SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Rabu, 10 September 2014

Karya 22 Dibukukan (Cerita Inspiratif)

Aku dan Kisahku
 Karya: Faiz Deja Ramadhan
“Besok sudah Idul Fitri ya?” Seruku dalam hati.
Aku bahkan tak menghitung puasaku sudah dapat berapa hari. Masih ingat benar dibenakku aku sahur dengan mie rebus setiap paginya atau kalau tidak makan sayur seadanya dengan nasi yang aku ambil dari dapur umum.
“Setidaknya sudah banyak kue di rumah, meski tak ada baju baru.”
Aku selalu menenangkan diriku sendiri ketika kegalauan melanda. Hari ini adalah puasa terakhir. Aku masih dikelilingi dengan reruntuhan tembok, pasir, semen dan genting. Matahari begitu terik diatas ubun-ubun, berteduh di manapun akan panas kalau kampungku tak memiliki bangunan rumah-rumah lagi. Ya, aku sekarang tinggal di daerah bencana, Mei lalu seluruh rumah di kampungku bahkan di kotaku rata dengan tanah setelah gempa mengguncang di tahun 2006 ini, tanpa pandang bulu.

Berbulan-bulan aku hidup di tenda pengungsian sederhana yang dibuat bapakku di bawah pohon nangka. Baru setelah itu pindah diatas tanah bekas rumahku yang telah runtuh. Membangun bangunan sederhana dengan seng dan triplek. Terbayang betapa panasnya tempat itu. Setidaknya 20 hari aku menghabiskan puasa di sekolah yang tidak terlalu panas, namun tetap saja matahari menyengat ketika harus mengayuh sepeda pulang. Mungkin sebagian orang ini adalah lebaran yang buruk, namun bagiku ini sempurna. Tuhan itu Maha Adil menurutku, semuanya dianggap sama dihadapannya. Rumah-rumah dirobohkan dalam sebuah bencana, harta diambil, nyawapun diambil-Nya. Ada duka tapi ada juga suka, suka akan kesetaraan dan duka atas kehilangan. Setidaknya Ramadhan kini dan lebaran besok kami akan menjadi insan baru, terlahir kembali. Tak hanya aku tapi semua orang.

Sehari menjelang hari kemenangan aku lihat bapak-bapak nampak sibuk di masjid, mempercantik masjid yang masih kokoh berdiri meski gempa meluluh lantahkan bangunan di sekitarnya, Subhanallah ini adalah bukti kuasanya, rumah Tuhan tak dapat digoyahkan. Lalu ibu-ibu nampak sigap memasak di dapur umum untuk pesta makan bersama seluruh warga besok hari, di hari kemenangan. Tak ada kemewahan di Idul Fitri, itu cukup membuatku tersenyum lebar. Aku sering melalui lebaran tanpa baju baru atau makanan yang banyak, tapi aku kira mereka tidak. Mungkin aku berdosa menertawakan mereka, namun aku berharap mereka sadar akan inti dari semua ini. Mereka tak lagi bermewah-mewahan yang berlebihan.

