SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Rabu, 10 September 2014

Karya 15 Dibukukan (Cerpen)

Piala Dunia Pertama Adikku
 Karya: Faiz Deja Ramadhan

            Sekarang Zidan, adikku masih duduk di bangku kelas 4 SD, euforia piala dunia alias world cup mewarnai hari-hari UAS atau Ujian Akhir Semesternya. Malam hari mungkin banyak bapak-bapak termasuk ayahnya melakukan ronda sambil menonton pertandingan bola piala dunia tersebut, sehingga membuatnya kadang sulit tidur karena suara kehebohan mereka ketika menonton.

            Sepertinya ayah memang sedang merasakan kebebesannya di rumah, kebebasan untuk menyaksikan pertandingan bola piala dunia setiap malamnya sepulang bekerja dan sedikit lupa bahwa putra bungsunya sedang menghadapi ujian semester SD. Ketika itu di rumah memang sedang tidak ada ibu, ibuku pergi ke Pekanbaru, Riau karena tiga hari sebelum Zidan memulai ujian semester, nenekku meninggal dunia. Ibuku ketika mendengar berita itu memang sangat terkejut dan sedih sehingga ayah mengizinkan ibu pergi bersama adik perempuanku ke Pekanbaru. Sementara ayah, Zidan dan aku tetap di rumah karena aku juga akan menemani Zidan menghadapi ujian akhir.

            Beginilah petama kalinya ujian Zidan sebelum dia nanti mengalami kenaikan ke kelas lima, ujian yang diwarnai dengan hiruk pikuk piala dunia pertama yang dia baru pahami dan dapat kami saksikan di TV. Walau tanpa kehadiran ibu namun ibu tetap menelpon setiap malam dan memberi dukungan juga doa.
           

Pada hari keempat ujian, akhirnya perhelatan besar piala dunia selesai dengan penutupan pertandingan final antara tim negara Jerman melawan tim negara Argentina. Meski berakhir dengan drama pertandingan tragis karena skor permainan berimbang 1-0 untuk Jerman. Jerman mampu memasukan bola ke gawang Argentina tanpa dugaan. Kemenangan tim kesebelasan Der Panser ini membuat kebanggaan terbesar pada pendukung mereka seperti aku, Zidan dan ayahku. Seluruh dunia juga seakan bangga dan merayakan kemenangan Jerman. Dari piala dunia pertamanya ini,  Zidan sadar kemenangan itu bisa kita raih dengan usaha keras. Dia berkata bahwa Piala Dunia 2014 membuatnya semangat menghadapi ujian dan membuktikan doa ibu serta mengajarkannya agar tetap berusaha hingga menjadi juara.

Cerpen ini dapat dilihat dalam Buku Serba-Serbi Piala Dunia diterbitkan oleh Goresan Pena Publishing.

Karya 14 Dibukukan (Cerpen Islami)

ROMANTIKA CINTA ISLAMI MAHASISWA AKTIVIS
Karya: Faiz Deja Ramadhan

 Rasa cinta terhadap sesama makhluk juga perasaan cinta kepada Tuhan haruslah dengan ditunjukan dengan akhlak yang mulia.

