SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG

Selasa, 09 September 2014

Karya 7 Dibukukan (Cerpen)

Kejujuran Akan Berbuah Manis
 Karya: Faiz Deja Ramadhan
Sudah lama rasanya mengerjakan soal Ujian Akhir Nasional di kelas yang penuh dengan ketegangan. 2009 saat itu, harus mengerjakan 6 paket soal pelajaran merupakan perjuangan malu atau bangga. Tiga tahun diuji dengan tiga hari sungguh sangat ironis. UAN membuat perasaan menjadi berantakan, tak lagi dapat merasakan apapun. Otak diputar kembali, harus menghafal rumus dan kata-kata dari kelas satu. Buku-buku lama harus dibuka lagi. Beruntung bagi yang berduit dapat melakukan bimbingan dengan biaya mahal dan mendapatkan trik-trik ujian yang jitu. Bagiku belajar mandiri menjadi pilihan yang tepat kala duit tidak mencukupi untuk membayar bimbingan mahal. Rajin ke perpus dan mengerjakan soal ujian tahun-tahun sebelumnya, perjuangan berat yang tak penting bagi pemerintah dengan standar yang mereka buat.
Dari perjuangan itu terlahirlah kekuatan mental yang tetap saja digempur dengan perasaan was-was tidak lulus. Teman-teman sibuk membuat jaringan untuk kerjasama dengan sekolah lain, mengumpulkan uang demi membeli kunci jawaban yang katanya valid. Mereka juga sibuk menyiapkan contekan serta telepon seluler yang dilakban di paha mereka. Cara yang jitu mungkin, tapi aku tak pernah tertarik dengan hal itu. Mencoba dengan jujur dan siap menanggung malu jika memang nilai tidak memenuhi syarat, tiga tahunku diuji dengan ujian yang tidak mutu. Tak sekalipun aku memberi jawaban kepada teman atau meminta jawaban. Tak ada CCTV, tapi aku berani jujur diantara mereka yang sibuk mencari jawaban. Ujianku lancar meski kegelisahan tetap malanda. Aku juga sempat melaporkan beberapa teman yang menyontek atau membeli kunci jawaban. Tapi tak ada respon.

Nilai kelulusan keluar dengan cukup memuaskan. 32,84 untuk tiga mata pelajaran. Lebih rendah daripada mereka yang curang, tapi setidaknya aku ingin menjadi yang pemerintah inginkan. Jujur untuk UAN yang penuh kecurangan. Bahkan mereka yang curang tidak dapat masuk di SMA favorit, sedangkan aku yang jujur bisa masuk SMA terfavorit di kabupatenku. Kejujuran memang sejatinya akan berbuah manis.

Cerpen ini dapat dibaca dalam Buku Ujian Nasional, 40 kisah nyata tentang UN terbitan Goresan Pena Publishing.

Karya 6 Dibukukan (Esai)

KEDAULATAN ENERGI HARUS MENJADI  HARAPAN SEMUA WARGA NEGARA

Karya: Faiz Deja Ramadhan
            Menjadi negara berdaulat merupakan impian semua bangsa dan warga negaranya, dari kedaulatan tersebut lahirlah kesejahteraan keadilan serta kemakmuran suatu bangsa yang membuat bangsa itu maju juga dhormati dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain diseluruh dunia. Namun demi mencapai indikator kedaulatan, suatu negara haruslah bekerja keras baik dari pemerintahannya maupun masyarakatnya untuk mewujudkan cita-cita kedaulatan itu. Sebenarnya kedaulatan pun tidak hanya mengenai satu sektor atau bidang kehidupan melainkan banyak sektor kehidupan yang bersifat kompleks yang dimiliki dan diurus sendiri oleh negara.

Kedaulatan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kekuasaan tertinggi atas pemerintahan negara. Maka dari itu dapat disimpulkan dengan singkat bahwa kedaulatan adalah semua yang ada di negara tersebut dikuasai oleh pemerintahan negara itu sendiri. Kita tinggal di negara yang memiliki banyak kekayaan dan permata akan keanekaragaman, kita mengetahui bahwa negara kita tercinta yaitu Indonesia adalah negeri dengan sumber daya alam yang melimpah sehingga mempotensikan negara ini tersebut menjadi negara maju , adil bahkan bisa berdaulat. Namun apa yang kita lihat sekarang, benarkah Indonesia yang kita cintai ini sudah menjadi negara yang berdaulat?

Indonesia yang kita kenal adalah negara dengan bentuk kepulauan lebih dari tujuh belas ribu pulau berada di negeri ini, yang lima puluh persen lebih negeri ini pun memiliki laut dan luas kepulauannya dari ujung barat di Pulau Sabang dan ujung timur di Kota Merauke pulau Papua.  Tidak hanya masalah daratan dan banyaknya lautan sumber daya maritim yang ada di laut Indonesia sangatlah kaya dari musai hasil perikananan oleh nelayan, mutiara, keanekaragaman spesies dan lainnya. Selain kekayaan di lautan di daratan Indonesia juga memiliki kekayaan hampir semua di sektor kehidupan pertanian, peternakan, perkebunan, tambang, perminyakan, bahkan hingga tambang energi alternatif pun di Indonesia ada dan banyak meskipun belum semuanya dieksplorasi dan dikelola dengan baik.

