SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Jumat, 23 Januari 2015

Karya 36 Dibukukan (Cerpen)


Budaya Pengabdian Sang Abdi Keraton

 Karya : Faiz Deja Ramadhan

Nalika srengenge wus muncul, Bathara Surya anggawa sinar swarga, agawe teranging jagad.
(Ketika matahari terbit, Tuhan memancarkan sinar surga membuat terang dunia).

"Le, bangun le. Sudah pagi ! Jangan mau kalah sama ayam jago. Ayo mandi, sarapan, terus berangkat sekolah." Kakek Rizky membangunkannya.

Matahari sebenarnya belum penuh betul menerpa Bumi, sudah kebiasaan bagi keluarganya untuk bangun  pagi, sholat subuh sebagai awal kegiatan hari ini. Di dapur yang kecil, Ibu Rizky nampak mengepulkan asapnya, memasak untuk sarapan keluarga. Rizky kecil menyandang handuknya siap untuk mandi. Membasuh dengan air hangat yang sudah disiapkan kakeknya tadi sebelum membangunkannya. Bapaknya nampak sibuk menyiapkan peralatan kerja untuk hari ini. Keluarga kecil yang penuh keharmonisan.

Pagi belum juga menunjukkan pukul enam, Rizky sudah dibonceng kakeknya yang berseragam merah putih. Duduk di belakang dengan tempat duduk rotan kecil yang diikat pada dudukan sepeda ontel. Menyusuri jalan kota Jogja yang padat dengan kendaraan, sesekali berpapasan dengan tukang sayur dengan keranjang penuh sayuran yang hendak dijualnya ke pasar. Semangat benar mereka. Kakeknya, Cermo Wicoro mengayuh sepeda dengan pelan namun pasti. Memakai baju kebesaran seorang abdi, dengan bangga melintasi ramainya kota di pagi hari. Tak lama mereka sampai di TK Pamardisiwi.
"Belajar yang benar ya le, jangan main terus !  Nanti siang biar dijemput pakdemu kalo mau menyusul kakek di Keraton." Kata Kakek Rizky.
"Iya kek.” Jawab Rizky.
 Setelah mencium tangan kakeknya, Rizky berbaur dengan kawan yang lain, siap menerima ilmu, menghapal angka, huruf, dan warna yang kelak disusunnya menjadi kata, kalimat, bahkan paragraf untuk merubah Indonesia jika sudah besar nanti. Dia, Rizky Kuncoro Manik, usianya yang masih 5 tahun tak pernah mematahkan semangatnya untuk belajar. Bahkan dibalik senyumnya yang masih polos itu.

Kayuhan sepeda kakeknya semakin kencang untuk mengejar waktu. Dia bergegas ke kantornya, di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Salah satu kerajaan yang masih aktif di Nusantara. Warisan budaya yang tak ada duanya setelah perdebatan panjang menggoyahkan posisinya dalam ketetapan Undang-Undang Keistimewaan. Sekarang para abdi dan warga Jogja dapat tersenyum lega, provinsinya sudah menjadi istimewa kembali, dengan Keraton dan kebudayaan yang ada di dalamnya. Semua itu tidak lepas dari perjuangan bersama, termasuk Cermo Wicoro, Kakek Rizky yang sudah berusia 76 tahun itu.

Setelah sampai di regol keraton, dia langsung memarkirkan sepedanya berjajar dengan kendaraan milik abdi dalem yang lain. Ia langsung memulai aktivitas di kerajaan. Tergantung dengan pos masing-masing. Beberapa abdi nampak sibuk memasang sesaji, menyiapkan kemenyan, ada pula yang membersihkan kandang kuda, atau membersihkan halaman keraton hingga sudut-sudut ruangan. Sedangkan Kakek Cermo membersihkan area pedalangan, termasuk tempat yang digunakan untuk berlatih tari setiap minggunya.

Setelah tugas utamanya dikerjakan, para abdi juga menjadi seorang pemandu bagi wisatawan yang datang ke keraton, memberikan keterangan tentang sejarah, tentang budaya, segala hal seisi keraton. Dibalik sosok mereka yang hanya seperti pembantu atau cleaning service, sejatinya abdi dalem adalah pahlawan kebudayaan, saksi serta pelestari budaya Jawa yang masih hidup. Termasuk Kakek Cermo Wicoro, yang sebenarnya tak ternilai pengabdian beliau.
Siang semakin terik,  arus wisatawan tak pernah terbendung. Termasuk aku yang harus berbagi tempat dengan wisatawan lain di halaman keraton yang sejuk. Bangunan tua bersejarah dengan ornamen  Jawa kental. Sedikit terpengaruh arsitektur  Belanda, namun  masih terasa Jawa. Bapak-bapak mengenakan baju biru,  lengkap dengan blangkon  Jogja dan kain. Saling berbincang dengan bahasa Jawa yang tak aku mengerti, sebagian menjelaskan kepada wisatawan lain dengan bahasa Inggris yang lancar. Hebat, dibalik perannya yang hanya sekedar abdi dalem.
Pukul sepuluh, Rizky pulang dari pendidikannya di Taman Kanak-kanak. Tak seperti teman yang lainnya. Pulang sekolah, Ia langsung menemui kakeknya di area keraton Yogyakarta. Dengan diantar pamannya dengan penuh antusias dia mengikuti jejak kakeknya. Panas terik  siang itu tak menyurutkan tekatnya, dengan baju adat Jawa lengkap kini dia bertugas sebagai abdi dalem keraton sesungguhnya. Seorang abdi cilik, penerus dan pelestari budaya Jawa.