            “Allahu Akbar, Allahu Akbar... .” Suara azan berkumandang pada siang itu menjadi suatu pertanda bagi umat muslim untuk menunaikan ibadah sholat Zuhur. Dewa pun segera menyandang tasnya dan bergegas ke luar kelas setelah dosen di kelasnya meninggalkan ruangan, ia pun berjalan cepat menuju ke arah barat kampus tempat di mana sumber suara azan itu berkumandang, Dewa pun masuk masjid dan segera menunaikan sholat Zuhur siang itu.
            Setelah empat rakaat telah ia tunaikan, Dewa mengenakan kedua sepatunya di serambi masjid dekat dengan halaman yang ditumbuhi rumput, seorang wanita cantik berkerudung biru menyapa dengan suaranya yang tak asing bagi Dewa.
“Hai De..” Sapa Melati.
“Walaikumsalam Warohmatullahi Wabarakatuh...” Sahut Dewa.
“Emmmhh Maaf ya De...” Ujar Melati.
“Ternyata yang dibilang orang-orang itu benar ya apabila seseorang sedang berada di atas kehidupannya bahkan dia saja bisa lupa salam.”  Ujar Dewa lalu meninggalkan Melati.
Melati pun hanya tertegun malu atas sikapnya yang memang salah namun Dia berpikir mengapa Dewa masih belum bisa memaafkannya dan mengerti keadannya sekarang. Melati pun berpikir apakah hubungan pertemanan mereka bisa baik lagi seperti dahulu.
            Dewa dan Melati adalah teman yang sangat dekat dulunya, sejak mereka berdua duduk di bangku Sekolah Dasar hingga sekarang mereka berada di satu Peguruan Tinggi, Dewa dan Melati masih bersama meskipun akhir-akhir ini pertemanan mereka berdua mengalami kerenggangan, sebab pastinya Melati tidak mengetahui persis. Mereka juga bertetangga di suatu kompleks perumahan. Dewa adalah mahasiswa jurusan Ilmu Politik Pemerintahan dan Melati adalah mahasiswa jurusan Psikologi, meskipun mereka berdua berbeda jurusan dan fakultas namun keduanya sangat dekat sekali di organisasi yang mereka urus bersama bahkan hal itu sudah terjadi ketika mereka berdua SMA. Hingga organisasi mereka di SMA sukses dan membuat mereka berdua mendapat predikat anak-anak yang pandai sehingga mereka mudah masuk ke perguruan tinggi negeri bonafit yang menjadi tempat mereka belajar sekarang.
       Di kampus, Dewa dan Melati menggeluti organisasi yang sama seperti ketika mereka SMA, dan Dewa pun menjadi ketua organisasi tersebut sementara Melati menjadi Bendaharanya. Organisasi mereka berdua merupakan organisasi yang bergerak di bidang sosial dan pergerakan aktivis mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi rakyat terhadap isu-isu tertentu. Baru sekitar tiga bulan dari pelantikan jabatan kepengurusan mereka di organisasi tersebut dari  masa jabatan mereka berdua selama setahun, keharmonisan hubungan antara Dewa dan Melati mulai terganggu, pasalnya Dewa yang sering turun ke jalan bersama kawan-kawan seorganisasinya itu, untuk menyuarakan aspirasi masyarakat di tengah isu-isu yang beredar setiap waktunya  juga menyuarakan aspirasi masyarakat dengan aksi turun ke jalan bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya mengenai kasus yang menimpa sederet pejabat di daerah tempat tinggal mereka dan kampus mereka. Kasus itu yang di antaranya juga menyeret ayah kandung Melati, yaitu bapak Sunarto selaku salah satu anggota DPRD di kota mereka.
            Kasus yang tengah menjadi bahan perbincangan semua orang di kota tempat tinggal Dewa dan Melati itu membeberkan bahwa adanya korupsi yang dilakukan walikota terhadap salah satu anggaran Dinas Kota yang kabarnya pula uang haram hasil korupsi tersebut dibagikan ke semua pejabat pemerintahan di kota itu mulai dari para pegawai balai kota, wakil walikota, kepala-kepala Dinas, para Rektor kampus di kota itu, para  kepala sekolah di kota itu hingga anggota DPRD, Camat, Lurah bahkan hingga tingkat Ketua RW pun menerima kucuran dana tersebut.
            Media massa di kota tersebut pun sudah gencar memberitakan kasus ini, mulai dari pembahasan yang paling netral hingga yang paling berlebihan, mulai dari media cetak seperti koran, tabloid, majalah, juga media elektronik seperti televisi, radio, situs berita dan akun-akun berita online di jejaring sosial. Ini juga yang membuat Dewa seakan tak percaya bahwa pejabat-pejabat di kota tempat tinggalnya bersifat sangat busuk seperti ini. Bahkan yang membuatnya tidak menyangka kasus ini menyeret pimpinan tertinggi di kampusnya alias rektor kampus Dewa dan ayah dari Melati yang selama ini ia kenal sangat baik, bersahaja, bahkan religius apalagi dekat terhadap rakyat.