Lebaran bagiku adalah saat aku kembali ke dalam kesucian, bertambah dewasa dan bertambah kuat keimanannya, menjadi dikiku yang baru bukan karena baju baru yang selama ini orang banggakan. Ini juga pertama kalinya lebaran di gubuk kecil dengan banyak kue, sebelumnya tak pernah ku miliki kue di toples saat lebaran. Kue-kue sisa bantuan gempa mempercantik meja kayu yang telah rapuh. Aku sering melalui Idul Fitri dalam kesederhanaan, karena memang aku berasal dari keluarga sederhana, hanya tinggal dengan bapakku. Tanpa ibu dan saudaraku yang merantau karena memang kebutuhan membuat mereka harus jauh dari aku dan bapakku. Mereka tak pernah mudik saat lebaran maupun hari besar lainnya, miris sekali lebaranku. Sedikit tersenyum sinis boleh lah, ketika melihat orang-orang juga akan menggelar hajat besar ini secara sederhana bahkan dalam keterpurukan.
“Aku sudah sering melakukannya.”
Bahkan aku menganggap lebaran kali ini paling meriah dalam hidupku, di malam takbir aku dapat berbaur dengan anak-anak. Menyalakan obor dan berkeliling kampung menyerukan takbir tanda kemenangan, semalam suntuk memainkan musik dari kaleng-kaleng bekas membuat riuh namun semarak dalam keharmonisan. Inilah hari kemenangan yang ditunggu oleh kebanyakan umat Islam, termasuk aku. Aku menunggu mereka sadar akan kesombongan dan keangkuhan yang selama ini dibanggakan. Aku berada di barisan depan, bersama para ulama kampung yang berjajar rapi menghadap kiblat, sholat Idul Fitri terlaksana dengan khusyu, dengan masih memiliki rasa was-was akan gempa yang masih saja sering dirasakan. Khutbah yang disampaikan terdengar sederhana namun dalam, menyoroti tentang gempa dan kesederhanaan, tepat seperti yang selalu aku pikirkan. Selepas itu bersalaman dan saling memaafkan, inilah saatnya bagiku untuk meminta maaf karena kemarin sempat menertawakan mereka.


Lebaran di 2006, adalah transformasi penyadaran untuk menghadap Tuhan di hari suci ini dengan kesederhanaan, karena masih banyak orang di luar sana yang tak mempunyai cukup uang untuk merayakan lebaran, namun mereka memiliki hati yang tulus untuk beribadah kepada Tuhan, karena bagi mereka Tuhan itu ada bukan karena uang yang di Tuhankan di dunia ini. Tapi Tuhan selalu hadir di dalam hati manusia dan akan terus memberikan kebahagiaan melalui perasaan apabila manusia tersebut mau merasakan.

Cerita “Aku dan Kisahku” merupakan Cerita Inspiratif pada tema Idul Fitri dalam Buku Cerita di Hari Besar Islam yang diterbitkan oleh Penerbit Asrifa.

Karya 21 Dibukukan (Cerita Inspiratif)

Tes Sholat Zidan
Karya: Faiz Deja Ramadhan

            Panas menyeringai terik saat matahari tingginya tepat di atas bayanganku ketika itu aku baru tiba di madrasah adikku, Zidan. Siang ini Zidan minta dijemput sepulang sekolah oleh abangnya. Kebetulan aku sedang berlibur di rumah dan tak sedang di tanah perantauan alias sedang dalam liburan kuliah. Zidan duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar Islam (SDI) atau biasa disebut Madrasah Ibtidaiyah (MI). Dia anak yang cukup aktif di kelas meskipun tidak begitu pandai akademik tapi Zidan adalah salah satu siswa yang aktif dan mudah bergaul. Zidan pandai dalam beberapa permainan olahraga seperti sepak bola, futsal, basket, bulutangkis, renang dan juga bidang atletik yaitu lari. Adikku yang satu ini berbeda sekali dengan aku, aku yang tak begitu pandai di bidang olahraga dan ketika sekolah dulu aku terkenal pendiam.
           
            Tepat pukul satu siang bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang sekolah telah tiba. Aku menunggu Zidan keluar dari ruang kelasnya dan menuruni tangga karena kelasnya berada di lantai dua gedung sekolah. Sekitar lima belas menit aku menunggu akhirnya aku melihat adikku keluar dari ruang kelasnya, saat dia melihatku dari lantai atas dia pun langsung berlari menuju ke tangga dan menuruni anak tangga ke lantai bawah. Aku takut kalau dia terjatuh apabila berlari terlalu cepat. Namun semangat Zidan yang sungguh-sungguh menggambarkan bahwa dia anak kecil yang aktif sangat membuatku terkadang gemas sambil mengacak-ngacak rambutnya. Aku pun pulang bersama Zidan dengan mengendarai motorku menuju rumah, terkadang di saat pulang sekolah seperti ini jalan yang macet membuat kami agak lama berada di perjalanan.