Jika dapat dihitung kekayaan negeri ini, amatlah banyak dan sulit dihitung, tetapi mengapa negeri ini masih tidak berdaulat dan sulit dianggap menjadi negeri yang berdaulat bahkan negara maju atau menjadi negara yang makmur. Sebut saja beberapa faktor yang membuat kedaulatan di negeri ini terhambat, yaitu besarnya utang negara kepada negara-negara lain, besarnya jumlah impor pangan padahal kekayaan pangan di negeri ini melimpah ruah, yang paling terlihat menjadi faktor ketidakberhasilannya Indonesia ini untuk menjadi negara  berdaulat adalah kemiskinan, pengangguran, dan praktek korupsi serta penyelewengan uang-uang negara oleh pihak yang tidak bertanggung jawab semakin merajalela. Serta yang paling penting dari segi sumber daya energi dan mineral adalah  pertambangan, dan perminyakan di Indonesia sembilan puluh persen lebih sahamnya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing, sangat Ironis bukan?

Semua permasalahan bangsa yang disebutkan sebelumnya dapat membuat kita berpikir dan menarik benang merah bahwasanya Indonesia membutuhkan perjuangan demi mendapatkan status kedaulatan terhadap yang pertama kedaulatan pangan dan kedaulatan energi. Untuk memberikan solusi terhadap kedaulatan pangan saya hanya menekankan kepada semua warga negara Indonesia untuk membeli dan menikmati hasil bumi Indonesia sendiri tanpa harus memakan makanan-makanan impor yang jelas tidak menguntungkan bagi negara kita. Kemudian untuk kedaulatan energi inilah yang menjadi bekal dan cambuk seuluruh warga Indonesia untuk sadar dan membuka mata agar kita memperjuangkan apa yang menjadi tanggung jawab kita ke depan demi mendaulatkan energi Indonesia. Saya juga ingin mengatakan satu kalimat “Jadikanlah harapan kedaulatan energi Indonesia menjadi kedaulatan kita semua sebagai warga negara, bukan hanya diimpikan tapi juga diharapkan dan diperjuangkan!” Lalu dengan cara apa kita memperjuangkan harapan tersebut ? Itulah yang menjadi pertanyaan besar dan sulit dilakukan oleh semua orang.

Sama seperti halnya negara yang menginginkan rakyatnya bahagia, hidup makmur dan sejahtera serta berkecukupan, maka semua orang juga memiliki rasa dan hasrat untuk membahagiakan dirinya sendiri, memakmurkan kehidupannya, serta hidup sejahtera bahkan kaya raya karena itulah yang menjadi  indikator-indikator kebahagiaan seseorang. Seseorang tak akan bisa bahagia, hidup sejahtera bahkan kaya raya apabila tidak berusaha dan bekerja,  salah satu bentuk usaha dan pekerjaan tersebut dimulai sejak manusia itu kecil yaitu dengan mengenyam pendidikan di bangku sekolah baik dari dasar, menengah, menengah atas hingga perguruan tinggi. Semua dilakoni oleh seseorang untuk mendapatkan pendidikan yang nantinya menjadi bekal pekerjaan mereka di masa depan.

Perguruan tinggi pun kini berlomba-lomba membuka jurusan dan program studi yang menarik minat banyak generasi bangsa di mana jurusan-jurusan tersebut memiliki peluang prospek pekerjaan yang sangat bagus dan dapat memberikan upah tinggi terhadap para pegawainya salah satunya adalah prospek bekerja di bidang eksplorasi-eksplorasi energi seperti perminyakan, pertambangan, gas alam dan energi seperti panas bumi, dan lain-lain. Jurusan-jurusan yang mendukung sektor-sektor itu sebut saja Geologi, Geofisika, teknik pertambangan, teknik perminyakan, teknik kimia, teknik metalurgi dan sebagainya dimana pada tahun-tahun sekarang jurusan tersebut sangat banyak diminati bagi para calon mahasiswa baru di semua perguruan tinggi sebabnya adalah iming-iming upah atau gaji yang besar ketika mereka telah lulus dan bekerja pada bidang itu.

Memang tidak salah apabila seseroang mengharapkan apresiasi yang besar berupa gaji atau bayaran yang besar atas hasil kerja keras dan jerih payahnya. Namun yang perlu kita sadari adalah betapa singkatnya hidup ini apabila hanya mengharapkan sejumlah uang untuk membiayai hidup, apakah kita tidak ingin memajukan bangsa ini dan merebut kembali kedaulatan energi bangsa Indonesia yang kini sudah dikuasai pundi-pundi negara asing, yang itu juga terus menerus mengeruk hasil kekayaan alam negara kita tanpa adanya keuntungan yang berarti bagi negara ini. Sah saja apabila seseorang menikmati gaji hasil kerja kerasnya dari sebuah perusahaan asing yang memegang kendali energi bangsa ini, dan dengan menghamburkan uang demi kepentingan pribadi yang diinginkan, namun apakah kita tidak malu dan tidak punya hati untuk sebentar saja memikirkan nasib warga negara Indonesia yang lain yang tidak sebenruntung kita ketika ia sulit dan tidak mampu membeli bensin dari harga yang keuntungannya kita nikmati sebagai gaji kita. Ketika kita tertidur nyenyak di kasur yang empuk dengan listrik yang cukup menerangi malam kita namun apakah kita tidak memikirkan nasib saudara-saudara kita di pelosok yang membutuhkan bahan bakar atau energi untuk menghidupkan listrik di desanya bahkan hanya bercahayakan lampu lilin ketika tidurnya.