            Sosok Bapak Sunarto ayah kandung dari Melati telah Dewa kenal semenjak ia kecil, bahkan sosok ayahanda dari Melati itu menjadi seorang inspirasi bagi Dewa akan ayah yang sempurna mengingat apalagi Dewa adalah anak yatim dari umur balita. Dulu ayah Melati sering bersama Melati dan ibunya bertamu ke rumah Dewa sejak mereka kecil sampai mereka dewasa pun hal itu masih sering terjadi, Ibu Dewa, Ibu Maryam juga sangat baik kepada keluarga Melati sehingga ini juga yang membuat keluarga mereka berdua sangat dekat dan akrab.  
            Namun rasanya kini jauh berubah drastis seperti masa lalu itulah yang dipikirkan Melati. Ini bermula semenjak ayah Melati dilantik menjadi anggota DPRD Kota setahun yang lalu, setelah menang atas pemilihan legislatif di daerah pemilihan kota itu. Pada awalnya Dewa sangat senang dan bangga juga kagum bahwa ayahnya Melati mau maju sebagai salah satu anggota DPRD, Dewa tahu bahwa Bapak Sunarto memiliki banyak kawan dan relasi juga sangat dekat dengan semua orang, santun dalam berbicara, sopan dalam bertindak, religius pada agamanya sehingga mendekatkan Beliau dengan semua kalangan di masyarakat baik ulama, pejabat, pengusaha bahkan hingga petani pun pasti mengenal Bapak Sunarto ayahanda dari Melati itu. Tapi Melati menyadari meskipun Dewa dulunya terkagum-kagum atas usahanya sebelum menjadi anggota DPRD bahkan mendukung ayahnya, kini ia berubah, Dewa seakan sangat tidak menyukai ayahnya bahkan termasuk Melati dan semua keluarganya. Ditambah kasus yang sedang beredar sekarang menambah ketidakacuhan Dewa terhadap Melati mereka jadi jarang bertegur sapa, berbicara bersama padahal banyak sekali urusan organisasi mereka yang harus dikomunikasikan. Bahkan jika Melati meminta Dewa untuk berbicara empat mata, Dewa selalu mengelak dan menghindar dengan alasan memiliki keperluan yang lebih penting. Di satu bulan terakhir ini Dewa dan Melati hanya berkomunikasi lewat rapat bersama saja yang seakan ketika rapat bersama staf-staf lain di organisasi mereka antara mereka berdua baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa. Dewa sepertinya sengaja menyembunyikan hal ini dari orang lain, dan Melati berpikir Dewa hanya ingin menunjukan kebenciannya terhadap ayah Melati kepada dirinya seorang.
            Ketika hari dimana terjadi aksi demo besar yang menuntut reformasi birokrasi semua pejabat di kota yang dilakukan ribuan pasukan mahasiswa yang dipimpin Dewa sebagai koordinator lapangannya dilakukan, Melati berlari dari ruang kelasnya menuju kantor organisasinya dan dia bertemu Dewa sebelum Dewa berangkat untuk menuju aksi demonstrasi tersebut. Melati pun memohon kepada Dewa untuk tidak melakukan aksi itu. Dewa pun menolak permintaan Melati dan semakin mengacuhkannya. Sejak saat itu Melati semakin sedih dan takut apabila aksi yang dilakukan Dewa bisa membuat ayahnya dipenjara, anak mana yang tidak malu dan menangis ketika ayahnya ditetapkan menjadi seorang narapidana dan dipenjara nantinya, ucap hati nurani Melati. Semenjak itu Melati berpikir untuk mencari solusi dari kasus ini baik membenahi hubungannya dengan Dewa maupun membuktikan kebenaran yang sebenarnya terjadi pada kasus ini. Melati pasrah apabila ayahnya terbukti bersalah terlibat dalam kasus korupsi itu.
            Namun Melati sangat yakin bahwa ayahnya tidak mungin terlibat kasus korupsi tersebut, karena Ia juga pernah bertanya keterlibatan ayahnya dalam kasus itu sebelum aksi Dewa berlangsung. Ayahnya menjawab tidak dan beliau lebih menyuruh Melati untuk tenang dan berpikir positif agar ayahnya selamat nantinya dari segala fitnah orang-orang yang membencinya. Maka dari jawaban itu pula Melati melarang aksi demonstrasi besar-besaran yang dimotori Dewa demi menghindari anarkisme dan lebih menyelidiki kebenaran kasus tersebut.
            Namun aksi demontrasi Dewa dan teman-temannya cukup berhasil dilakukan hingga menangkap seluruh anggota DPRD termasuk ayahanda Melati. Penangkapan itu membuat Melati dan ibunya shock hingga ibunya harus dirawat di rumah sakit dan Melati manjadi sering tidak masuk kuliah karena menjaga ibunya di rumah sakit. Sampai Dewa bingung kemana Melati  sampai jarang terlihat di kampus