            Sesampainya di rumah Zidan langsung menghampiri mama dan mencium tangan mama sambil mengucap salam. Sungguh adikku memiliki ciri-ciri anak yang shalih, aku kagum padanya. Zidan pun menceritakan kepada mama dan aku bahwa gurunya di sekolah memberikan pengumuman tentang akan dilaksanakannya tes praktek shalat seperti tes atau ujian shalat yang akan dilaksanakan saat peringatan hari besar Islam yaitu peringatan Isra Miraj. Zidan juga mengatakan bahwa tes praktek shalat tersebut tak hanya akan dijadikan penilaian tes praktek mata pelajaran Fiqih di kelas empat namun nantinya yang lulus tes praktek shalat tersebut dengan nilai terbaik akan mendapatkan sebuah penghargaan juara dari sekolah dan kenang-kenangan dari guru pelajaran Fiqih dan wali kelasnya. Zidan pun bersemangat untuk belajar hapalan shalat dan praktek shalat dengan bacaan serta gerakan yang baik dan benar. Mama pun menyuruh Zidan untuk meminta bimbingan kepada Pak Ustadz yang merupakan guru mengaji Zidan di masjid setiap sorenya, Mama juga menyuruhku untuk membimbing Zidan selama di rumah tentang hapalan bacaan shalat dan praktek gerakannya yang benar. Aku pun siap membimbing adikku tersebut demi kesuksesannya, lagi pula hari Isra Miraj masih sekitar dua minggu lagi sehingga aku pikir masih punya banyak waktu untuk membimbing adikku agar tes yang dilakukannya lancar bahkan bisa menjadi juara.

            Zidan mengaji setiap sore dari pukul setengah empat hingga pukul lima. Namun karena dia mendapat pelajaran tambahan dari Pak Ustadz tentang hapalan sholat dan gerakannya maka akhir-akhir ini waktu Zidan sampai di rumah setelah pulang mengaji pun cukup terlambat. Kadang dia baru sampai di rumah sekitar pukul setengah enam sore atau menjelang azan Shalat Maghrib. Aku juga membimbing Zidan untuk menghapal bacaan shalat dan memahami juga mengingat gerakan shalat yang benar setiap dia habis mengerjakan tugas atau PR. Aku terkadang baru mulai membimbingnya pada pukul delapan hingga menjelang pukul sembilan malam. Aku pikir Zidan anak yang cepat belajar, semangatnya untuk menjadi yang terbaik sangat patut diacungi jempol selain itu Zidan juga berjanji apabila bacaan shalat dan gerakan shalatnya sudah dinilai bagus ketika tes nanti, maka dia berjanji untuk tidak akan meninggalkan shalat. Menurutku Zidan benar-benar hebat, tanpa harus aku ajari banyak hal dia mudah memahami dan mengetahui gerakan dan bacaan shalat yang sempurna, aku mengajarinya setiap malam hingga hari tes akan berlangsung besok. Aku mengajarinya tanpa jenuh dan bosan karena aku tertular semangatnya yang betul-betul memotivasi diriku.

            Setelah empat belas hari atau dua minggu berlatih, akhirnya peringatan hari Isra Miraj tiba, aku bersiap menyaksikan Zidan untuk melakukan tes hapalan bacaan shalat bersama praktek gerakan shalat dihadapan wali kelas dan guruh Fikihnya. Menunggu giliran Zidan untuk maju yang cukup lama karena berada di nomor urut cukup akhir. Ketika tiba giliran Zidan untuk dinilai dalam ujian praktek tersebut. Aku melihat Zidan dengan tenang melakuan tes itu,  gerakannya tidak ada yang salah sedikitpun dari awal hingga akhir dan bacaan shalatnya benar-benar fasih sesuai harakat panjang pendeknya. Setelah selesai Zidan diberi nilai sembilan puluh lima dan hebatnya lagi Zidan diumumkan sebagai juara pertama nilai tertinggi tes praktek shalat di sekolahnya tersebut. Aku sangat senang sambil memeluknya erat. Begitu terharu aku atas perjuangan adikku yang tak pernah pantang menyerah dan tak pernah malas belajar. Mama juga bangga serta bersyukur akan prestasi Zidan yang ada pada peringatan Hari Isra Miraj tahun ini.