Aku melihatnya, di balik kerumunan wisatawan yang hendak berfoto dengannya. Tak terlihat lelah di raut wajahnya meski usianya masih sekecil itu. Tak jarang dia mendapatkan snack dari pengunjung, atau teman kakeknya sesama abdi dalem. Namun bukan itu yang dicari. Dia seperti sudah tau arti sebuah pengabdian. Ketulusan berkorban demi kerajaan tercinta. Mungkin dia tak pernah berpikir untuk bermain seperti teman sebayanya yang sibuk dengan gadget atau jalan-jalan ke mall, dia justru turut berperan menjaga budaya Jawa.

Aku berkesempatan untuk menyapanya, disela-sela perbincangan dengan sesama abdi, aku memotong sebentar.
"Monggo-monggo, mau foto sama Rizky?" Tanya Kakeknya.
"Iya pak, sekalian mau ngobrol-ngobrol sebentar." Jawabku.
"Foto dulu, foto dulu, senyum le senyum, tangannya ngapu rancang, jangan liat ke mana-mana." Perintah kakeknya ketika aku dan Rizky hendak berfoto.
Dengan sigap Rizky memposisikan diri, senyum dan gerik tubuhnya membuat primadona baru. Dia pun nampak senang melihat-lihat hasil jepretan di kameraku, sembari berbincang asyik dengan kakeknya. Dia nampak tak mau banyak bicara, senyum lebih sering menggambarkan suasana hatinya yang ceria. Sementara aku dan kakeknya Rizky, Cermo Wicoro asyik berbincang.
"Rizky itu sudah dari umur satu setengah tahun ikut saya mengabdi disini, saya tidak  pernah mengajaknya. Tapi dia sendiri yang meminta untuk ikut kakeknya di keraton, lama-kelamaan ya seneng tapi dia tetep sekolah dulu, baru sepulang sekolah kesini." Jelas kakeknya menceritakan kebiasaan Rizky.
"Lalu Rizky sendiri kegiatannya di sini apa pak?"
"Ya cuma menemani saya dulu,  sambil belajar, wong dia juga belum bisa apa-apa. Kan yang penting menanam rasa memiliki dulu sambil belajar kebudayaan Jawa."
"Kalau Bapak?"
"Ya kalau saya banyak kerjaannya, kebetulan pengagengnya adalah GBPH Yudoningrat. Tugasnya ya di pedalangan. Kalau saya sudah lama jadi abdi dalem."
"Awal mula mengabdi seperti apa pak? Apa karena tertarik seperti Rizky? "
"Iya, saya tertarik dengan pekerjaan bapak saya dulu. Tapi usianya tidak sekecil Rizky. Awalnya cuma bantuin cari rumput untuk kuda keraton saja, malah keterusan sampai sekarang mengabdinya."
"Ada pekerjaan lain bapak selain mengabdi ?"
" Cuma cari rongsokan aja, barang-barang bekas buat dijual ke pengepul."
Perbincangan terus saja berlanjut, terkadang terpotong karena Rizky dan kakenya harus melayani wisatawan lain, atau aku jadi tukang foto dadakan bagi mereka yang ingin berfoto bersama Rizky. Rizky masih saja nampak serius dengan kameraku.
"Ini gambar bapak ada di sini." Seru rizky yang memanggil kakeknya dengan sebutan bapak, sambil menunjukan sebuah foto di kamera ke kakeknya yang duduk di sebelahku. Dia pun kembali melihat-lihat, diulang dari awal serasa tak pernah puas melihat gambar dirinya. Lalu aku melanjtkan perbincangan kembali.
"Senang bapak jadi abdi dalem?"
"Senang, tapi kesenangan  seorang abdi itu bukan dinilai dari materi atau duniawi agar menjadi keluarga keraton atau apapun. Tapi menjadi abdi adalah kepuasan batin,  ketulusan, dan pengabdian penuh dengan cinta kasih. Bisa dibayangkan Dik, seorang abdi itu cuma mendapat gaji 2000 rupiah setiap bulan, atau bahkan 2000 setiap ada acara kirab. Setahun saja cuma 3 kali kirab."
"Berarti ada abdi yang cuma mendapat bayaran 6000 rupiah saja per tahun?"
"Banyak, tapi kami kan tidak mencari itu. Bahkan gaji dari keraton tidak pernah kami pergunakan untuk memenuhi hidup. Melainkan disimpan sebagai tanda jasa atau timbal balik dari keraton. Bisa juga sebagai pelangenan. Bukan  jimat loh, itu musryik. Hanya disimpan saja sebagai tanda jasa."
"Sampai segitunya pak?"
"Kami dapat melayani keraton saja sudah cukup senang, apalagi digaji. Meski cuma sedikit tapi itu sudah penghargaan bagi kami. Makanya saat keistimewaan Jogja terusik, kami juga sempat protes, bahkan membentuk barisan mempertahankan  keistimewaan.  Mereka itu tau apa tentang Jogja, mau seenaknya merubah-rubah tatanan."
Obrolan berlangsung cukup seru dan panjang, tak ingat waktu berbincang dengan pahlawan budaya ini. Hingga jam di tangan menunjukkan pukul 12.30. Inilah saatnya keraton di tutup untuk umum, dan para abdi harus pulang, begitu juga dengan Rizky. Banyak hal yang aku dapat dari kunjungan ini. Dibalik sosoknya yang terkadang renta, dengan bangga mereka berjalan mengenakan baju kebesaran, baju adat Jawa.  Berjalan penuh makna dan penghormatan terhadap raja dan keluarganya. Melayani dan melestarikan salah satu kebudayaan lokal yang ada di Indonesia, demi menjaga kehidupan Indonesia yang tetap berbudaya dengan semboyan ke-bhinekaannya. Sejatinya kita dapat belajar tentang pengabdian para abdi dalem. Ketulusan tanpa mengharap imbalan besar. Bukan ingin diberi imbalan layaknya mereka yang haus akan kekuasaan dan materi.