            Dewa mencari tahu dengan datang ke rumah Melati, ia mengunjungi rumah Melati namun tak mendapatkan apa-apa hingga ia merasa bersalah karena aksinya
tempo hari membuat dia kehilangan kabar tentang Melati.
            Setelah seminggu dari hiruk pikuk penangkapan dan kasus yang menimpa ayah Melati. Belakangan Dewa tahu bahwa Melati selama ini sering tidak masuk karena berada di rumah sakit menjaga dan merawat ibunya yang masih trauma akan penangkapan suami beliau. Dewa pun berharap semoga keluarga Melati diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi kasus ini bahkan Dewa juga masih berharap bahwa Bapak Sunarto, ayahanda Melati bisa terbebas dari jeratan hukum karena adanya bukti yang tidak menjerumuskan dia, tapi entahlah Dewa pun berharap semoga mukjizat itu bisa datang. Selama kasus itu diselidiki hukum  Dewa semakin khawatir dengan keadaan Melati di setiap harinya, ia selalu memikirkan Melati bahkan hingga memimpikan Melati di dalam tidurnya. Dewa pun merasa iba dan kasihan terhadap Melati atas musibah yang melanda keluarganya. Dewa juga merasa bersalah tidak berhasil menenangkan Melati disaat-saat seperti ini, mereka malah berjauhan bahkan tidak berkomunikasi sama sekali,  perasaan Dewa terhadap Melati seakan melibihi perasaan seorang teman. Ya, Melati memang cantik dan shalihah dan Dewa menyukai tipe wanita seperti itu tapi Dewa selalu menyangkal dan menahan diri untuk tidak mencintai Melati karena dia mengerti perbedaan keluarga mereka dari segi ekonomi maupun kehormatannya. Dewa pun menghindari perilaku zinah seperti anak-anak muda yang sudah berpasangan dan mudah melakukan zinah tersebut di jaman sekarang.
            Disisi lain Melati yang sembari menjaga ibunya sakit di rumah sakit, dia juga memikirkan Dewa dan keadaannya. Melati sama sekali tidak membenci Dewa atas penangkapan ayahnya, ia hanya berdoa dan berharap ayahnya terbebas dari kasus itu karena ia yakin selama ini ayahnya selalu bertindak benar.
            Seminggu lebih Melati menjaga ibunya di rumah sakit, dan ayahnya mendekam di balik jeruji besi. Ini lah tiba saatnya dimana Dewa maupun Melati menunggu hasil keputusan sidang dibacakan siapa saja yang bersalah dan terjerat kasus korupsi ini. Melati pun berdoa dan berusaha tabah sambil menenangkan ibunya. Dewa juga hadir dalam sidang itu dan berharap kebenaran yang sebenarnya terungkap.
            Saat semua bukti dan saksi dipersidangan dimunculkan dalam persidangan itu menguatkan adanya keterlibatan semua pejabat kota dari Walikota hingga semua anggota DPRD yang juga termasuk ayahanda Melati terbukti bersalah menyelewengkan uang anggaran Dinas dengan penggunaan yang tidak semestinya. Namun sebelum hakim membacakan keputusan, ayahanda Melati, Bapak Sunarto melakukan pembelaan dengan menghadirkan sanksi dan bukti-bukti baru yang menguatkan tuduhan terhadap dirinya dan beberapa orang temannnya di DPRD tidak bersalah. Setelah saksi dan bukti itu yang diberikan Bapak Sunarto dimunculkan di persidangan akhirnya itu menepis keputusan hakim untuk menjerat Bapak Sunarto ke dalam sanksi hukum. Tidak hanya itu saja beberapa teman anggota DPRD bapak Sunarto yang tergabung dalam satu fraksi mereka tersendiri dinyatakan tidak bersalah oleh hakim karena hakim menemukan bukti yang kuat bahwa frasksi Bapak Sunarto dan kawan-kawan tidak ikut campur dalam melakukan tindak pidana korupsi terhadap anggaran Dinas Kota di kasus tersebut, akhirnya Bapak Sunarto bebas dan membuat Melati sangat bersyukur.
            Setelah persidangan Dewa pun menghampiri Bapak Sunarto dan mencium tangannya sambil memohon maaf, disaat itu pula Dewa menangis sedih merasa bersalah karena membuat Bapak Sunarto sempat dipenjara, Melati yang melihatnya merasa sangat terharu akan kemurahan hati Dewa. Lalu ayah melati pun meminta Dewa untuk menikahi Melati kemudian Dewa menjawab mau atas permintaan itu. Melati pun tersipu malu akan jawaban Dewa, Ayah dan Ibu Melati tersenyum bahagia melihat Melati mendapatkan pria yang baik. Empat tahun kemudian setelah Melati dan Dewa lulus dari studinya dan Dewa telah mendapat pekerjaan tetap mereka berdua menikah dan menjadi pasangan yang bahagia hidup bersama selamanya. Teman-teman mereka menjuluki mereka pasangan aktivis mahasiswa dan aktivis mahasisiwi yang bahagia, julukan itu dibalas dengan senyum sumringah kedua mempelai, Dewa dan Melati.