            Peringatan Isra Miraj dan perjuangan Zidan adikku seakan memberikan makna bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan dan menerima wahyu untuk melaksanakan shalat dan meneladankan shalat itu kepada umatnya, dengan tentunya negosiasi Rasulullah terlebih dulu atas jumlah perintah sholat dari seribu kali waktu per hari hingga hanya lima waktu sehari. Sepertinya Rasulullah juga ingin berpesan kepada kita agar  melakukan shalat seperti halnya perjuangan Zidan yang benar-benar ikhlas dan memiliki semangat belajar tanpa menyerah untuk melakukan shalat dengan bacaan serta gerakan yang baik dan benar. 

"Tes Sholat Zidan” cerita inspiratif ini merupakan Cerita Inspiratif Terbaik pada tema Isra Miraj dalam Buku Cerita di Hari Besar Islam yang diterbitkan oleh Penerbit Asrifa. 



Karya 20 Dibukukan (Cerita Inspiratif)

Khatam Quran Vira
Karya : Faiz Deja Ramadhan

            Terik siang masih menyelimuti bumi, matahari seakan sedang berada di posisi terpuncaknya. Jemuran Bu Nisa terlihat sudah kering padahal baru dijemur sekitar dua jam yang lalu. Jam dinding berdetak menunjukan waktu pukul satu siang. Segala kegiatan di dapur nampak sepi karena hari ini masih merupakan hari di Bulan Ramadhan, kegiatan Bu Nisa di rumah selain mencuci di pagi hari pada bulan puasa ini beliau juga menunggu dengan setia putrinya Vira yang biasanya pulang sekolah sebentar lagi. Bu Nisa sudah mencuci pakaian dan perlatan makan rumah tangga pada pagi hari, dia juga sudah membeli bahan makanan di tukang sayur yang setiap pagi berkeliling di sekitar kompleks rumahnya. Bu Nisa akan memasak pada waktu sore hari sebelum berbuka puasa. Selain mencuci dan menjemur, beliau juga membersihkan rumah khususnya kamar Vira dan tempat tidurnya. Jadwal Vira pulang sekolah umumnya pukul satu siang namun terkadang terlambat karena bus sekolahnya juga bisa terjebak macet di jalan raya. Sepulang sekolah Vira di bulan puasa ini, dia akan langsung melaksanakan Sholat Zuhur jika belum melakukan sholat di sekolah. Vira akan bercerita sedikit kepada ibunya tentang sekolah hari ini lalu dia akan melanjutkan tidur siang di kamarnya hingga waktu Ashar datang maka Vira bangun dan bergeas pergi menuju Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) tempat dia mengaji. Sepulang mengaji Vira pasti langsung membantu ibunya untuk memasak hidangan berbuka.