Inilah yang ingin saya pesankan kepada siapapun orang yang membaca bacaan ini untuk dia menaruh harapan dihatinya agar kedaulatan di negeri Indonesia kita tercinta ini bisa kita harapkan di dalam hati kita masing-masing sebagai seluruh warga negara Indonesia. Dijadikan harapan yang baik, maka perjuangan dan usaha yang kita lakukan pun harus nyata terutama pada kedaulatan energi, boleh saja kita menikmati enaknya hidup dengan gaji tinggi hasil kerja keras di perusahaan asing demi membahagiakan hidup kita pribadi dan keluarga kita, namun jangan sampai itu berlangsung terlalu lama dan melupakan tanggung jawab kita sebagai warga negara Indonesia untuk memajukan Indonesia dan mendaulatkan segala sumber daya energi di tanah air ini. Semoga harapan kita tercapai dengan restu Tuhan Yang Maha Esa dan dengan upaya kerja keras yang kita bangun sebagai warga negara yang berbakti terhadap nusa bangsanya. Aamiin.

Esai ini juga dapat dibaca dalam Buku Gadjah Mada Rainsinance terbitan Kastrat BEM KM UGM 2013  

Karya 5 Dibukukan (Puisi)

Malaikat itu Emak dan Bapak
Karya: Faiz Deja Ramadhan
: Malaikat itu emak dan bapak?
Suatu kisah bercerita,
malaikat turun menemani Adam dan Hawa,
malaikat mengorbankan sayapnya menjadi penghuni abadi,
bumi.
Lalu Adam, mengorbankan bahagianya,
surga,
Hawa pun mengandung anak-anak Adam dengan kasih sayang,
melahirkan,
menjadi mahluk di bumi.
: Lalu kita?
Anak cucu Adam yang jauh,
diasuh malaikat bertangan kecil tak bersayap,
memeluk menyusui,
layaknya Adam yang dijaga malaikat,
DIALAH EMAK,
DIALAH BAPAK,
malaikat penuh kasih,
menidurkan, menenangkan tangis kita, Sang ANAK.
tak mampu hati membalas surga mereka,
hanya doa yang terungkap, untuknya TUHAN bagi kedua malaikat.
EMAK dan BAPAK,
kasihmu adalah surga, titisan malaikat yang turun ke bumi,
megorbankan egomu untuk senyum, riang anakmu.
MALAIKAT ADALAH EMAK dan BAPAK.


( Faiz Deja Ramadhan, Yogyakarta, 9 Mei 2014 )

Puisi ini juga dapat dibaca yang terbit di Buku Goresan-Goresan Indah Makna Kasih Ayah Bunda
oleh Penerbit Oksana.

Karya 4 Dibukukan (Kisah Inspiratif)