            Dari cerita lika-liku percintaan remaja islami antara Dewa dan Melati kita mendapatkan pelajaran bahwa seorang aktivis yang membela aspirasi-aspirasi rakyat seharusnya tidak selamanya bertindak menyalahkan dan beraksi dengan keras karena belum tentu yang kita curigai bersalah dia benar bersalah. Kisah cinta remaja  Dewa dan Melati yang bernuansa islami seakan membuka mata bahwa seorang mahasiwa harus pintar dan aktif serta dengan menjadi aktivis juga harus mempunyai perasaan cinta terhadap negaranya dengan perjuangan membela aspirasi rakyat, memiliki rasa kemanusiaan mendengar penderitaan masyarakat dan juga tak hanya perasaan cinta terhadap lawan jenis saja yang dipentingkan hanya karena remaja, tetapi juga harus ada perasaan cinta kepada semua makhluk serta perasaan cinta kepada Tuhan dengan ditunjukannya akhlak yang mulia.

                     Cerpen ini juga dapat dibaca di dalam Buku Cinta Karena-Nya Penerbit Pena House.

Karya 13 Dibukukan (Puisi)

Juli Sedang Apa?
Karya: Faiz Deja Ramadhan

Suara gaduh memecah genderang,
Asap mengepul dalam dapur yang masih remang,
Kampung dingin dihangatkan kepul nasi dan lauk sahur,
Adzan bersahut dalam sunyi kampung,
Mengakhiri peristiwa subuh sebuah kampung,
Hitungan hari penuh harap,
Bulan penuh angan-angan dan mimpi,
Bulan suci yang disambut gempita,
Anak-anak menahan lapar di bawah terik matahari,
Perang petasan pengisi puasa,
Menanti adzan kembali di sore hari,
Gegap gempita perebutan sang juara,
Hingga hari kemenangan di kampung yang sunyi,
Keriangan dengan ketupat dan tangis maaf,
Hanya bunda, anak, bapak, dan para perantau,
Memadati kampung yang akan sepi lagi setelah peristiwa suci di bulan Juli.

(Yogyakarta, 14 Juli 2014)

Puisi ini juga dapat dibaca dalam Buku Kumpulan Puisi Pada Negeri Aku Berpuisi oleh Penerbit Sahabat Goresan Pena.

Karya 12 Dibukukan (Puisi)

MEI
Karya: Faiz Deja Ramadhan

MEI,
Memisahkan duka,
juga
Mempertemukan suka.

MEI,
Membunuh senyum,
juga
Menghidupkan tawa.

MEI,
Perpisahan sahabat,
juga
pertemuan sahabat,
MEI,
Transformasi kedewasaan, juga  pikiran.


(Karawang, 28 Mei 2012)

Puisi ini dapat dibaca dalam Buku Cerita Mei, Sebuah Kumpulan Puisi terbitan Goresan Pena Publishing.