Panasnya  Jogja, terasa redup di bawah pimpinan keraton, dengan abdi dalem yang senantiasa mengabdi, menjaga Negeri Ngayojokarta Hadiningrat. Dengan sepedanya kakek Cermo berpacu dengan waktu, mengejar  waktu  agar dia dapat mencari rongsok untuk menyambung hidup, membuat dapur tetap mengepul,  agar dapat mengabdi sampai kekuatannya tak penuh lagi. Rizky yang nampak lelah  bersandar di kursi boncengan rotan kecilnya. Menikmati alunan sepeda yang berjalan pelan di bawah terik matahari, dan deru kendaraan kota.

Wong urip iku, mung pengabdian, ngabdi marang sing kuasa, ngabdi marang raja, lan negara. Ra usah mikirke  bati, anangin mikirke kesejahteraaning kabeh.
(Hidup itu cuma pengabdian, mengabdi pada Tuhan, pemimpin, dan negara. Tidak usah memikirkan untung, tetapi memikirkan kesejahteraan bersama).

Kebudayaan memang harus dilestarikan namun aktor pelestari kebudayaan seperti para pengabdi keraton Yogyakarta yang selalu ikhlas mengabdi juga merupakan kebudayaan yang tak boleh punah dan bahkan harus selalu kita teladani. Budaya mengabdi dengan tulus serta setia kepada negara menjadi hal yang paling penting untuk patut kita contoh dari seorang abdi dalem, agar Indonesia tetap berbudaya dan agar kita tetap memiliki Wonderful Indonesian Culture

NB: Pengageng=pimpinan; pelangenan=benda kesayangan; regol= pintu gerbang.
Rizky Kuncoro Manik dan Kakeknya, Cermo Kuncoro (di belakang)

Cerita ini adalah salah satu kontributor pada event "Wonderful Indonesian Culture" oleh Sastra SMAN 3 Bantul, DIY.