            Bus sekolah Vira tiba, Pak Supir membunyikan klakson untuk memberikan pertanda bahwa Vira telah sampai rumah. Bu Nisa yang mendengar bunyi klakson tersebut pun langsung berlari ke depan rumah untuk menyambut putri semata wayangnya yang baru pulang sekolah. Bu Nisa langsung menyuruh Vira mengganti pakaian sekolahnya dan melaksanakan Sholat Zuhur. Setelah semuanya dilakukan Vira, dia pun langsung beranjak ke tempat tidur di kamarnya, namun sebelum tidur Vira memanggil ibunya dan memberitahukan sesuatu hal.
“Ibu ini hari puasa ke berapa ya Bu?” Tanya Vira.
“Oh ini hari kesembilanVira, kenapa emang ?” Kata Bu Nisa.
“Tidak apa-apa Bu. Kata Ustadzah Ami Vira sebentar lagi bakal khatam Quran karena Vira sudah sampai juz dua sembilan akhir.”
“Wah, hebat Vira anak Ibu! Alhamdulillah. Berarti Vira bakal masuk Juz tiga puluh sebentar lagi lalu khatam Quran deh.”
“Iya Bu. Doain Vira ya Bu, Vira tidur siang dulu.”
“Oke Vira, jangan lupa bangun untuk Sholat Ashar ya Nak !”
“Siap Bu !”
Bu Nisa pun keluar dan menutup pintu kamar Vira dengan senyum sumringah. Bu Nisa tak menyangka bahwa anaknya yang baru duduk di kelas tiga SD tersebut sudah mau khatam Al-Quran. Vira memang sudah mengaji sejak waktu kecil namun baru memulai untuk mengkhatamkan Al-Quran baru sekitar delapan bulan yang lalu. Vira memang rajin mengaji dan Bu Nisa bersyukur karena Vira putrinya selalu berusaha memiliki sifat shalihah.

            Hari-hari di bulan puasa tetap berlanjut menginjak di hari ke lima belas, Vira mengatakan pada ibunya bahwa sebentar lagi dia akan mengkhatamkan Al-Quran dengan menuntaskan sekitar dua puluh surat lagi. Bu Nisa pun menginginkan Vira untuk mengkhatamkan Al-Quran ketika malam ketujuh belas Ramadhan atau bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran yaitu malam diturunkannya Al-Quran oleh Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui malaikat Jibril sebagai malaikat penyampai wahyu. Bu Nisa pun menjanjikan untuk mengungkapkan rasa syukur atas khatam Quran Vira nantinya, maka Bu Nisa akan memasak banyak hidangan untuk dibagikan dan diberikan kepada tetangga sekitar, anak yatim piatu di sekitar kompleks rumah dan para pengurus masjid ketika makan sahur setelah malamnya, malam ketujuh belas Vira mengkhatamkan Al-Quran.

            Malam ketujuh belas bulan Ramadhan pun tiba, Bu Nisa telah mempersiapkan semuanya termasuk janjinya kepada Vira apabila dia berhasil mengkhatamkan Al Quran maka akan membagikan hidangan sahur ke beberapa tetangga, anak yatim dan pengurus masjid. Suami Bu Nisa, ayah Vira yaitu Pak Andi juga sangat senang bahwa anaknya akan mengkhatamkan Al-Quran di malam Nuzulul Quran. Pak Andi dan Bu Nisa merasa bangga bahwa putri semata wayang mereka akan khatam Quran di malam Nuzulul Quran mereka bersyukur dikarunai putri shalihah seperti Vira. Shalat Tarawih di masjid telah usai, di dalam masjid Vira telah duduk berhadapan dengan Ustadzah Ami dengan Al-Quran yang terbuka dihadapan Vira dan akan segera dia baca. Sekiranya ada sepuluh surat lagi, yaitu sepuluh surat terakhir di juz tiga puluh. Bu Nisa dan Pak Andi menyaksikan Vira, putri mereka akan membaca sepuluh surat terakhir Al-Quran dan akan segera mengkhatamkan Al-Quran. Setelah selesai membaca Al-Quran hingga juz tiga puluh terakhir, Ustadzah Ami pun mengucapkan selamat kepada Vira karena telah mengkhatamkan Al-Quran dan mendoakan Vira agar kelak menjadi anak yang selalu shalihah dan berbakti pada nusa, bangsa dan agama juga orang tua.