Solo, Riwayatmu Kini
Karya: Faiz Deja Ramadhan
            Pagi itu angin dingin masih berhembus hingga menusuk tulang, tetapi saya dan temanku, Awan sudah melajukan motor ke jalan raya dari tempat singgah kami sejak kemarin sore setelah perjalanan dari Yogyakarta kami tempuh. Jalan raya cukup sepi mengingat hari minggu merupakan hari libur yang tidak membuat banyak orang senang berpergian sepagi ini. Tapi berbeda dengan masyarakat di kota ini, saat kami memakirkan kendaraan di tempat parkir lalu sedikit berjalan ke tempat tujuan berolahraga di minggu pagi, keadaan ramai menyambut kami dengan adanya lalu lalang banyak orang dengan beberapa kegiatan yang mereka lakukan, seperti lari pagi, bersepeda, berjalan santai bersama keluarga bahkan ada juga yang membeli makanan kecil yang dijual para pedagang keliling.
Ini adalah kegiatan Car Free Day di Kota Solo yang baru saya singgahi pagi ini setelah sebelumnya menginap di pinggiran kota setelah menempuh perjalanan dari Yogyakarta kemarin, bertempat di Jalan Slamet Riyadi yang merupakan jalan utama di Kota Surakarta. Saya dan teman saya memang tidak salah memutuskan untuk mengunjungi kota Solo yang sungguh indah bahkan di tujuan pertama kami yaitu Car Free Day Jalan Slamet Riyadi yang dapat melepas penat kami sehari. Saat pertama kali memasuki jalan ini dan bersiap berolahraga pagi, sambil menikmati hari minggu, saya sejenak berpikir dan melihat sekelilingku hingga catatan harian di blog yang saya tuliskan menceritakan untaian kata-kata berikut yang menggambarkan perjalanan dan keindahan Kota Surakarta yang saya jelajahi seharian pada hari minggu itu.
Solo. Bagi pecinta jalan-jalan dan pebisnis, mungkin kota budaya sekelas Solo sudah tidak asing lagi di telinga. Kota yang merombak habis tatanannya pada masa kepemimpinan Jokowi ini semakin cantik dan mengokokohkan dirinya sebagai kota budaya berbasis modern. Tak salah memang jika kota ini menganggap dirinya sebagai Spirit Of Java. Mengingat budaya yang masih terasa kental dapat berbaur dengan modernisasi dan pembangunan yang berbau multikulturalisme. Beberapa pusat bisnis juga dibangun di kota ini. Hal itu terbukti dengan tumbuh suburnya mall dan hotel sebagai investasi bisnis para pengusaha. Namun seringkali pelancong termasuk saya yang datang ke kota Solo terkadang harus menelan kekecewaan saat dua kubu Kasunanan Surakarta sedang bergejolak seperti beberapa waktu lalu. Akibatnya wisatawan yang berkunjung ke keraton pun terbatas, dan tak dapat menyaksisan kemegahan serta akulturasi budaya yang kental di dalamnya. Belum juga beberapa prosesi budaya seperti arak-arakan pusaka yang biasanya di gelar saat Bulan Muharam tak dapat di saksikan karena ada dua kubu yang saling serang itu. Sungguh sangat disayangkan atas  sikap yang ditunjukkan bagi sosok pemimpin kebudayaan yang tidak memberikan rasa nyaman bagi wisatawan. Seharusnya mereka lebih dapat berkaca dan saling duduk bersama untuk berpikir tentang solo yang akan datang, bukan masalah pribadi yang berimbas pada sektor yang lain.
Namun meninggalkan sedikit masalah tersebut, Solo sudah banyak berbenah saat ini. Wisatawan dimanjakan dengan kota kecil berbasis Budaya Jawa namun memiliki gaya Eropa. Sebagai gambaran pertama kita dapat melihat arsitektur yang ada di Keraton Surakarta yang saya kunjungi setelah menikmati Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi. Bangunan itu dirancang bergaya Eropa-Tiongkok dan Jawa dengan beberapa patung dan ornamen khas Eropa seperti patung malaikat bersayap. Begitu juga dengan menara yang dibangun menyerupai pagoda. Tak hanya sampai disitu saja,  saat saya berwisata ke Solo, hal menarik pertama adalah menelusuri Solo City Walk di sepanjang trotoar pinggir Jalan Slamet Riyadi yang membentang kurang lebih 7 kilometer. Di jalan yang biasanya Solo Car Free Day ini dilaksanakan setiap minggunya, sembari berjalan di atas trotoar yang lebar dengan payung pepohonan yang rindang, kita dimanjakan dengan pemandangan kota yang rapi. Selain itu wisatawan juga dapat mengunjungi kampung batik kauman yang berada di sekitaran jalan itu. Beberapa pusat kebudayaan juga berada persis di sepanjang jalan kota yang kini menjadi salah satu ikon kota Solo ini. Beberapa diantaranya adalah Museum Batik Kuno Nasional Danar Hadi, Taman Sri Wedari, Pura Mangkunegaran dan Museum Radya Pustaka. Kalau beruntung wisatawan juga akan disuguhi Kereta Jaladara yang melintas sejajar dengan Solo City Walk, itu tentunya akan memberi pengalaman yang berbeda, mengingat ada kereta uap berjalan di tengah kota. Nampak seperti sedang di Eropa bukan? Namun sayang, saya tidak dapat menyaksikan kereta itu. Selain itu bagi yang suka akan wisata belanja tak usah berkecil hati, karena pembangunan Solo yang berbasis kota bisnis dan modern ini sudah menghadirkan banyak mall di kota kecil ini. Bahkan beberapa diantaranya berjajar di sepanjang jalan Slamet Riyadi, tentunya sambil menikmati kota melalui Solo City Walk juga dapat mampir ke pusat perbelanjaan dan mall bahkan pasar tradisional Klewer juga dapat ditempuh di rute ini. Membeli oleh-oleh, souvenir, atau sekedar belanja tak jadi masalah lagi.