Karya 35 (Surat untuk Presma) Juara 1

Yogyakarta, 1 Oktober 2014

Yth.
Presiden Mahasiswa / Ketua BEM KM 2014
Universitas Gadjah Mada
di Tempat

Dengan Hormat,
            Teriring salam dan rasa hormat saya kepada Saudara dan semoga Saudara  senantiasa dalam lindungan dan hidayah Tuhan YME.
            Melalui surat ini, saya sebagai salah satu mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan saya kebetulan juga merupakan anggota kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada atau BEM KM UGM yang aktif pada dua setengah tahun atau dua periode kabinet terakhir, ingin menyampaikan beberapa saran baik dari saya pribadi maupun aspirasi-aspirasi yang saya terima dari beberapa teman di kalangan civitas akademika UGM. Sebelumnya saya ingin mengapresiasi kesanggupan Saudara terlebih dahulu setelah menjalankan masa kepemimpinan sebagai Presiden Mahasiswa atau Ketua BEM KM UGM hingga setengah tahun ini. Saya tahu betapa banyak usaha yang telah Saudara lakukan dan kendala yang menghadang selama ini, ketika Saudara memimpin. Sangat sulit untuk menjadi seorang pemimpin yang berpredikat sebagai presiden dalam memimpin seluruh mahasiswa di universitas terbesar dan nomor satu di Indonesia seperti UGM. Sebab saya mengetahui bahwa amanah sebagai Presiden Mahasiswamerupakan amanah yang meskipun berlatarbelakang politis akan tetapi kerja keras Saudara harus selalu menunjukan hasil nyata untuk seluruh mahasiswa tanpa pandang buluh.
            Saya ingin menyampaikan beberapa hal yang sebaiknya Saudara lakukan pada bulan-bulan terakhir masa kepemimpinan kabinet Saudara tahun ini. Agaknya hal-hal tersebut penting untuk Saudara perhatikan dan lakukan agar tampuk kepemimpinan BEM KM UGM setiap periode kabinetnya tetap menjalankan konsistensi sikap dan kebermanfaatan bagi seluruh mahasiswaUGM.Pada saat-saat terakhir periode kabinet Saudara sebaiknya melakukan transisi kepengurusan dengan cara membuat target-target yang dapat dicapai di akhir tahun sedangkan target yang tidak dapat tercapai pada periode kabinet Saudara, dapat menjadi draft target untuk kabinet selanjutnya. Sebab yang saya lihat antar periode kabinetnya, BEM KM UGM yang meskipun melanjutkan program kerja dari periode satu ke periode berikutnya, akan tetapi program kerja tersebut berubah dengan konsep-konsep yang berbeda sehingga tujuan dan pencapaian BEM KM UGM dari tahun ke tahun menjadi berbeda pula. Pencapaian yang berbeda itu tak terlepas dari kondisi politik pada kabinet BEM KM UGM yang berubah dari tahun ke tahun. Dimana kandidat yang memenangkan Pemilihan Raya mahasiswa UGM seakan seperti halnya politisi di Indonesia yang akan menempatkan orang-orang kepercayaan yang berasal dari partai yang mendukung kandidat tersebut di pemilihan, serta menjauhkan orang-orang yang berasal dari partai rival ketika pemilihan walaupun mereka memiliki kemampuan. Seharusnya budaya politik yang seperti itu dihilangkan karena demokrasi di kalangan mahasiswa sebaiknya memberikan contoh dengan budaya kepemimpinan dan politik yang mengayomi semua.
            Selain itu yang saya lihat adalah kurangnya peran BEM KM UGM khususnya Presiden Mahasiswa sebagai organisasi dan pemimpin sentral yang memimpin seluruh keluarga mahasiswa UGM dalam menyatukan tali silaturahmi seluruh organisasi mahasiswa di UGM. Persatuan tersebut telah terlihat pada Forum Komunikasi atau Forkom UKM yang mewadahi aspirasi seluruh UKM di UGM dan bersama BEM KM UGM selalu menjalankan koordinasi. Komunikasi yang terjalin juga sudah cukup baik antar ketua BEM, LEM, LM atau Dewan Mahasiswa di setiap fakultas dengan Presiden Mahasiswa. Koordinasi tersebut akan sangat berguna pada beberapa event besar seperti ketika acara Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB) UGM yang diadakan di universitas dan masing-masing fakultas setiap tahun disertai dengan pengisi acara yaitu seluruh UKM yang ada. Tak hanya koordinasi dengan UKM dan ketua organisasi setiap fakultas, saya juga mengharapkan bahwa ada komunikasi yang dilakukan Presiden Mahasiswa dan BEM KM UGM sebagai organisasi sentral dalam menjalin silaturahmi dengan seluruh himpunan mahasiswa atau keluarga mahasiswa baik di tingkat jurusan atau program studi di seluruh fakultas. Memang komunikasi seperti ini terbilang sulit karena UGM terdiri dari ratusan jurusan dan prodi, namun bukan tidak mungkin apabila Presiden Mahasiswa melakukan komunikasi di awal, tengah dan akhir tahun masa kepemimpinannnya dengan mengundang seluruh ketua himpunan mahasiswa atau keluarga mahasiswa. Sebagai organisasi sentral sebaiknya BEM KM UGM ketika membuat acara besar juga melibatkan perwakilan UKM, organisasi fakultas dan bahkan himpunan jurusan yang berhubungan dengan acara tersebut untuk bekerja sama. Contohnya bila diadakan sebuah seminar tentang bencana alam sebaiknya melibatkan beberapa himpunan yang berada di jurusan dan prodi kebumian serta UKM pecinta alam yang ada di UGM. Dengan begitu peran BEM KM UGM akan semakin terlihat dengan program kerja yang jelas mempersatukan kebersamaan seluruh keluarga mahasiswa UGM dari berbagai organisasi.
            Dan yang terpenting adalah perlunya banyak publikasi BEM KM UGM terutama Presiden Mahasiswa tentang perannya sebagai penyambung lidah antara mahasiswa dengan pihak pimpinan universitas atau rektorat. Sebab yang saya ketahui sekarang bahwa masih banyak mahasiswa yang belum memahami tugas, perandan fungsi Presiden Mahasiswa, BEM KM UGM dan Senat KM UGM sebagai organisasi internal kampus, yang notabene merupakan organisasi penyampai aspirasi mahasiswa kepada rektorat.

Demikian surat yang saya sampaikan semoga beberapa saran tersebut dapat membantu transisi kepemimpinan Saudara sehingga Saudara dapat menyelesaikan masa kepemimpinan dengan baik dan dilanjutkan dengan kepemimpinan berikutnya yang lebih baik. Terimakasih.

Hormat Saya,




            Faiz Deja Ramadhan
12/331197/PA/14494

Prodi Geofisika Jurusan Fisika FMIPA UGM

Surat ini menjadi juara 1 pada lomba menulis surat untuk Presiden Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Senat KM UGM tahun 2014 dan surat tersebut akan dibacakan pada KOngres KM UGM tahun 2015.
Penyerahan Hadiah Oleh Ketua Senat KM UGM 2014

Karya 34 Dibukukan (Cerpen)