Selasa, 09 September 2014

Karya 11 Dibukukan (Cerpen)

Dua Anugerah Terindah di Bulan Mei
Karya : Faiz Deja Ramadhan

            Mei, bulan kelima yang selalu terpampang di kalender menjadi bulan dengan kegiatan-kegiatan yang biasanya diwarnai kesibukan, disertai jadwal menjelang ujian kenaikan kelas. Tapi bulan Mei di tahun ini amat berbeda. Segala tugas dan ujian yang biasanya mendera di bulan Juni dan membuat galau bulan Mei untuk mempersiapkan itu semua, telah selesai dan berakhir. Ya, terang saja tahun ini aku berada di kelas dua belas Sekolah Menengah Atas (SMA). Tingkatan kelas terakhir dalam menikmati masa sekolah, sebentar lagi aku akan menjadi alumni angkatan 2012.
Begitu lega rasanya setelah menghadapi Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah (UAS) tahun ini sehingga sebentar lagi aku menjadi mahasiswa. Tugasku sekarang hanya tinggal menunggu dua pengumuman penting yang sangat mempengaruhi jalan hidupku ke depan. Sambil menunggu dua pengumuman tersebut, aku mengisi waktu dengan mengikuti kursus bimbingan belajar di sebuah lembaga bimbingan belajar agar mendapatkan materi-materi yang sesuai apabila aku diharuskan mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur ujian tertulis. Aku akan mengikuti SNMPTN jalur ujian terulis apabila pada pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur undangan, aku dinyatakan tidak diterima pada perguruan tinggi negeri manapun. Namun aku masih berdoa dan optimis agar dapat masuk universitas melalui jalur undangan, agar meringankan bebanku juga beban biaya orang tuaku serta lebih leluasa mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri menjadi mahasiswa.
Harapan dan impian memang boleh tinggi akan tetapi segala resiko juga harus diperhitungkan, itulah pikirku yang kemudian disetujui oleh kedua orang tuaku. Sehingga aku harus mempersiapkan diri pada rencana kedua dengan mengikuti kursus agar aku juga bisa menembus perguruan tinggi negeri jika ditakdirkan mengikuti ujian tertulis. Sebab menurutku segala rencana juga memiliki resiko pahit, kalkulasi peluangku untuk masuk ke perguruan tinggi negeri nomor satu terbaik di Indonesia yang aku pilih sangatlah sulit dihitung. Pasalnya SNMPTN undangan menilai dari banyak aspek yaitu kuota penerimaan, persaingan seluruh siswa di Indonesia, prestasi, nilai rapor SMA, dsb. Meskipun aku optimis tapi aku hanya bisa berdoa dan menunggu pengumuman.

Pada tanggal 28 Mei 2012, akhirnya hasil UN diumumkan dan aku dinyatakan lulus dengan nilai cukup memuaskan. Ternyata aku baru tahu bahwa pada sore hari itu pula hasil SNMPTN undangan akan diumumkan dan hebatnya aku diterima di Universitas Gadjah Mada, aku sungguh bersyukur kepada Tuhan, di bulan Mei itu aku mendapat dua anugerah terindah dari-Nya. Aku pun menyadari apabila kita optimis dan telah berusaha keras, usaha itu akan sebanding dengan hasil yang akan kita peroleh.

Cerpen ini dapat dibaca dalam Buku Dear Diary Mei Memoriku terbitan Goresan Pena Publishing.


Karya 10 Dibukukan (Puisi)

DERITA PELAJAR MISKIN INDONESIA

Karya : Faiz Deja Ramadhan
Aku punya mimpi,
Mimpi-mimpi untuk negeri, yang mungkin tak berarti
Aku tak mau jadi susah karena dulu merasakan susahnya
Hingga aku belajar di sekolah agar sukses dan dibangga

Tapi, inilah derita si pelajar miskin
Prestasinya di negeri ini kadang tak dihargai bahkan dianggap basi
Derita si miskin itu haru
Haru dalam hambatan perjuangan untuk beasiswanya yang berderu

Derita si miskin juga sedih
Ketika prestasi tak dihargai sesuai jerih
Hingga akomodasi  jadi tanggung jawab pribadi
Namun ketika menang prestasi dianggap hasil dari sekolah yang berkontribusi

Inilah derita si pelajar miskin yang sedang belajar
Di pojok kelas dia tertampar
Akan kepantasannya untuk melanjutkan pendidikan

Inilah derita si pelajar miskin, di Indonesia

Puisi ini dapat dibaca dalam Buku Bisikan Kata Teriakan Jiwa untuk Indonesia Tercinta, Sebuah Kumpulan Puisi terbitan Penerbit Meta Kata.