Jika berjalan kaki terasa melelahkan atau masih ingin melihat landscape Solo yang lebih luas, tak ada salahnya mencoba wahana baru di kota Solo. Bus tingkat Werkudoro. Bus warna merah ini di desain mirip dengan bus yang ada di London dan beberapa koda besar Eropa. Hanya dengan membayar tiket sebesar 20.000 rupiah wisatawan sudah dapat menikmati keindahan Solo dari atas bus tingkat ini. Bus ini akan mengunjungi tempat-tempat yang menjadi ikon kota Solo seperti Keraton Surakarta dan Kampung Batik Lawean. Sayangnya bus ini tidak beroperasi setiap hari, melainkan hanya di hari Sabtu, Minggu, dan hari libur dengan pemesannan tiket satu hari sebelumnya. Mungkin pihak terkait harus menambah armadanya sehingga rute perjalanan dapat dilayani setiap hari tanpa pemesanan tiket sebelumya, sehingga kenyamanan wisatawan dapat terpenuhi. Kota Solo juga menawarkan banyak taman kota untuk beristirahat atau sekedar me-refresh pikiran yang penat akan aktivitas. Taman Balai Kambang yang bersejarah hingga Taman Perjuangan 45 serta taman-taman kecil lainnya wajib di coba untuk meregangkan otot sementara. Keberadaan taman-taman itu menambah kokohnya Solo yang menduplikasi tata kota Eropa Jawa. Solo yang sedang bergejolak, riwayatmu kini menjadi sebuah kota kecil dengan alkulturasi budaya yang apik. Tunggu apa lagi, kalau ingin merasakan budaya Jawa yang modern seperti yang membuat saya berkesan berwisata ke kota itu beberapa waktu lalu tak perlu ragu untuk berkunjung ke Kota Solo atau Surakarta, Jawa Tengah karena Solo adalah The Spirit Of  Java.

Kisah ini dapat dibaca pada buku Buku Wisata Asyik Ala Penulis, Kumpulan Kisah Inspiratif di Lokasi Wisata oleh FAM Jabodetabek.

Karya 3 Dibukukan (Kisah Inspiratif)