Cerita Sore Adik
 Karya : Faiz Deja Ramadhan
                 Sore di teras rumah yang sepi, hanya aku dan adikku yang duduk sambil membuka-buka majalah yang baru dibelinya tadi di tukang loper. Adikku nampak serius membaca, membolak-balik halaman mencari gambar yang menarik atau sekedar membaca cepat, cepat bukan untuk memahaminya. Tapi sekedar membaca saja. Aku sendiri sibuk dengan ponsel pintarku yang kuanggap lebih pintar dariku, aku masih kebingungan bagaimana mengoperasikannya. Menjadi pengasuh adik di sore ini terasa menyenangkan, jarang-jarang aku dapat berduaan dengan jagoan kecil ini.
“Kak, lihat deh ini. Katanya sebentar lagi mau puasa Kak?” Sambil menunjukkan artikel di majalahnya.
“Oh iya, memang satu minggu lagi puasa Dek. Kenapa? Adik mau puasa?.”
“Tapi aku belum kuat Kak.”
“Ya kan latihan dulu Dik, kakak dulu juga seperti Adik, penasaran puasa itu seperti apa lalu kakak tanya ke mama dan di jelasin terus disuruh latihan.”
“Oh gitu, coba aku baca dulu ya Kak, nanti aku tanya kalau belum tahu.”
Aku hanya tersenyum kecil melihat adikku yang satu ini semangat belajar. Usianya baru tujuh tahun, namun kemampuannya untuk membaca sudah terbilang mumpuni. Tak memerlukan waktu lama, adikku sudah menyelesaikan artikel yang dibacanya.
“Kak, ini apa maksudnya?” Sambil menunjukkan artikel yang dia baca.
Aku pun membaca dengan perlahan berusaha memahami kalimat demi kalimat yang tertuang dalam artikel tersebut.
“Oh itu istilah saja Dik, kalau dalam Bahasa Jawa latihan puasa itu disebut Puasa Bedug yang artinya puasa dibagi menjadi dua bagian, dari waktu sahur dan berbuka pada pukul dua belas siang lalu dilanjut puasa lagi hingga waktu Maghrib, kalau sudah kuat baru puasa seharian.”
“Jadi aku bisa Puasa Bedug kak?”.
“Bisa, namun harus sungguh-sungguh. Kalau sudah kuat ya tidak boleh Puasa Bedug lagi Dek. Adek pengen puasa?”
“Iya kak, mau latihan.”
“Bagus itu, ini coba baca artikel yang baru kakak buka!”
Aku memberikan ponselku, dibacanya artikel tentang manfaat puasa yang baru saja aku buka dari salah satu mesin pencari yang pintar. Dahinya mengkerut tanda sedang berkonsentrasi, kalau seperti itu dia tak dapat diganggu lagi, adikku sibuk menaik-turunkan layar untuk membaca artikel yang mungkin menarik baginya.
“Bagus kan artikelnya?”
“Nanti dulu, Kakak nih ganggu terus.”
Aku beranjak untuk mengambil minum, barangkali adikku lelah membaca artikel sepanjang itu.
“Sudah selesai belum? Ini kakak bawain minuman dingin. Mungkin saja haus baca artikel sepanjang itu.”
“Ih kakak itu ngeledek.”
“Banyak kan manfaat dari puasa Dik?”
“Iya kak, ini juga ditulis kalau puasa itu menyehatkan. Organ pencernaan istirahat untuk bekerja, karena kasihan setiap hari bahkan setiap menit organ itu harus bekerja ya kak?”
“Iya, makanya ada bulan puasa, agar organ pencernaan kita dapat istrirahat dalam sebulan penuh tentunya akan bekerja, namun tidak terporsir seperti biasanya.”
“Mengendalikan nafsu juga ya Kak?”
“Bener itu Dik, kan kalau puasa tidak boleh makan dan minum. Jadi ya harus menahan diri agar tidak tergoda Dik. Disamping itu tidak boleh marah-marah dan nakal, harus berlatih untuk menjadi anak yang baik.”
“Aku kan enggak bandel Kak.”
“Iya enggak bandel kok, tapi sering ngebentak mama kan? Itu enggak boleh, Adik harus belajar mengendalikannya.”
“Iya-iya Kak, eh tapi ini kok ada tulisan dapat merasakan penderitaan orang yang tidak mampu Kak?”
“Benar sekali, Adik pernah lihat kan anak-anak jalanan, pemulung dan nenek-nenek yang jual jamu yang biasa mama beli?”
“Iya Kak tahu!”
“Nah, belum tentu mereka dapat makan enak setiap hari seperti kita. Atau bahkan mereka hanya makan satu kali sehari, sedangkan kita dapat makan berkali kali kan Dik? Nah Allah maunya kita dapat merasakan apa yang mereka rasakan pula. Kalau kita tidak makan atau cuma makan sekali sehari kan laper ya Dik. Makanya kita harus menghargai mereka, kalau perlu membantunya. Karena dihadapan Allah kita semua itu sama.”
“Oh iya-iya tahu aku Kak. Besok aku mau ikut puasa ah. Tar bilang sama mama.”
“Tuh mama sudah pulang.”
Adikku berlari membukakan gerbang, dia nampak semangat menyambut mamanya.
                    
                     Setelah mobil terparkir, dia langsung menunggu di depan pintu dan mencium tangan mama. Membawakan belanjaan sambil bercerita heboh. Aku hanya tersenyum dari jauh sambil melihat mamah yang juga menatapku dengan senyum penuh tanya. Rasanya adikku sudah besar sehingga ingin mengetahui segala hal. Puasa, semoga aku dan adikku dapat menjalaninya dengan sempurna sehingga kami menjadi hamba Allah SWT yang disayangi.