            Bu Nisa memeluk erat putrinya, Vira. Bu Nisa meneteskan air mata karena terharu akan kemampuan Vira anaknya yang mampu mengkhatamkan Quran di usia belia. Bu Nisa pun menepati janjinya dan membagikan hidangan ketika makan sahur kepada mereka yang membutuhkan, semua tetangga dan orang yang diberikan hidangan itu pun senang dan ikut mendoakan Vira agar menjadi anak shalihah. Malam Nuzulul Quran yang sungguh menginspirasi dari Vira, putri Bu Nisa yang belia. Kita juga harus meniru semangat Vira yang meskipun masih kecil, dia tidak pernah lelah membaca firman-firman-Nya di dalam Al-Quran.

Cerita ini juga dapat dibaca di dalam Buku Cerita di Hari Besar Islam diterbitkan oleh Penerbit Asrifa.

Karya 19 Dibukukan (Puisi)

Pesan Pesawat

Karya: Faiz Deja Ramadhan


Dear,
aku pernah mendengar tentang mereka, tentang cerita, tentang dirimu
tapi,
aku bertahan dengan kisah tentang realita,
realita tentang kesepian hati yang riuh akan cintamu,
lalu kamu, mendengar mereka dengan telingamu?
Dengarkanlah dengan hatimu, rasakan dia dan aku.
Apakah aku yang ada di hatimu?
Atau mereka yang menggumbar cerita,
'murahan'.
Mereka bicara tentang selimut tetangga,
bahkan aku mendengar tentang rumput tetangga.
Ini kesetiaan cerita cinta kita,
kita yang berkuasa,
semua orang harus mengikuti kita
karena ini kisah kasih ketulusan dan kesetiaan kita.
Dalam jauh aku merenung,
untukmu, ku segera pulang
Dalam pesan pesawatku.

Puisi “Pesan Pesawat” karya Faiz Deja Ramadhan adalah puisi terpilih sebagai Kontributor Event Selimut Tetangga oleh Komunitas Nulis Buku KPMKP.


Karya 18 Dibukukan (Puisi)

Patriot Pendidikan
          Karya: Faiz Deja Ramadhan

Kayuhan sepedamu tak pernah ragu
Di kala surya terbit dengan teriknya
Peluh bercucuran semangat mendera
Demi putra-putri bangsa cerdas selalu

Aku menyapamu di setiap pagi
Pagi sebelum bel sekolah berbunyi
Pagi dimana banyak siswa berlari
Menuju kelas tempat menggapai mimpi

Guru, buku usangmu selalu kau genggam
Kau tularkan ilmu baru hingga kami paham
Tanpamu yang tulus mungkin hampa sekolah
Seakan belajar menjadi hal yang amat susah

Guru,
Kaulah orang tua ketiga
Disegani setelah bapak dan ibu
Bahkan ibu menyuruhku menghormatimu

Guru,
Kau lah pahlawan tanpa tanda jasa itu
Menularkan ilmu di garis terdepan

Karena Engkaulah patriot pendidikan

Puisi ini dapat dibaca dalam Buku Kumpulan Puisi berjudul Terima Kasihku untukmu, Guru diterbitkan Penerbit Oksana dan merupakan pemenang 50 besar.


Karya 17 Dibukukan (Cerpen)

Alarm
Karya: Faiz Deja Ramadhan

Awan bersyukur masih dapat menghirup nafas meski tersengal. Dia ingat waktu itu, kabut tebal dari taburan semen dan batu bata yang lebur. Melihat runtuhnya sebuah kampung seperti pada film perang yang sering ditontonnya di televisi. 2006, masa kembali dari awal kehidupan. Tak ada kaya dan miskin lagi, harta tak ada artinya di hadapan kuasa Tuhan. Sehari sebelum 27 Mei 2006, dia masih saja merasakan galau berkelanjutan akan hasil ujian nasionalnya. Banyak usaha yang dilakukan termasuk puasa Senin-Kamis sejak di bangku kelas satu SMP. Sholat tak cukup lima waktu, menambahnya dengan shalat Tahajud dan Dhuha. Dia anggap dirinya cukup dekat dengan Tuhan alias masih dianggap beriman, tak pernah dia merasa ragu akan sosok-Nya. Harinya masih biasa dengan kesendirian di rumah yang kecil di tengah kampung bersama dengan bapak. Ibunya merantau ke negeri orang demi hidup keluarga mereka. Kakak Awan satu-satunya sudah merantau ke kota lain demi karirnya. Rasa syukur itu juga dipanjatkan karena memang Tuhan selalu memberi jalan baginya untuk menjalani sekolah tanpa membebani orang tua, bahkan dia selalu berprestasi karena memang Tuhan selalu mengabulkan doa di setiap permohonannya.

