaan. Hal itu hanya membuat Riyan semakin di-bully . Perasaan cinta pertamanya yang ditahan sejak sekolah dasar hanya berujung sebuah caci, pertemuan dengan Bella mungkin menjadi hal manis dalam hidupnya, namun disisi lain cinta yang timbul itu adalah suatu  hal yang mustahil. Tiga tahun dengan perasaan terpendam dan bully-an yang tiada henti, dia tak pernah salah begitu pula dengan cintanya. Riyan hanya diam ketika hujatan menerpa, belajar tetap menjadi prioritas dikala duka dalam perasannya, prestasi tetap yang utama.
Kisah itu selalu menjadi bayangan hingga kini. Kisah yang berulang lagi saat duduk di bangku SMA. Sosok yang lain, Dias adalah pengisi hati berikutnya. Ini pertemuan yang diharap tidak berujung duka lagi. Lebih nyaman selama tiga tahun hubungan dengan Dias, bahkan sesekali Dias menyatakan cinta dalam nada bercandanya. Dia tahu itu tidak serius, namun Riyan tetap dalam posisinya yang tak enak. Teman-teman juga mengetahui kedekatan mereka, bully-an juga tak terelakkan. Riyan bahkan tak menganggap itu, sudah cukup kebal dilatih dengan bullyan selama tiga tahun di kisahnya yang lalu. Lagi-lagi dia menanggung apa yang seharusnya menjadi bahagianya, apalagi saat Dias menggandeng pujaan hatinya, Riyan memilih menjauh dengan perasaan yang dikuburnya dalam-dalam. Duka ini berakhir dalam tahun ke tiga, saat Dias juga menghembuskan nafas terakhirnya.
Riyan, hidupnya penuh dengan bully-an dari kisah pertemuannya dengan orang yang terkasih. Bahkan dia diasingkan ke pedalaman Kalimantan karena pertemuannya dengan orang-orang setelah Dias. Cinta dan dunianya adalah pertemuan penuh duka, rasa cinta yang selalu kandas. Bagi Riyan yang merasakan cinta, dengan siapapun dan dalam kondisi apapun adalah anugerah yang harus dihormati dan bukan sesuatu yang dijadikan ejekan terlebih ketika status sosial tak serasi. Hal indah yang aku pelajari dari sosok teman, Riyan mengisahkan tentang pertemuan yang penuh pelajaran, duka di akhir adalah pukulan saat perpisahan yang tidak manis. Namun ada hikmah, hikmah untuk saling menghargai dan tidak memandang orang lain dari pandangan kita, tapi jadilah orang tersebut. Jika diperbolehkan mengutip dari Trie Utami, “Bolehkan dia marah pada Tuhan? Mengapa dalam cinta Dia dipertemukan, tetapi untuk bersama, dia tidak diperkenankan.” Terimakasih Riyan, pelajaran hidupmu akan aku kenang.

Buku ini dapat dibaca pada Buku Pertemuan Kita Part 1 terbitan Antologi Penerbit Mafaza Media.