Cerita ini adalah salah satu kontributor pada event "Cerpen Anak Religi" oleh Raditeens Publisher.

Karya 33 Dibukukan (Cerpen)

Tentang Duka
Faiz Deja Ramadhan

Kehidupan manusia di planet bumi ini tak luput dari tujuan dan arti kehidupan yang telah dirangkai oleh Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Sejatinya Allah menciptakan kehidupan manusia melalui tahapan-tahapan dan proses-proses yang cukup panjang. Diawali dengan penciptaan alam semesta dimana di dalam alam semesta tersebut terdapat banyak galaksi dan gugusan bintang sementara di dalam galaksi sendiri terdapat pula tata surya yang dilengkapi sistem atau tata peredaran banyak planet dan benda-benda langit seperti komet, bintang, satelit misalnya bulan, meteor dan sebagainya. Allah pula menciptakan sebuah planet kehidupan yang khusus diperuntukan bagi ciptaan-Nya yang dikehendaki sebagai makhluk hidup di alam dimensi dunia, selain malaikat dan iblis. Mahkluk hidup itulah tumbuhan, manusia dan hewan.
Makhluk hidup yang paling sempurna adalah manusia yang diutus oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi serta sebagai pemimpin untuk menjaga ciptaan Allah lainnya di dunia. Manusia juga dibekali oleh akal dan pikiran karena sebagai makhluk sempurna tingkatan nalar manusia pasti berbeda dengan dua makhluk hidup ciptaan Allah lainnya. Akal dan pikiran manusia dibekali ke dalam ruh setiap insan agar dapat memberikan manfaat kepada semua makhluk ciptaan Allah dan manfaat dalam melesetarikan alam semesta serta manfaat hakiki sebagai seorang hamba terhadap Penciptanya yaitu beribadah kepada Allah.
Selain akal dan pikiran manusia juga memiliki kalbu atau perasaan sehingga dia mampu menyeimbangkan ibadahnya kepada sesama makhluk dan kepada Allah. Namun di dalam segala proses pasti akan ada akhir kecuali dunia akhirat yang kekal atau abadi. Kehidupan manusia pun dapat sewaktu-waktu kembali kepada Sang Khaliq sebagai Maha Pencipta yaitu Allah, dengan bantuan Izrail yang bertugas sebagai malaikat pencabut nyawa, Allah tidak akan pernah sulit mengambil ruh kita untuk kembali di sisi terdekat-Nya. Allah memanggil hambanya atas dasar ketentuan yang telah Dia buat dan tergariskan dalam takdir-Nya di Lauhul Mahfuzh sejak alam semesta ini belum diciptakan, dapat dikatakan semacam skenario besar, panjang dan detail untuk semua hamba-Nya. Setidaknya itulah pelajaran yang aku dapatkan ketika hari itu, hari tentang duka menyelimuti keluarga besarku, hari yang benar-benar baru aku pahami saat aku dewasa.
Hari itu merupakan pelajaran baru bagiku, ketika aku melihat Desi kecil yang mungkin masih begitu belia untuk mengingat kejadian itu. Setahu dia hanya kumpulan orang yang penuh riuh di halaman. Saat itu tangis pecah menyambut Bapak Desi yang diantar ambulan. Badannya sudah putih berbalut kafan, aku menangis tersedu di bawah pohon pisang yang tumbuh rimbun di halaman.
Tak aku sangka, keluarga juga berpikir semacam itu. Baru saja kemarin paman masih mengayunkan cangkulnya di sawah, tepat pukul tiga sore tenaganya tak lagi kuat menumpu badannya di bawah matahari yang mulai condong. Panas seharian membuat kehilangan banyak daya. Dia ditemukan tergeletak di pematang yang hijau. Saat itu pula rumah sakit tak mampu menolong nyawanya. Rasa sedih bercampur amarah saat pihak rumah sakit tidak memperbolehkan keluarga melihat tubuh paman di ruang pemeriksaan hanya karena jam malam telah larut, padahal saat itu kondisinya kritis. Masih ingat betul saat budhe marah-marah ke petugas rumah sakit.
“Kami hanya mau lihat kondisi adik kami, dia sedang kritis. Apa Bapak tidak iba? Bagaimana kalau bapak ada di posisi kami?” Ujar Budhe.
Petugas hanya diam dan tak mengizinkan masuk hingga dokter memberitahu kalau nyawa paman sudah tak tertolong lagi. Sontak amarah tak terbendung lagi, bercampur duka yang mendalam, caci maki lancar keluar dari mulut budhe.