Pagi di tanggal 27 Mei 2006. Suara azan subuh berkumandang pada toa selalu menjadi alarm baginya. Meski tak lagi menjalani ujian, Awan masih saja melakukan sholat tujuh waktu, sholat Subuh tak pernah ditinggalkannya, selalu tepat waktu. Menyucikan diri dan memohon pada-Nya. Awan selalu membangunkan bapaknya pula untuk melakukan ibadah sholat Subuh, lalu mereka berbagi tugas. Bapaknya menyiapkan sarapan, sedangkan  Awan sibuk membersihkan halaman. Tak ada yang ganjil di pagi itu, Gunung Merapi yang memang bergejolak tak terlalu mengkhawatirkan karena jaraknya terlampau jauh dari rumah Awan, tapi entah apa yang terjadi. Pukul enam kurang, Awan merasakan getaran yang dahsyat, melihat pepohonan melambai begitu hebat, tembok bergetar dan  rumah tetangga roboh seketika, alunan tangis terdengar begitu hebat. Satu, dua, tiga, semua rumah roboh. Seketika udara menjadi sesak untuk dihirup, tak lagi segar seperti pagi sebelumnya. Kabut putih dari campuran semen bangunan menyelimuti kampung yang menurutnya damai.

Bergegas berlari menghampiri rumahnya yang juga rata dengan tanah, dia tak melihat bapaknya ada di sana. Dia sudah tertimbun reruntuhan rumah. Awan menangis keras-keras sambil membongkar satu persatu kayu, batu dan apapun yang menimbun. Hampir putus asa. Tak juga Awan temukan bapaknya, hingga dia melihatnya keluar dari reruntuhan di sisi lain, syukur bapaknya masih hidup dan selamat tanpa luka. Awan dan bapaknya tak berpikir panjang lagi, ini tugas bersama untuk menyelamatkan yang lain, mereka menemukan 22 korban yang sudah meninggal dan beberapa saudara serta tetangga yang luka parah. Semua bahu-membahu memberi bantuan, berarak ke tanah lapang dengan luka, tangis, dan ketakutan. Gempa susulan masih terasa hingga hari-hari berikutnya. Awan melihat anak kecil, ibu hamil, nenek-nenek, semua bercampur dalam duka. Namun di sisi lain, dia tersenyum berterima kasih pada Tuhan yang telah memberikan alarmnya melalui sholat Subuh yang menjadi peringatan, mereka (Awan, bapaknya, keluarganya dan orang lain) yang sadar akan peringatan itu dapat terselamatkan tanpa luka.


Rasulullah SAW secara khusus berdoa. “Ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun subuh.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).

Cerpen ini juga dapat dibaca dalam Buku Anugerah Illahi, Kumpulan FTS Islami oleh Grup Nieyy Nur Hanifah.

Karya 16 Dibukukan (Puisi)

MUNAJAB
Faiz Deja Ramadhan

Inginku
Aku memohon,
Aku meminta,
Aku berdoa,
Aku berdzikir,
Aku menyembah,
Hanya Pada-Mu,
Aku berserah,
Aku pasrah,
Aku mengalah,
Hanya pada-Mu,
Aku berbakti,
Aku mengabdi,
Hanya pada-Mu,
Lalu, apa artinya diriku?
Tuhan, tolong berikan jalan-Mu,

Agar aku tetap jadi pemeluk teguh-Mu.

Puisi ini dapat dilihat dalam  Buku Munajat dan Kisah Para Muslim oleh Penerbit Camar.