Oase di Bukit Karst
Karya: Faiz  Deja Ramadhan
Ini tentang mimpi, dan ini hanya suatu permulaan. Aku berkisah tentang perjalananku ke tanah Dewata, yang hanya menjadi sebuah harapan. Aku tak pernah menyangka menemukannya dalam situasi yang berbeda. Siapa yang tak ingin bermimpi liburan ke Bali, menemukan keindahan alam yang masih di jaga para dewa. Namanya begitu termahsyur di seluruh dunia. Bahkan mereka para turis tidak mengenal Indonesia, tapi mengenal Bali. Rasanya hanya sebuah impian. Tawaran backpakeran selalu saja aku tolak. Aku masih saja tak punya banyak waktu maupun biaya untuk itu. Awal-awal kuliah menyita banyak waktuku dan juga materi. Apalagi aku harus menyesuaikan dengan budaya yang berbeda. Yogyakarta begitu terkesan lambat bagiku tak seperti Jakarta yang segalanya cepat. Kata orang kota ini nyaman, tapi memang nyaman bagi yang sudah bisa menyesuaikan dan mereka suka akan ketenangan, tidak denganku.  Orang dengan karakter yang menyukai keadaan terburu-buru dalam bertindak agar cepat selesai.
Aku masih saja berkutat dengan tugas dan organisasi di awal kuliahku. Yah, aku Charin. Charin yang sedang stres karena tugas dan envy akan teman-teman semasa SMA yang sudah bisa melanglang kemana pun mereka mampu. Bali, Bromo, Pulau Komodo, Lombok dan tujuan-tujuan lainnya. Saat mereka memajang display picture di akun mereka yang berganti-ganti, aku hanya memajang gambar lama tentang Bandung, Jakarta atau kota kota kecil di Jawa Barat rumah asalku. Kenangan akan kebiasaan untuk ‘Ngebas’, Ngebolang Asyik yang sempat aku lakukan bersama sahabat lamaku, ‘Ngebas D’Genk’. Aku merasakan kerinduan akan jalan-jalan, bertemu dengan alam dan berteriak melepas penat. Di Jogja? Bisa apa aku di Jogja. Kota yang sempit dengan budaya yang belum aku kenal. Bahkan bahasa Jawa yang membuatku seakan makin tersiksa. "Apa karena aku manja saja? Ah tidak juga". Gumamku kadang menenangkan.
Hampir satu bulan aku hanya menjalani rutinitas normal sebagai mahasiswa. Kuliah dan kegiatan organisasi menjadi keseharianku. Paling sesekali menghibur diri dengan film-film kartun kesukaanku atau sekedar browsing dan online di jejaring sosialku, Facebook.
Tak sadar saat kebosanan benar-benar memuncak, hujan masih terasa dinginnya sore itu. Aku hanya mengamati pemberitahuan di akunku, Melihat lihat saran dan menemukan halaman yang cukup menarik. Fanspage tentang kota Jogja. Sedikit penasaran menghilangkan kebosananku di kala sore. Gambar-gambarnya terlihat menarik. Apa karena mereka mendapat sisi yang menarik dari kamera mereka. Entahlah. Tapi aku tertarik dengan semua itu. Pandanganku tentang Jogja yang "alon-alon waton kelakon" mulai pudar karena landscape yang tertata apik di fanspage itu. Berawal dari rasa penasaran, aku mulai membuka-buka kontak lamaku. Mengirim pesan singkat nada mengajak bercanda. Dia pun meresponnya. Kak Kavi, sepupu jauhku yang kebetulan tinggal di Jogja. Pernah bertemu beberapa kali, namun kesibukan kami membuat kami jarang bertemu kembali meskipun kami satu kota. Saat ini dia sedang sibuk mempersiapkan mentalnya untuk penyembuhan sakit yang di deritanya, tidak bisa bertemu dalam waktu dekat katanya. Sedikit kecewa, tapi tak apalah, mungkin besok ada waktu luang untuk memintanya mengajakku berkeliling Yogyakarta.
Minggu di suatu pagi, dia tak lagi bekerja kini. Sudah keluar dari pekerjaannya sebulan yang lalu sebelum harus menjalani operasi. Sebulan menunggu hingga dia sembuh total. Aku dapati pesan darinya menanggapi ajakanku beberapa waktu lalu. Sekarang dia banyak memiliki waktu luang, begitu pula aku. Libur di hari sabtu dan minggu. Minggu pagi ini aku mencoba menguak keindahan Jogja di sisi lain. Orang mungkin tak mengira, bahkan aku. Di sisi timur Kota Pelajar ini berbaris perbukitan kapur yang tandus. Atau biasa disebut Karst dalam bahasa ilmiah. Tapi itu gambaran lama. Memang di beberapa daerah masih terlihat kekeringan di sana-sini. Semua itu sirna saat aku menginjakkan kaki di salah satu surganya Yogyakarta. Perjalanan panjang dan berliku habis sudah terbayar dengan hempasan angin pantai yang semilir. Deburan ombak bergulung-gulung menabrak karang.
" Bali kecil !" Seruku dengan ceria.
" Selamat datang di impianmu." Jelas Kak Kavi.
Dia seakan tahu apa yang aku inginkan. Berlibur ke pulau Dewata dan menikmati alam serta pantai dengan pasir putihnya. Kini Bali seakan terbayar sedikit di sini. Pantai Ngobaran yang elok dengan tebing tinggi yang gagah. Di atas sana ada pura kecil tempat ibadah yang masih digunakan sampai saat ini. Bahkan pantai ini adalah tempat diselenggarakannya melasti sebelum hari raya Nyepi, tutur kak Kavi yang sudah beberapa kali ke pantai ini. Pasirnya yang putih berpadu padan dengan karang berlumut yang hijau. Airnya jernih, sesekali bintang laut dan ikan- ikan kecil berenang ke sana ke mari nampak liar. Ombaknya besar khas pantai selatan. Patung patung tempat pemujaan berdiri di atas tebing, tepat di barisan paling depan, Wisnu nampak gagah menaiki garuda. Gubuk-gubuk kecil menambah kehangatan suasana. Betah seharian disini menghabiskan waktu untuk bersantai. Menikmati Jogja di sisi lain.
Dari tempat ini, gambaranku tentang Jogja mulai memudar, tak ada lagi kesan lambat bahkan kuno. Hanya ada dari kuno itu tersimpan teka-teki yang ingin diungkap, dan ini salah satu jawabannya. Harus pandai menyiasati tempat kalau mau berlibur ke Jogja, karena Jogja itu "never ending Asia" . Tak pernah berakhir dan usai untuk di jelajahi. Setiap incinya mengandung makna dan budaya.
Puas rasanya menikmati pantai itu, kak Kavi memang tahu apa yang aku butuhkan, sedikit menguras penat akan kuliah dan penyesuaian yang tak pernah berakhir. Tak jauh dari pantai kecil itu ada pantai panjang, dengan pasirnya yang putih pula. Nguyahan terlihat lebih luas untuk melihat ombak yang berhamburan. Tak terhalang dinding tinggi menjulang. Hanya berjalan kaki sepuluh menit saja dari Ngobaran. Pantai ini lebih ramai dari yang aku bayangkan. Gunung Kidul yang aku kira sepi tapi wisatawan telah menyentuh tempat ini pula. Terlihat disana sini anak-anak sedang bermain pasir dan air, beberapa diantaranya terlihat orang-orang menjemur rumput laut untuk dijual ke pengepul jika sudah terkumpul. Kekayaan hayati tersimpan di padang gersang gunung kapur Gunung Kidul.
Mentari mulai terik di atas ubun-ubun, perjalanan tak hanya berhenti di dua pantai ini saja. Motor terasa melaju dengan kencang di jalan sepi antara hutan rakyat dan hamparan sawah yang terlihat gersang juga. Penduduk nampak berarak di pinggir jalan membawa kayu bakar dari hutan. Rumah-rumah masih jarang terlihat. Namun sepertinya sudah ada listrik di daerah ini. Betapa sepinya jika malam telah menghampiri. Tiga puluh menit berkendara dari pantai didapati jalan rusak yang hanya batu dan tanah. Jalan ini masih dalam perbaikan mungkin, mengingat alat-alat berat masih terparkir di pinggir jalan. Menelusuri jalan rusak ini hampir lima kilometer, bahkan aku berpikir sepertinya ban motor juga hampir-hampir robek. Jahitannya sudah terlihat menganga. Cukup membosankan padahal keindahan pesisir telah membayarnya tadi. Tapi ternyata ujung jalan telah terlihat pos kecil retribusi dengan antrian kendaraan, berbelok menurun lalu berhenti di pelataran gua Rancang Kencana. Disini petualangan berikutnya berlanjut. Di dalam gua ini menyeruak pohon tua yang menjulang. Memberi kesan mistis namun rindang. Gua yang tak begitu lebar itu hanya sebentar kami nikmati setelah memarkirkan motor. Kami lebih banyak menghabiskan waktu memakan bekal di atas batu-batu kapur yang ditata menyerupai peninggalan masa purba. Gersang memang, namun sesekali sepoi angin menyeka keringat. Panas tak menyurutkan keinginan kami, selepas mengisi perut, langkah kaki semangat kembali berpacu.
Setelah itu kami menelusuri sungai dengan sebuah kapal kelotok yang mana di pinggir sungai itu terdapat air terjun Sri Gethuk yang begitu indah, sebentar kami bermain air dibawah kucuran deras air terjun tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah gunung api purba bernama Nglanggeran melewati jalur pendakian yang cukup sempit karena diapit dinding gunung kapur yang menjulang tinggi, pemberhentian kami ada pada puncak pendakian terendah di gunung tersebut. Sekedar memotret keindahan alam dari atas gunung, lalu kami memutuskan pulang dengan melajukan motor di jalan pulang yang berliku dan mendaki juga menurun itu.
Dari turunan terakhir terlihat pemandangan yang berkerlip. Kami memilih berhenti untuk mengisi perut yang meronta. Tinggal pilih, sederetan warung makan siap melayani dengan ramah. Memilih satu di antaranya, makan malam dengan latar hamparan kerlip lampu kota. Apalagi bulan yang bulat penuh tak terhalang mendung membuat Bukit Hargodumilah atau biasa disebut bukit bintang menjadi tempat yang sempurna untuk mengakhiri petualangan hari ini.
Tak pernah aku membayangkan Gunung Kidul yang gersang, ternyata menyimpan pesona yang luar biasa. Setidaknya aku akan menikmati Bali-Bali kecil di Yogyakarta lagi nantinya, alias lokasi wisata lainnya di Gunung Kidul.