“Bagaimana kalau seperti ini kejadiannya, Bapak tidak mengijinkan kami masuk. Sekarang adik kami sudah tak terselamatkan. Kami tidak pernah melihat dia bernafas untuk yang terakhir kalinya Pak. Apa Bapak dapat menghidupkan kembali. Peraturan ya peraturan, tapi kalau seperti ini kejadiannya bagaimana?”
Penjaga rumah sakit hanya diam, tak sepatah kata dapat dia balas.
Keluarga hanya berlinang tangis kini, melihat jasad sudah berbungkus kain putih dalam peti mati yang sederhana. Warga berkumpul tanda duka. Mengerumuni, berkumpul di rumah duka. Aku masih melihat Desi dengan asyik bermain, tertawa, bahkan tak mengerti duka itu. Ibunya bersandar di tembok yang bisu, menangis tersedu tanpa air mata. Kantung air matanya sudah pecah menganak sungai hingga tangisnya kering dan pilu. Tangannya masih juga meraba perutnya yang besar karena kandungannya sudah memasuki tengah masa kandungan. Anak perempuan yang di kandungnya tak akan dapat merasakan kasih sayang seorang bapak. Dua anak yang yatim.
Pukul dua jasad itu dimakamkan tepat di pemakamam yang letaknya di belakang rumah. Memudahkan jika ingin menjenguknya. Masih ada tangis, aku juga tak paham benar apa yang terjadi sebenarnya. Masih SD waktu itu, setahuku dia adalah sosok yang selalu membahagiakanku sebagai keponakannya, memberikan hadiah saat kenaikan kelas dengan prestasi bagus.
Mereka yang penuh duka masih mengerumuni pusara tak tega meninggalkan dia sendiri dikubur tanah, ditanya para malaikat. Semua harus terjadi, ketegaran sering diuji dengan hal semacam ini, duka hanya di awal saja.
“Bapak kemana?” Tanya Desi kecil yang tak berdosa.
“Bapak lagi pergi, besok kalau sudah gede pasti tau bapak kemana.”
Mungkin dalam benak Desi, dia akan menunggu hingga dewasa tiba, mengetahui kemana bapaknya pergi. Ke surga. Dia masih menjalani harinya dengan riang layaknya anak-anak lain, istri paman yang sedang mengandung selalu menghibur dengan menjaga kandungannya. Orang tuanya mendampingi dan memberi semangat untuk berjuang menjadi single mother, begitu juga kami. Melupakannya itu tidak mungkin, tapi mengingatnya telah pergi hanya membuat kesedihan, anggap saja dia masih bersama, mengawasi dan menjaga dari dunia yang lain.
Aku selalu ke makamnya begitu juga dengan Desi dan yang lainnya, memberikan bunga dan mendoakannya, menunjukkan raport kenaikan kelasku yang sempurna. Menjadi yatim dan single mother tak membuat patah semangat istri dan anak-anak paman, kami hidup dan dia juga hidup di dunia yang abadi.
Hingga anak keduanya, Rama melihat dunia dan kehadirannya masih selalu dirasakan menemani di sisi kami, itu yang membuat ketegaran masih kuat saat ditinggal pergi. Ketegaran kami tak dapat diungkap atau digambarkan, tangisan telah mengkristal menjadi bara yang menyemangati hidup kami untuk menatap masa depan, tanpanya, dengannya yang jauh. Kami bersedih atas apa yang tak perlu kami tangisi, tapi Allah mengatakan tentang sebuah kebijaksanaan, manusia yang bijak tak akan menangisi mereka yang mati atau yang hidup, tapi mereka yang selalu menengadah dan membaca syukur, merendahkan diri atas apa yang Allah ujikan sehingga manusia mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi hanyalah karena Allah dan semata-mata atas kehendak-Nya.
            Seperti kutipan ayat suci yang telah difirmankan oleh Allah Subhana Wa Taala dalam Al-Qur’an sebagai kitab bagi para hamba-Nya yaitu : “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un” (انا لله وانا اليه راجعون) yang merupakan potongan dari ayat Al-Quran, dari Surah Al-Baqarah, ayat 156. Dengan isi penuh ayat tersebut adalah:
الذين اذا اصابتهم مصيبة قالوا انا لله وانا اليه راجعون
"(Yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali."