Karya 9 Dibukukan (Cerpen)

Persembahan Terakhir
Karya: Faiz Deja Ramadhan
Hari itu sekitar pukul 10 pagi, Kami pun segera melangkahkan kaki menuju ke ruang kelas Bahasa Inggris sebab sekolah kami menggunakan sistem moving class sehingga membuat kami harus berpindah di setiap pergantian jam pelajaran. Meskipun begitu semangat belajar saya dan teman-teman tidak pernah surut, terlebih kami yang baru menapaki satu semester di kelas sebelas SMA atau semester pertama setelah kami berada di kelas penjurusan. Saya berada di kelas 11 IPA 3 dan bersekolah di SMA Negeri 1 Karawang. Temanku di kelas ini mayoritas merupakan teman-teman yang saya temui di kelas sepuluh dan ditambah beberapa teman yang baru saya kenal dari kelas lainnya, akan tetapi mereka semua teman-teman yang menurut saya selalu menjaga kebersamaan serta kekompakan. Pelajaran Bahasa Inggris akan segera dimulai sebelum guru memasuki ruang kelas biasanya kami semua telah menyiapkan buku pelajarannya di atas meja agar semua terlihat telah dipersiapkan meskipun buku itu hanya ditaruh dan kami melanjutkan obrolan bersama teman sebangku masing-masing.
Bu Dede akhirnya datang dan memulai pelajaran Bahasa Inggris di kelas dengan pertanyaan-pertanyaan interaktif berbahasa Inggris, sontak kami yang awalnya belum mempersiapkan jawaban atau mengetahui artinya, terbata-bata dalam menjawab pertanyaan. Hingga di tengah jam pelajaran Bu Dede pun meminta izin untuk menyelesaikan jam pelajaran lebih cepat karena beliau kedatangan tamu. Kami pun senang, namun Bu Dede mengingatkan bahwa siang hari kelas kami masih memiliki satu jam pelajaran terakhir yaitu jam pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh Pak Amien. Namun Bu Dede memberitahukan sesuatu bahwa Pak Amien sedang berulang tahun di hari itu, kami pun langsung mendapatkan ide untuk merayakan ulang tahun Pak Amien agar jam pelajaran terakhir kami itu kosong kembali dan diisi perayaan ulang tahun untuk seorang guru. Kebetulan Pak Amien juga merupakan guru yang sangat baik hati meskipun beliau sering memberikan tugas tetapi kami memaklumi karena keadaan beliau yang sedang menderita suatu penyakit membuat beliau tidak memungkinkan untuk berbicara terlalu banyak di depan kelas. Sebagian orang di kelas kami pun pergi untuk membeli kue ulang tahun berukuran sedang. Akhirnya saat jam pelajaran dimulai kami memberikan kejutan kepada Pak Amien dengan sebuah kue ulang tahun. Raut wajahnya begitu senang mendapatkan sebuah kejutan dari para muridnya di suatu kelas dan ternyata baru kelas kami yang pertama merayakan ulang tahun beliau di tahun ini. Kami pun cukup bangga dan senang bisa melihat beliau senang, niat kami yang awalnya tidak baik untuk mengosongkan jam pelajaran ternyata tidak berhasil juga karena Pak Amien tetap mengajar di sedikit waktu, meskipun begitu kami sekelas sungguh senang. 

Setahun kemudian saat kami berada di kelas dua belas atau kelas tiga, pada suatu hari pengumuman dari pengeras suara di sekolah berbunyi dan mengumumkan bahwa Pak Amien telah meninggal dunia karena penyakitnya. Sungguh sangat mengejutkan dan membuat kami turut berduka cita. Kami menyadari kejadian perayaan kecil untuk ulang tahun beliau setahun yang lalu menjadi sebuah persembahan terakhir untuk beliau. Peristiwa itu menjadi sebuah kenangan tak terlupakan bagi kami. Kenangan bersama guru yang kami hormati, seorang guru yang tetap bertahan dan berjuang di tengah kondisi tubuh yang sakit untuk mengajar demi mencerdaskan generasi bangsa.

Cerpen ini dapat dibaca dalam 1.      Buku Guru dalam Memoriku terbitan Penerbit Meta Kata.