Perjalanan hari ini, melelahkan. Aku dapat mengambil pelajaran berharga. Gunung Kidul ternyata menyimpan keindahan yang tak terbayangkan. Oase di bukit karst yang gersang. Ketenangan, keindahan, dan keramahan yang membuat kami semakin bersyukur atas alam ini. Aku boleh menjadi pendatang. Tapi saat aku di Yogyakarta. Jiwaku harus menyatu dengannya. Itu seakan membuatku belajar akan cinta tanah air, tanah yang kita pijak, Indonesia. Terimakasih kak Kavi, terimakasih Gunung Kidul, terima kasih Yogyakarta, terima kasih Indonesia, dan terima kasih Tuhan Sang Pencipta alam.
Kisah ini dapat dibaca pada buku Buku Wisata Asyik Ala Penulis, Kumpulan Kisah Inspiratif di Lokasi Wisata oleh FAM Jabodetabek.

Senin, 18 Agustus 2014

Karya 2 Dibukukan (Puisi)

Pintaku Pada Pertiwi
 Karya: Faiz Deja Ramadhan
Suatu hari di masa baru,
aku tak mengharap Indonesia menjadi baru, itu rancu.
Indonesia lama adalah jati diri,
kuno, dengan tatanan norma yang terhormat.
Aku tak inginkan Indonesia menjadi kaya,
kaya untuk dimanfaatkan negara lain,
atau bahkan
aku tak ingin Indonesia menjadi pintar,
pintar ?              
Pintar untuk membuat intrik politik, pintar membangun kebodohan bangsa.
Aku tak bicara tentang orang, aku tak bicara tentang mereka. Pemimpin.
Aku berkicau tentang semua. Tentang Indonesia yang mulai lepas dari pelukan pertiwi.
Indonesia,  pada pertiwi pernah aku memohon. Pada Tuhan dan Tuhan yang lain.
Yang maha memiliki pertiwi.
Aku ingin doaku dikabulkan,
aku mengharap ada pemimpin yang diktator wahai pertiwi.
Aku ingin pemimpin yang diktator.........
Pemimpin yang dengan kediktatorannya, berani membunuh para koruptor,
Aku ingin pemimpin yang diktator.........
Pemimpin yang dengan kediktatorannya, serakah menguasai alam Indonesia,
dan enggan membaginya dengan bangsa lain.
Aku ingin pemimpin yang diktator.........
Pemimpin yang dengan kediktatorannya mau mengambil uang rakyat,
lalu membaginya dengan rakyat,
membagi untuk pendidikan,
membagi untuk kesehatan,
membagi untuk kesejahteraan dan pembangunan,
Aku ingin pemimpin yang diktator......... wahai pertwi,
aku bicara padamu,
goyahkanlah, gemparkanlah Indonesia,
lahirkanlah diktator itu untukku, dan untuk mereka Indonesia,
dan bagi mereka-mereka koruptor, atau mafia , yang mati dengan pemimpin yang diktator.
Oh pertiwi... aku berdoa di malam saat kembang api menyala,
Saat Indonesia menghamburkan uang untuk mimpi yang masih angan-angan.
Hadirkan kediktatoran untukmu pertiwi, untuk kami Indonesia.

Puisi ini dapat dibaca pada buku Gantung Saya di Monas terbitan CV Sunrise Yogyakarta.