Cerita ini adalah salah satu kontributor pada event cerpen "Semua Karena Allah" oleh Ar Rahman Press.

Karya 32 Dibukukan (Cermin)

Pak Parno
Karya : Faiz Deja Ramadhan

Matahari begitu terik di ubun ubun, aspal yang lekam memantulkan sinarnya membuat keringat bercucuran. Lelaki tua mengayuh becaknya dengan nafas panjang, ibu-ibu yang lebih tua duduk di depan dengan bakul penuh dagangan. Sudah kebayang betapa beratnya ayunan pedal becak itu. Kota Jogja tidak begitu bersahabat saat kemarau tiba bagi abang becak, apalagi saat ini menarik becak bukanlah mata pencaharian yang diunggulkan. Jasanya tak lagi banyak dicari orang, mereka kalah dengan bus trans Jogja atau angkutan yang lebih cepat dan murah. Parno nampak masih setia dengan becak tua warisan mertuanya. Dia hanya meneruskan usaha mertuanya yang telah meninggal, karena memang tahun 1987 becak masih menjadi primadona. Setelah Parno terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja, dia memutuskan mengambil alih becak tersebut demi menghidupi istri dan kedua anaknya.
Suparno tidak pernah mendapat restu dari orang tuanya, karena menikahi Marsinah seorang gadis miskin yang lebih miskin darinya, namun cinta mempersatukan mereka hingga keduanya dikaruniai dua orang anak, Pargiyanto yang besar dan Riyan yang lebih kecil. Keluarga ini nampak bahagia meski dalam pikiran mereka kemelut selalu ada. Konflik rumah tangga sering muncul antara keduanya, Parno yang hanya lulusan SD tak cukup memiliki keterampilan untuk bekerja di sektor yang lebih tinggi, paling jauh menjadi buruh bangunan. Keputusan hebat dibuat oleh kedua pasangan itu, Marsinah sang istri memilih pergi merantau demi masa depan kedua anaknya, ketika inilah pengorbanan masing-masing terbagi. Marsinah sebagai pengumpul pundi-pundi untuk sekolah kedua anaknya agar tak hanya tamat SD seperti kedua orang tuanya. Sedangkan Parno yang lebih lemah dalam keterampilan harus mengurus anak dan memberi makan keduanya.
Anak-anak Parno semakin tumbuh dewasa dan menjadi sosok pendiam dengan jalan pikiran masing-masing, mereka mandiri dan bertindak hati-hati seperti bapaknya. Keduanya adalah sosok cinta damai karena memang ajaran dari bapaknya yang selalu tenang dan keluarga harmonis meski banyak kekurangan. Parno bukan sekedar bapak yang baik untuk anak-anak, namun dia adalah bapak yang tak kenal lelah merawat anaknya seorang diri kala hidupnya susah. Berkah bagi Parno adalah ketika Tuhan menyelamatkan nyawanya dari musibah gempa bumi yang melanda Jogja tahun 2006 lalu, saat yang lain masih terlelap, berkat kerajinannya dia sudah memasak di dapur, alhasil banyak korban berjatuhan karena tertimpa reruntuhan rumah, sedangkan Parno masih dapat menyelamatkan diri karena dia telah terjaga.
Tahun 2009 istrinya pulang ke tanah air setelah sekian lama berpisah. Salah satu anaknya sudah menjadi pegawai negeri di jajaran angkatan udara, sedangkan si kecil sudah bekerja di sebuah toko retail yang besar di Indonesia. Ini salah satu gambaran dari jerih payah seorang bapak yang berjuang sendiri, seorang laki-laki yang mengesampingkan ego dan mau berbagi dengan istri dalam berbagai hal, tak pernah mengeluh, membentak, bahkan meluapkan emosi yang membuat keluarga merasa tidak nyaman, perjuangannya ada karena dia tahu kalau suatu saat kebahagiaan akan datang dalam keluarga kecilnya.
Sampai kisah dari temanku ini aku tulis, Pak Parno masih menjadi bapak yang baik, tak pernah ada masalah dalam keluarganya. Namun dia tak lagi mengayuh becak, tetapi menjadi tukang bangunan yang turut membangun negeri. Tidak hanya membangun karakter anak-anak dan keluarga kecilnya yang bahagia meski serba kekurangan.

Cerita ini adalah salah satu kontributor pada "Catatan Cinta untuk Ayah" oleh Fp. Bidadari Bercadar Pelangi dan Penerbit Asrifa.

Karya 31 Dibukukan (Cerpen)

MOVE ON?
Karya : Faiz Deja Ramadhan

“Move on, perpindahan dari satu kondisi ke dalam kondisi yang baru.” Itu kalau menurutku. Kata tersebut serasa menjadi trend saat ini bersama dengan jajaran kata lainnya seperti galau, alay, hingga cabe-cabean. Move on bagi sebagian orang adalah hal yang menakutkan, bagiku juga. “Ya kali aja, lama dan nyaman dengan sesuatu yang dulu harus dilepas lalu berpindah ke yang lain.” Aku mengalami hal tersebut, bukan masalah cinta karena seumur hidup aku hanya memiliki cinta sejati untuk ibuku saja, dan apapun yang mengatas namakan cinta juga pasti akan berpisah karena itu adalah hal wajar. Semua orang harus move on karena cinta. Tapi aku tak pernah terjebak akan hal itu, cintaku setelah ibu adalah Kala (sebutan sayang), tanpa dia aku tidak akan move on. Itu komitmen.
Aku lebih susah move on dari masa kanak-kanak ke masa remaja dan dewasa. Aku masih seperti anak-anak hingga umurku yang sekarang. Jika teman-teman sibuk memikirkan tabungan untuk hari depan, aku justru sibuk memikirkan tabungan untuk bermain-main. Menjelajah tempat-tempat indah. Aku tak memikirkan sama sekali tentang menikah, tentang anak, bahkan ketika orang yang aku cintai, ibuku memohon untuk memikirkan hal itu. Bagiku duniaku masih begitu nyaman, seperti anak-anak yang suka dengan permen manis atau berlarian di halaman luas dengan teman-temannya. Aku suka boneka seperti halnya anak-anak, lelaki mana yang suka akan boneka sepertiku? Aku juga suka film kartun ketika remaja lain yang menganggap telah dewasa pergi ke bioskop demi film cinta atau laga. Dunia mereka serasa berbeda dengan duniaku yang masih seperti anak-anak, belum lagi mainan yang aku kumpulkan dari hadiah salah satu paket fast food. Stiker hadiah snack sarapan, hingga botol-botol parfum bergambar kartun. Mungkin banyak orang bilang aku tolol dan gagal move on ke fase remaja lalu dewasa, namun bagiku tak peduli namanya hidupku gagal atau tidak setiap hari adalah kegembiraan layaknya anak-anak.

Cerita ini adalah salah satu kontributor pada event "Gagal Move On" oleh Goresan Pena Publishing.