Kamis, 07 Agustus 2014

Karya 1 Dibukukan (Cerpen)

Gara-Gara Ibu Jari
Karya :  Faiz Deja Ramadhan
           
            Hari itu Selasa, 8 Februari 2011, aku bersama tiga orang temanku mengadakan perjalanan demi melepas beban pikiran sebagai panitia perlombaan akbar yang diselenggarakan SMA kami antar SD, SMP setingkat tiga kabupaten. Namaku Faiz Deja Ramadhan, siswa SMAN 1 Karawang kelas sebelas. Ketiga orang temanku adalah Entri Aprilia, Angga Maulana, dan Fadhilah Octavia mereka bertiga bersedia melakukan perjalanan bersamaku ke Taman Mini Indonesia Indah Jakarta sehari setelah rapat awal koordinasi pelaksanaan perlombaan akbar yang diselenggarakan sekolah kami itu selesai dilaksanakan. Lalu mengapa kami pergi jalan-jalan sebelum menjalankan tugas? Jawabannya hanya satu yaitu ingin konsentrasi kami ke depan fokus sebagai panitia, setelah pikiran tersegarkan dengan perjalanan hari itu.

            Hanya sekali naik bus dari daerah kami di Cikampek, dan memakan waktu perjalanan sekitar dua jam akhirnya sampai di depan pintu gerbang TMII Jakarta. Ketika tiba disana langit di atas TMII sangat mendung mungkin karena tiba di sana masih cukup pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Hal yang dilakukan pertama kali di sana adalah mengunjungi museum bagus dan terdekat dengan pintu gerbang tempat kami masuk tadi yaitu pintu gerbang 1 selatan. Beruntung saat di loket pembelian karcis tadi kami mendapat selembar brosur berisi peta denah TMII sehingga kami tidak akan tersesat.

            Kunjungan pertama adalah Museum of  Indonesia, di sana terdapat  banyak sekali alat-alat kebudayaan asli bangsa Indonesia. Kemudian  selesai melihat keindahan dalam museum kami beristirahat di sebuah pendopo di atas kolam ikan yang ada di samping museum tersebut. Kami di sana menikmati bekal makanan yang dibawa dari rumah sejak tadi pagi.

            Setelah dari Museum of  Indonesia selama seharian penuh kami mengelilingi TMII dengan berjalan kaki dari barat ke timur. Mengunjungi banyak anjungan antara lain, anjungan Sum-Bar, Jambi, Jakarta, Aceh, Sum-Ut juga menonton Film di Teater 4D. Selain itu setelah melaksanakan salat Zuhur di Masjid Pangeran Diponegoro kami sempatkan membeli buah tangan.

            Tujuan terakhir adalah Museum PP IPTEK Graha Widya Patra yang terletak di ujung timur TMII, sangat lelah untuk sampai kesana terlebih lagi kami berjalan kaki namun semua terbayar setelah memasuki museum tersebut dengan kepuasan melihat  alat peraga sains dan teknologi yang belum pernah dilihat sebelumnya.

            Setelah mengunjungi Museum Graha Widya Patra, kami pun pulang. Setelah melihat peta, kami kaget karena mengetahui bahwa harus berjalan sekitar 5 Km lagi ke arah barat dan keluar lewat pintu gerbang di sebelah selatan tempat tadi masuk. Kami bingung mengapa di arah timur tidak ada pintu gerbang? Akhirnya kami pasrah dan berjalan dengan ikhlas hingga 5 Km dari timur ke barat. Lalu beristirahat terlebih dulu dan melaksanakan salat Ashar di masjid Pangeran Diponegoro ketika melewatinya.

Ternyata setelah salat, saya baru menyadari kalau di peta TMII ada pintu gerbang sebelah timur dekat Museum Graha Widya Patra. Tetapi sejak tadi aku tidak melihatnya karena tanda pintu gerbang timur itu tertutup oleh ibu jariku saat memegang peta. Sungguh ironis dan teman-teman menyalahkanku atas kejadian ini. Namun kami rela karena pintu gerbang barat yang kami tapaki 5 Km dari timur kini hanya tinggal 500 meter lagi. Memang lucu dan ini semua hanya gara-gara ibu jari.

           
Nama saya Faiz Deja Ramadhan. Jenis kelamin laki-laki. Saya lahir di Jakarta, 28 Februari 1995. Alamat rumah saya adalah Perumahan Bumi Indah Pesona Blok DE 2 No.12 RT.08 RW.14 Kel. Cikampek Barat, Kec. Cikampek, Kab. Karawang, Jawa Barat. Agama saya Islam. Golongan Darah saya adalah B.  Saya bersekolah di SMA Negeri 1 Karawang. Nomor Handphone saya adalah 087879019066. Akun Facebook saya bernama Faiz Deja Ramadhan sedangkan akun Twitter yaitu @faizdejaramadan dengan alamat e-mail aktif  rfaiz15@yahoo.co.id.

Cerpen ini dapat dibaca pada halaman 10, buku Unforgetable Moments SYUMITY Lovers terbitan AGPublishing Yogyakarta.